Rabu, 22 Juli 2026

Membaca DAS Dumoga Mongondow: Bagaimana Tim Penyusun BPDAS Tondano Membaca Sebuah Banjir?

Analisis Jasa Ekosistem Pengatur Aliran dan Banjir dalam Penyusunan KLHS RPJMD Kabupaten Bolaang Mongondow Tahun 2025–2029

Laporan Analisis Kejadian Banjir yang disusun oleh Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano mengidentifikasi sebanyak 18 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terdampak banjir di wilayah administrasi Kabupaten Bolaang Mongondow dan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara pada 4 Maret 2020. Mengingat luasnya cakupan wilayah tersebut, tulisan ini tidak membahas seluruh DAS yang terdampak, melainkan memfokuskan pembahasan pada DAS Sang Tombolang sebagai salah satu contoh untuk memahami bagaimana karakteristik DAS, kondisi ekologis, dan faktor hidrologi berkontribusi terhadap kejadian banjir.

Dalam membaca suatu kejadian banjir, besarnya curah hujan bukanlah satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan. Kemampuan ekosistem dalam mengatur tata air juga berperan penting dalam menentukan respons suatu DAS terhadap hujan. Untuk melengkapi pembahasan tersebut, tulisan ini menggunakan Peta Jasa Ekosistem Pengatur Aliran dan Banjir yang merupakan bagian dari hasil analisis Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH) dalam penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) RPJMD Kabupaten Bolaang Mongondow Tahun 2025–2029. Peta ini memberikan gambaran mengenai kemampuan relatif setiap wilayah dalam menjalankan fungsi pengaturan aliran air sehingga dapat menjadi informasi pendukung dalam memahami kemampuan ekologis DAS Sang Tombolang dalam merespons hujan.

Gambar 1. Hasil Analisis Jasa Ekosistem Pengatur Aliran dan Banjir Berdasarkan Analisis D3TLH dalam Penyusunan KLHS RPJMD Kabupaten Bolaang Mongondow 2025-2029)

Berdasarkan Peta Jasa Ekosistem Pengatur Aliran dan Banjir, Kecamatan Sang Tombolang menunjukkan variasi kemampuan ekosistem dalam menjalankan fungsi pengaturan tata air. Sebagian besar wilayah berada pada kelas tinggi, sedangkan pada beberapa bagian, terutama yang mengarah ke kawasan pesisir, masih dijumpai area dengan kelas sedang hingga rendah. Variasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan bentang alam dalam mengatur aliran air, meningkatkan infiltrasi, dan menahan limpasan permukaan tidak tersebar secara merata di seluruh wilayah DAS

Kondisi tersebut perlu diinterpretasikan bersama dengan informasi hidrologi dan karakteristik fisik DAS. Pada saat kejadian banjir tanggal 4 Maret 2020, curah hujan harian di DAS Sang Tombolang tercatat sebesar 82,4 mm, yang termasuk dalam kategori hujan lebat. Curah hujan dengan intensitas tersebut berpotensi meningkatkan limpasan permukaan, terutama pada bagian-bagian DAS yang memiliki kemampuan pengaturan aliran air relatif lebih rendah. Informasi mengenai curah hujan ini menjadi salah satu dasar dalam analisis kejadian banjir yang dilakukan oleh Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano.


Gambar 2. Curah Hujan Sebelum kejadian banjir

Berdasarkan hasil analisis, Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano tidak hanya mempertimbangkan faktor curah hujan, tetapi juga menganalisis berbagai karakteristik DAS yang berkontribusi terhadap kejadian banjir. Analisis tersebut menunjukkan bahwa banjir merupakan hasil interaksi antara faktor hidrometeorologi, karakteristik bentang lahan, kondisi tutupan lahan, serta dinamika aliran sungai yang bekerja secara bersamaan. Oleh karena itu, setiap parameter dianalisis secara terpadu untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penyebab terjadinya banjir di DAS Sang Tombolang.



Gambar 3. Sebaran Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dianalisis dalam Laporan Analisis Kejadian Banjir Kabupaten Bolaang Mongondow–Bolaang Mongondow Utara, 4 Maret 2020.

Mengapa menggunakan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai satuan analisis? Karena air tidak mengenal batas administrasi. Air hujan yang jatuh di suatu wilayah akan mengalir mengikuti kondisi topografi, terkumpul melalui anak-anak sungai, kemudian bermuara ke sungai utama dalam satu sistem DAS. Oleh karena itu, ketika menganalisis suatu kejadian banjir, Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano tidak memulai dari batas desa, kecamatan, atau kabupaten, melainkan dari batas alami suatu DAS. Pendekatan ini memungkinkan seluruh proses hidrologi, mulai dari masuknya air hujan, pergerakan aliran permukaan, hingga pelepasannya ke bagian hilir, dianalisis sebagai satu kesatuan sistem.

Gambar 4. Peta Lahan Kritis

Setelah mengetahui lokasi DAS yang terdampak banjir, Tim Penyusun BPDAS Tondano kemudian melihat kondisi lahannya. Salah satu peta yang dianalisis adalah peta lahan kritis. Mengapa lahan kritis penting? Karena kemampuan suatu lahan dalam menerima, menyimpan, dan mengalirkan air sangat dipengaruhi oleh kondisinya. Semakin baik kondisi lahannya, semakin besar pula kemampuannya menjalankan fungsi tersebut. Sebaliknya, lahan yang mengalami degradasi cenderung memiliki kemampuan yang menurun sehingga memerlukan perhatian dalam pengelolaan.

Pada peta ini, Tim Penyusun BPDAS Tondano mengelompokkan kondisi lahan ke dalam lima kelas, yaitu Tidak Kritis, Potensial Kritis, Agak Kritis, Kritis, dan Sangat Kritis. Pengelompokan ini membantu menggambarkan kondisi lahan pada masing-masing DAS sehingga dapat diketahui bagian-bagian yang masih berfungsi dengan baik maupun yang memerlukan upaya rehabilitasi dan pengelolaan lebih lanjut.

Ketika pertama kali melihat peta ini, perhatian pembaca mungkin langsung tertuju pada warna merah atau oranye karena tampak paling mencolok. Namun, peta lahan kritis tidak dibaca hanya berdasarkan dominasi warna tertentu. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana sebaran setiap kelas lahan kritis di dalam suatu DAS serta keterkaitannya dengan bagian hulu, tengah, dan hilir. Sebagai suatu sistem bentang alam, kondisi lahan pada satu bagian DAS dapat memengaruhi respons hidrologi pada bagian lainnya. Oleh karena itu, interpretasi peta dilakukan dengan melihat pola sebaran dan keterhubungan antarwilayah, bukan hanya luas masing-masing kelas.

Apakah semakin luas lahan kritis dalam suatu DAS berarti risiko banjirnya pasti lebih tinggi? 



Gambar 5. Peta Tutupan Lahan

Setelah menganalisis kondisi lahan kritis, Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano melanjutkan kajian dengan mempelajari tutupan lahan pada setiap DAS. Jika peta lahan kritis menggambarkan tingkat kekritisan suatu lahan, maka peta tutupan lahan menunjukkan bagaimana permukaan lahan ditutupi atau dimanfaatkan, baik oleh vegetasi alami maupun oleh aktivitas manusia. Informasi ini penting karena setiap jenis tutupan lahan memiliki karakteristik yang berbeda dalam mengintersepsi curah hujan, meningkatkan infiltrasi, maupun menghasilkan limpasan permukaan.

Pada peta ini terlihat bahwa DAS tidak hanya didominasi oleh kawasan hutan, tetapi juga terdiri atas berbagai jenis tutupan lahan, seperti hutan lahan kering primer dan sekunder, belukar, pertanian lahan kering, sawah, permukiman, serta badan air. Keragaman tersebut mencerminkan bahwa setiap DAS memiliki karakteristik bentang alam yang berbeda, sehingga respons hidrologinya terhadap hujan juga dapat berbeda.

Sebagai ilustrasi, bayangkan hujan dengan intensitas yang sama turun pada dua DAS yang memiliki komposisi tutupan lahan berbeda. DAS yang masih didominasi oleh hutan umumnya memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengintersepsi air hujan dan meningkatkan infiltrasi dibandingkan DAS yang didominasi oleh lahan terbangun atau lahan pertanian intensif. Oleh karena itu, meskipun menerima curah hujan yang sama, besarnya limpasan permukaan yang dihasilkan dapat berbeda. Perbedaan respons inilah yang ingin dipahami oleh Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano melalui analisis tutupan lahan.

Selain menyajikan peta, Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano juga menghitung luas masing-masing jenis tutupan lahan pada setiap DAS. Informasi tersebut menjadi dasar untuk memahami komposisi bentang alam setiap DAS sebelum dianalisis lebih lanjut bersama parameter hidrologi dan karakteristik fisik lainnya.

Gambar 6. Kawasan Hutan dan Tutupan Lahan

Analisis berikutnya yang dilakukan oleh Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano adalah membandingkan fungsi kawasan hutan dengan kondisi tutupan lahannya. Kedua informasi tersebut saling melengkapi karena menggambarkan aspek yang berbeda. Fungsi kawasan hutan menunjukkan status kawasan berdasarkan penetapan pemerintah, sedangkan tutupan lahan menggambarkan kondisi penutupan atau penggunaan lahan yang terdapat pada saat pemetaan dilakukan.

Pada peta ini terlihat bahwa setiap DAS memiliki kombinasi fungsi kawasan yang beragam, meliputi Hutan Lindung (HL), Hutan Produksi Terbatas (HPT), Hutan Produksi Tetap (HP), Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi (HPK), dan Areal Penggunaan Lain (APL). Di dalam masing-masing fungsi kawasan tersebut dijumpai berbagai jenis tutupan lahan, seperti hutan, belukar, pertanian lahan kering, sawah, permukiman, maupun penggunaan lahan lainnya.

Dengan demikian, fungsi kawasan tidak selalu mencerminkan kondisi tutupan lahannya. Sebagai contoh, kawasan yang berstatus Hutan Lindung belum tentu seluruh areanya masih tertutup hutan, sebagaimana kawasan APL juga tidak selalu didominasi oleh lahan terbangun. Oleh karena itu, kedua informasi tersebut perlu dibaca secara bersamaan agar karakteristik setiap DAS dapat dipahami secara lebih utuh.

Untuk memperkuat analisis tersebut, Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano juga menghitung luas setiap jenis tutupan lahan pada masing-masing fungsi kawasan di setiap DAS. Data kuantitatif ini memberikan gambaran mengenai komposisi penggunaan lahan dalam setiap fungsi kawasan, sehingga menjadi salah satu dasar dalam analisis kondisi DAS pada tahapan berikutnya.

Dari Peta Menuju Analisis

Empat peta yang telah dibahas sebelumnya belum secara langsung menjelaskan mengapa banjir atau longsor terjadi. Peta-peta tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi DAS dari berbagai sudut pandang, mulai dari fungsi jasa ekosistem, kondisi lahan, tutupan lahan, hingga fungsi kawasan hutan. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif, Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano mengintegrasikan seluruh informasi tersebut dengan data hidrologi, karakteristik fisik DAS, serta hasil verifikasi lapangan.

Agar lebih mudah dipahami, pembahasan berikut menggunakan DA Sang Tombolang Barat sebagai contoh bagaimana proses analisis tersebut dilakukan. Dalam menganalisis suatu DAS, Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano tidak hanya berfokus pada satu parameter, tetapi mengevaluasi berbagai faktor yang saling berinteraksi, meliputi:

  • kondisi sungai;
  • karakteristik DAS;
  • curah hujan;
  • topografi;
  • aktivitas manusia; dan
  • penggunaan lahan.

Seluruh informasi tersebut kemudian dianalisis secara terpadu untuk memahami bagaimana masing-masing faktor berkontribusi terhadap terjadinya banjir di DAS Sang Tombolang.

Kondisi Sungai

Analisis dimulai dari kondisi sungai. Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano membandingkan kapasitas pengaliran sungai dengan debit banjir yang terjadi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kapasitas pengaliran Sungai Sang Tombolang sebesar 3,53 m³/detik, sedangkan debit banjir mencapai 15,46 m³/detik. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa debit banjir telah melampaui kapasitas sungai dalam mengalirkan air, sehingga berpotensi menyebabkan luapan ke wilayah di sekitarnya.

Salah satu parameter yang turut dianalisis adalah koefisien limpasan (C) dengan nilai rata-rata 0,41. Secara sederhana, koefisien ini menunjukkan proporsi air hujan yang menjadi aliran permukaan dibandingkan dengan air yang meresap ke dalam tanah. Semakin besar nilainya, semakin besar pula volume air yang mengalir menuju sungai dalam waktu yang relatif singkat

Bayangkan sungai seperti sebuah jalan raya. Jalan yang kapasitasnya memadai dapat menampung arus kendaraan dengan lancar. Namun, ketika jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan, kemacetan tidak dapat dihindari. Sungai bekerja dengan prinsip yang serupa. Apabila debit aliran yang masuk melebihi kapasitas pengaliran sungai, sebagian air akan meluap keluar dari badan sungai dan menggenangi wilayah di sekitarnya.

Karakteristik DAS

Selain kondisi sungai, Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano juga mengevaluasi karakteristik fisik DAS. Beberapa parameter yang dianalisis meliputi topografi, bentuk Sub DAS, tekstur tanah, serta karakteristik hujan yang telah dibahas pada bagian sebelumnya.

Topografi

Topografi DAS Sang Tombolang didominasi lereng yang curam. Kondisi ini menyebabkan air hujan mengalir lebih cepat menuju alur sungai sehingga waktu konsentrasi aliran menjadi lebih singkat. Selain meningkatkan potensi limpasan permukaan, kondisi lereng yang curam juga berkontribusi terhadap kerawanan longsor sebagaimana ditunjukkan dalam hasil analisis BPDAS.

Bentuk Sub DAS

Selain topografi, Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano juga menganalisis bentuk Sub DAS. Hasil analisis menunjukkan bahwa DAS Sang Tombolang memiliki bentuk yang cenderung membulat. Dalam hidrologi, bentuk DAS memengaruhi pola konsentrasi aliran. Pada DAS yang relatif membulat, aliran dari berbagai bagian DAS cenderung mencapai sungai utama dalam rentang waktu yang hampir bersamaan sehingga debit puncak dapat meningkat dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan DAS yang memanjang. Oleh karena itu, bentuk DAS menjadi salah satu parameter yang dipertimbangkan dalam memahami respons DAS terhadap kejadian hujan lebat.

Tekstur Tanah

Karakteristik tanah juga menjadi bagian dari analisis. Berdasarkan hasil kajian, tekstur tanah di lokasi didominasi oleh tekstur halus. Jenis tanah seperti ini umumnya memiliki kemampuan meloloskan air yang lebih rendah dibandingkan tanah bertekstur kasar. Dalam kondisi hujan berintensitas tinggi, sebagian air hujan berpotensi menjadi aliran permukaan apabila kapasitas infiltrasi tanah telah terlampaui. Oleh karena itu, tekstur tanah merupakan salah satu faktor yang turut memengaruhi respons hidrologi DAS.

Faktor Manusia

Selain karakteristik fisik DAS, Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano juga mengevaluasi pengaruh aktivitas manusia terhadap kondisi DAS Sang Tombolang. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat bentuk pemanfaatan lahan atau upaya pengelolaan DAS yang dapat memengaruhi respons wilayah terhadap kejadian hujan.

Berdasarkan hasil analisis, aktivitas penggunaan lahan di DAS Sang Tombolang didominasi oleh kawasan perkebunan, sedangkan aktivitas pertambangan, HPH/HTI, maupun program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) belum teridentifikasi pada lokasi yang dianalisis. Selain itu, dokumen Rencana Pengelolaan DAS Terpadu (RPDAST) juga belum tersedia sebagai acuan pengelolaan DAS.

Temuan tersebut tidak secara langsung menunjukkan bahwa aktivitas manusia menjadi penyebab utama banjir atau longsor. Namun, informasi ini memberikan gambaran mengenai kondisi pengelolaan DAS pada saat analisis dilakukan dan menjadi salah satu aspek yang dipertimbangkan bersama faktor-faktor alam dalam memahami penyebab kejadian bencana.

Drainase

Selain kondisi penggunaan lahan, Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano juga mengevaluasi kondisi drainase sebagai salah satu faktor yang memengaruhi respons DAS terhadap kejadian hujan. Drainase berperan dalam mengalirkan air dari suatu wilayah menuju saluran atau sungai sehingga genangan dapat berkurang dan aliran air berlangsung lebih lancar.

Berdasarkan hasil analisis, kondisi drainase di DAS Sang Tombolang dikategorikan buruk. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pengaliran air belum berfungsi secara optimal sehingga berpotensi memperlambat pembuangan air dari suatu kawasan. Pada saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi, kondisi drainase yang kurang baik dapat menyebabkan air bertahan lebih lama di permukaan sebelum akhirnya mengalir ke sungai.

Oleh karena itu, kondisi drainase menjadi salah satu parameter yang dipertimbangkan oleh Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano dalam membaca kejadian banjir maupun longsor. Meskipun bukan merupakan satu-satunya penyebab, kondisi drainase yang kurang baik dapat memperbesar dampak apabila terjadi bersamaan dengan faktor lain, seperti curah hujan lebat, topografi yang curam, serta karakteristik fisik DAS.

Menyusun Potongan Puzzle Menjadi Satu Gambaran

Setelah menganalisis berbagai parameter, mulai dari kondisi ekosistem, curah hujan, karakteristik DAS, kondisi sungai, hingga aktivitas manusia, Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano tidak langsung menyimpulkan penyebab banjir hanya dari satu faktor. Sebaliknya, seluruh informasi tersebut disusun layaknya potongan-potongan puzzle yang saling melengkapi sehingga membentuk gambaran utuh mengenai kondisi DAS Sang Tombolang.

Curah hujan harian sebesar 82,4 mm yang tergolong hujan lebat menjadi pemicu awal meningkatnya aliran air di dalam DAS. Namun, besarnya hujan saja belum cukup untuk menjelaskan mengapa banjir dapat terjadi. Air hujan kemudian berinteraksi dengan karakteristik fisik DAS, seperti topografi yang curam, bentuk DAS, tekstur tanah, serta kemampuan ekosistem dalam mengatur aliran air.

Pada saat yang sama, hasil analisis menunjukkan bahwa kapasitas pengaliran sungai hanya sebesar 3,53 m³/detik, sedangkan debit banjir mencapai 15,46 m³/detik. Ketika jumlah air yang mengalir jauh melebihi kemampuan sungai untuk menampungnya, maka potensi air meluap ke wilayah sekitarnya menjadi semakin besar. Kondisi drainase yang kurang baik juga dapat memperlambat pengaliran air dari daratan menuju sungai sehingga memperbesar dampak yang ditimbulkan.

Di sisi lain, informasi mengenai penggunaan lahan, kondisi kawasan hutan, serta aktivitas manusia memberikan gambaran mengenai bagaimana DAS dikelola. Seluruh parameter tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling memengaruhi dalam menentukan respons DAS terhadap suatu kejadian hujan. Dengan demikian, membaca sebuah banjir tidak cukup hanya melihat seberapa deras hujan yang turun atau seberapa besar sungainya. Banjir merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang bekerja secara bersamaan. Inilah pendekatan yang digunakan oleh Tim Penyusun BPDAS dan Hutan Lindung Tondano dalam memahami kejadian banjir di DAS Sang Tombolang.

Refleksi : Ketika Analisis Bertemu Kewenangan

Bagi saya pribadi, setelah membaca laporan analisis BPDAS dan HL Tondano serta  berbagai dokumen perencanaan daerah, masih tersisa satu pertanyaan yang menarik: bagaimana hasil analisis tersebut telah diterjemahkan menjadi tindakan nyata di lapangan?

Dalam RPJMD Kabupaten Bolaang Mongondow 2025-2029, isu pengelolaan DAS telah diakomodasi melalui arah kerja sama antardaerah, antara lain pada bidang pelestarian hutan, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) yang melintasi beberapa wilayah kabupaten, pertambangan, serta penanganan bencana bersama. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah telah menyadari pengelolaan DAS merupakan isu lintas wilayah dan lintas kewenangan yang memerlukan kolaborasi.

Namun demikian, dokumen perencanaan tersebut belum menguraikan secara rinci bentuk implementasi maupun capaian dari kerja sama tersebut. Oleh karena itu, ruang pertanyaan mengenai bagaimana rekomendasi teknis hasil analisis DAS diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan masih terbuka untuk terus dikaji.

Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika melihat bahwa sebagian besar kawasan terdampak berada pada Areal Penggunaan Lain (APL) seluas 196,70 hektare, sedangkan kawasan Hutan Lindung (HL) yang terdampak hanya sekitar 8,56 hektare. Gambaran tersebut mengingatkan bahwa pengelolaan DAS tidak dapat hanya dibebankan kepada pengelola kawasan hutan. Sebagian besar wilayah yang memerlukan perhatian justru berada pada kawasan dengan kewenangan dan pengelolaan yang berbeda.

Pada akhirnya, mungkin inilah tantangan terbesar dalam pengelolaan DAS. Menyusun analisis ilmiah adalah langkah awal, tetapi menerjemahkannya menjadi program, kolaborasi, dan tindakan nyata merupakan pekerjaan yang jauh lebih kompleks. Sebab, banjir tidak mengenal batas administrasi, sehingga upaya mengurangi risikonya pun memerlukan kerja sama yang melampaui batas-batas kewenangan.

Laporan analisis mungkin telah selesai ditulis, tetapi sesungguhnya pekerjaan sesungguhnya baru dimulai ketika hasil analisis itu diterjemahkan menjadi tindakan di lapangan.

 

Lolak, 22 Juli 2026

 

         DM





Tidak ada komentar:

Posting Komentar