Minggu, 19 Juli 2026

Membaca Wajah Bencana Kabupaten Bolaang Mongondow (Bagian 2) "Ketika Dua Peta Menceritakan Kisah yang Sama"


 Kegiatan lapangan di kawasan hulu Desa Muntoi Kecamatan Passi Barat Kabupaten Bolaang Mongondow, 17 Juni 2025 pada ketinggian > 850 m dpl. Saat itu saya belum menyadari bahwa bentang alam yang saya lihat akan membawa saya pada pertanyaan-pertanyaan tentang hubungan antara hulu, hilir, fungsi ekosistem, dan berbagai kejadian bencana yang kemudian terjadi di wilayah ini

Beberapa waktu setelah kegiatan lapangan ini, saat saya kembali membuka Google Earth dari sana saya menyadari bahwa lokasi tempat saya berdiri berada di kawasan hulu dari bentang alam yang sama dengan Desa Muntoi Kecamatan Passi Barat Kabupaten Bolaang Mongondow. Beberapa bulan kemudian, BPBD mencatat jalan amblas di desa tersebut. Tidak lama setelah itu, banjir bandang juga melanda Muntoi, Lobong, dan Poigar. Rangkaian peristiwa itu tidak serta-merta menjelaskan hubungan sebab-akibat. Namun, peristiwa tersebut membuat saya bertanya : apakah selama ini kita terlalu sering melihat bencana hanya dari titik kejadiannya, padahal bentang alam yang memengaruhinya jauh lebih luas?

Pertanyaan itulah yang membawa saya membuka dua peta yang selama ini jarang dibaca secara bersamaan. Sekilas keduanya tampak berbeda. Satu disusun oleh BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow untuk menggambarkan risiko bencana, sementara yang lain merupakan hasil analisis jasa ekosistem pengatur mitigasi banjir dalam proses penyusunan Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH). Namun ketika keduanya diletakkan berdampingan, saya merasa keduanya sedang menceritakan kisah yang sama.

Pada tulisan sebelumnya saya mengajak pembaca melihat wajah bencana di Kabupaten Bolaang Mongondow melalui data kejadian yang dihimpun oleh BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow. Dari data tersebut terlihat bahwa banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya masih menjadi peristiwa yang terus berulang di berbagai wilayah. Namun pertanyaan saya belum terjawab. Mengapa banjir terus berulang?

Untuk mencoba memahami pertanyaan tersebut, saya membuka dua peta yang berasal dari dua pendekatan yang berbeda.

Peta pertama adalah Peta Multi Risiko Bencana yang disusun oleh BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow dalam Dokumen Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) 2025-2029.

Peta kedua adalah Peta Jasa Ekosistem Pengatur Mitigasi Banjir, yaitu salah satu hasil analisis dalam proses penyusunan Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH) yang menjadi bagian dari tahapan penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH). Sekilas kedua peta tersebut tampak membahas hal yang sama, yaitu banjir. Namun setelah saya amati lebih lama, saya menyadari bahwa keduanya sebenarnya sedang menceritakan dua sisi dari persoalan yang sama.

Peta Pertama : Di Mana Risiko Bencana Berada?

Gambar 1. Peta Multi Risiko Bencana Kabupaten Bolaang Mongondow

(Sumber: RPB Kabupaten Bolaang Mongondow 2025–2029).


Peta Multi Risiko Bencana menggambarkan wilayah yang memiliki tingkat risiko terhadap berbagai jenis bencana.

Artinya, peta ini membantu kita mengetahui daerah-daerah yang memerlukan perhatian lebih dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana.

Dengan melihat peta tersebut, kita dapat memperoleh gambaran wilayah mana yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibanding wilayah lainnya. Tetapi peta ini belum menjawab satu pertanyaan penting.

Mengapa wilayah tersebut memiliki risiko yang lebih tinggi ?

Peta Kedua : Apa yang Dilakukan Alam untuk Melindungi Kita?

Gambar 2. Peta hasil analisis jasa ekosistem pengatur mitigasi banjir dalam proses analisis D3TLH. Peta ini menggambarkan kemampuan ekosistem dalam membantu mengurangi risiko banjir.


Pertanyaan itulah yang membawa saya membuka peta berikutnya. Peta ini bukan menunjukkan lokasi banjir. Peta ini juga bukan menunjukkan jumlah kejadian bencana. Sebaliknya, peta ini menggambarkan kemampuan ekosistem dalam membantu mengurangi risiko banjir.

Hutan, kawasan resapan air, vegetasi, dan bentang alam tertentu memiliki kemampuan alami menyerap air hujan, memperlambat aliran permukaan, serta mengurangi besarnya air yang mengalir menuju sungai.

Dalam ilmu lingkungan, fungsi tersebut dikenal sebagai jasa ekosistem pengatur mitigasi banjir. Semakin baik kondisi ekosistemnya, semakin besar pula kemampuannya membantu mengurangi potensi banjir.

Dua Peta, Dua Cara Membaca

Saat kedua peta tersebut saya lihat secara berdampingan, saya justru merasa keduanya sedang saling melengkapi. Peta BPBD membantu kita memahami risiko bencana.

Sedangkan peta hasil analisis D3TLH membantu kita memahami bagaimana kondisi lingkungan berperan dalam mengurangi ataupun meningkatkan risiko tersebut.

Dengan kata lain, satu peta menunjukkan apa yang kita hadapi, sementara peta lainnya membantu kita memahami mengapa kondisi tersebut dapat terjadi.

Bagi saya, keduanya seperti membaca sebuah buku dari dua bab yang berbeda.

Bab pertama bercerita tentang kejadian bencana.

Bab kedua mulai menjelaskan kondisi lingkungan yang menjadi latar belakangnya.

Baru ketika kedua bab itu dibaca bersama, ceritanya menjadi lebih utuh

Membaca Peta dengan Cara yang Berbeda

Selama ini peta sering dianggap hanya sebagai gambar yang penuh warna. Padahal setiap warna menyimpan informasi.

Warna hijau pada peta jasa ekosistem menunjukkan kawasan yang memiliki kemampuan relatif lebih baik dalam membantu mengatur tata air dan mengurangi risiko banjir.

Sebaliknya, wilayah dengan kemampuan jasa ekosistem yang lebih rendah menjadi pengingat bahwa fungsi alami bentang alam dalam mengurangi banjir mungkin sudah tidak sekuat sebelumnya atau memang secara alami memiliki kemampuan yang lebih terbatas.

Tentu saja, peta ini bukan berarti wilayah berwarna hijau pasti bebas banjir atau wilayah berwarna merah pasti akan mengalami banjir. Karena banjir dipengaruhi oleh banyak faktor lain, mulai dari curah hujan, kondisi sungai, tata ruang, drainase, hingga aktivitas manusia.

Namun peta ini memberikan satu sudut pandang yang selama ini jarang kita lihat.


Bentang alam sungai di Perkebunan Monsi 28 Januari 2026. Foto ini memperlihatkan perubahan morfologi sungai akibat aktivitas yang berlangsung di kawasan tersebut. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat dengan kejadian banjir, tetapi sebagai pengingat bahwa setiap perubahan bentang alam perlu dipahami bersama dengan fungsi ekologis kawasan di sekitarnya.
Sebuah Pelajaran

Semakin lama saya membaca kedua peta tersebut, saya semakin menyadari bahwa memahami banjir ternyata tidak cukup hanya melihat data kejadian. Alam ternyata memiliki cara kerjanya sendiri. Kita juga perlu memahami :

Bagaimana bentang alam bekerja;

Bagaimana hutan menyimpan air;

Bagaimana lereng mempercepat aliran;

Bagaimana sungai menerima limpasan dari daerah di sekitarnya;

Dan bagaimana perubahan yang terjadi di satu tempat dapat memengaruhi wilayah lain.

Mungkin inilah mengapa banjir tidak pernah bisa dijelaskan hanya dengan satu penyebab. Ia merupakan hasil dari hubungan yang sangat kompleks antara alam dan aktivitas manusia.

Mengapa Tidak Semua Kawasan Memiliki Fungsi yang Sama?

Peta jasa ekosistem membuat saya kembali melihat peta fungsi kawasan Kabupaten Bolaang Mongondow. Ternyata tidak semua kawasan memang dirancang untuk memiliki fungsi yang sama. Banyak orang menganggap kawasan hutan hanyalah kumpulan pohon. Padahal, setiap kawasan memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan karakteristik dan tujuan pengelolaannya.

Dalam proses analisis Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH), pembagian fungsi kawasan menjadi salah satu informasi penting untuk memahami bagaimana bentang alam bekerja.

Sebagai contoh, Hutan Lindung berfungsi menjaga tata air, mengurangi erosi, dan membantu mencegah banjir maupun longsor. Taman Nasional berperan melindungi ekosistem alami, keanekaragaman hayati, serta proses-proses ekologis yang berlangsung di dalamnya. Sementara itu, Hutan Produksi diperuntukkan bagi pemanfaatan hasil hutan secara lestari sesuai dengan fungsi dan ketentuan yang berlaku.

Di luar kawasan hutan terdapat Area Penggunaan Lain (APL), yaitu wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti permukiman, pertanian, perkebunan, infrastruktur, maupun aktivitas pembangunan lainnya sesuai rencana tata ruang.

Melalui pembagian fungsi tersebut, sebenarnya kita dapat memahami bahwa bentang alam Kabupaten Bolaang Mongondow bukanlah ruang kosong yang dapat dimanfaatkan dengan cara yang sama di setiap tempat. Setiap kawasan memiliki peran yang berbeda dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat banyak membicarakan aktivitas pertambangan emas di kawasan Taman Nasional. Tulisan ini belum membahas persoalan tersebut dari aspek hukum maupun penegakan aturan. Namun, sebelum sampai pada pembahasan itu, menurut saya ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting.

Mengapa kawasan tersebut sejak awal ditetapkan sebagai Taman Nasional?

Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan membantu kita memahami bahwa setiap perubahan pada kawasan yang memiliki fungsi ekologis penting berpotensi memengaruhi jasa ekosistem yang selama ini kita nikmati, termasuk dalam mengatur tata air dan mengurangi risiko banjir.

Mungkin inilah pelajaran pertama yang saya dapatkan dari dua peta tersebut. Sebelum kita memperdebatkan bagaimana suatu kawasan dimanfaatkan, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu mengapa kawasan itu ada dan fungsi apa yang sebenarnya sedang dijaganya.

Semakin lama saya membaca kedua peta tersebut, saya semakin menyadari bahwa memahami banjir ternyata tidak cukup hanya melihat data kejadian. Kita juga perlu membaca perubahan bentang alam yang terjadi dari waktu ke waktu. Karena setiap perubahan, sekecil apa pun, berpotensi memengaruhi cara alam menjalankan fungsinya.

Karena bisa jadi, yang selama ini belum kita pahami bukanlah bencananya, melainkan cara alam sebenarnya bekerja. Dan mungkin, di situlah perjalanan membaca lingkungan sebenarnya baru dimulai.



Sinindian 19 Juli 2026

  

         DM


Tidak ada komentar:

Posting Komentar