Beberapa waktu setelah kegiatan lapangan ini, saat saya kembali membuka Google Earth dari sana saya menyadari bahwa lokasi tempat saya berdiri berada di kawasan hulu dari bentang alam yang sama dengan Desa Muntoi Kecamatan Passi Barat Kabupaten Bolaang Mongondow. Beberapa bulan kemudian, BPBD mencatat jalan amblas di desa tersebut. Tidak lama setelah itu, banjir bandang juga melanda Muntoi, Lobong, dan Poigar. Rangkaian peristiwa itu tidak serta-merta menjelaskan hubungan sebab-akibat. Namun, peristiwa tersebut membuat saya bertanya : apakah selama ini kita terlalu sering melihat bencana hanya dari titik kejadiannya, padahal bentang alam yang memengaruhinya jauh lebih luas?
Pertanyaan itulah yang membawa saya membuka dua peta yang selama ini jarang dibaca secara bersamaan. Sekilas keduanya tampak berbeda. Satu disusun oleh BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow untuk menggambarkan risiko bencana, sementara yang lain merupakan hasil analisis jasa ekosistem pengatur mitigasi banjir dalam proses penyusunan Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH). Namun ketika keduanya diletakkan berdampingan, saya merasa keduanya sedang menceritakan kisah yang sama.
Pada tulisan sebelumnya saya mengajak pembaca melihat wajah bencana di Kabupaten Bolaang Mongondow melalui data kejadian yang dihimpun oleh BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow. Dari data tersebut terlihat bahwa banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya masih menjadi peristiwa yang terus berulang di berbagai wilayah. Namun pertanyaan saya belum terjawab. Mengapa banjir terus berulang?
Untuk mencoba memahami
pertanyaan tersebut, saya membuka dua peta yang berasal dari dua pendekatan
yang berbeda.
Peta pertama adalah Peta
Multi Risiko Bencana yang disusun oleh BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow dalam
Dokumen Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) 2025-2029.
Peta kedua adalah Peta Jasa Ekosistem Pengatur Mitigasi Banjir, yaitu salah satu hasil analisis dalam proses penyusunan Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH) yang menjadi bagian dari tahapan penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH). Sekilas kedua peta tersebut tampak membahas hal yang sama, yaitu banjir. Namun setelah saya amati lebih lama, saya menyadari bahwa keduanya sebenarnya sedang menceritakan dua sisi dari persoalan yang sama.
Peta Pertama : Di Mana
Risiko Bencana Berada?
Gambar 1. Peta Multi Risiko Bencana Kabupaten Bolaang
Mongondow
(Sumber: RPB Kabupaten Bolaang Mongondow 2025–2029).
Peta Multi Risiko Bencana
menggambarkan wilayah yang memiliki tingkat risiko terhadap berbagai jenis
bencana.
Artinya, peta ini
membantu kita mengetahui daerah-daerah yang memerlukan perhatian lebih dalam
upaya mitigasi dan penanggulangan bencana.
Dengan melihat peta
tersebut, kita dapat memperoleh gambaran wilayah mana yang memiliki tingkat
risiko lebih tinggi dibanding wilayah lainnya. Tetapi peta ini belum menjawab
satu pertanyaan penting.
Mengapa wilayah tersebut memiliki risiko yang lebih tinggi ?
Peta Kedua : Apa yang
Dilakukan Alam untuk Melindungi Kita?
Gambar 2. Peta hasil analisis jasa ekosistem pengatur
mitigasi banjir dalam proses analisis D3TLH. Peta ini menggambarkan kemampuan
ekosistem dalam membantu mengurangi risiko banjir.
Pertanyaan itulah yang
membawa saya membuka peta berikutnya. Peta ini bukan menunjukkan lokasi banjir.
Peta ini juga bukan menunjukkan jumlah kejadian bencana. Sebaliknya, peta ini
menggambarkan kemampuan ekosistem dalam membantu mengurangi risiko banjir.
Hutan, kawasan resapan
air, vegetasi, dan bentang alam tertentu memiliki kemampuan alami menyerap air
hujan, memperlambat aliran permukaan, serta mengurangi besarnya air yang
mengalir menuju sungai.
Dalam ilmu lingkungan,
fungsi tersebut dikenal sebagai jasa ekosistem pengatur mitigasi banjir. Semakin
baik kondisi ekosistemnya, semakin besar pula kemampuannya membantu mengurangi
potensi banjir.
Dua Peta, Dua Cara
Membaca
Saat kedua peta tersebut
saya lihat secara berdampingan, saya justru merasa keduanya sedang saling
melengkapi. Peta BPBD membantu kita memahami risiko bencana.
Sedangkan peta hasil
analisis D3TLH membantu kita memahami bagaimana kondisi lingkungan berperan
dalam mengurangi ataupun meningkatkan risiko tersebut.
Dengan kata lain, satu
peta menunjukkan apa yang kita hadapi, sementara peta lainnya membantu kita
memahami mengapa kondisi tersebut dapat terjadi.
Bagi saya, keduanya
seperti membaca sebuah buku dari dua bab yang berbeda.
Bab pertama bercerita
tentang kejadian bencana.
Bab kedua mulai
menjelaskan kondisi lingkungan yang menjadi latar belakangnya.
Baru ketika kedua bab itu dibaca bersama, ceritanya menjadi lebih utuh
Membaca Peta dengan
Cara yang Berbeda
Selama ini peta sering
dianggap hanya sebagai gambar yang penuh warna. Padahal setiap warna menyimpan
informasi.
Warna hijau pada peta
jasa ekosistem menunjukkan kawasan yang memiliki kemampuan relatif lebih baik
dalam membantu mengatur tata air dan mengurangi risiko banjir.
Sebaliknya, wilayah
dengan kemampuan jasa ekosistem yang lebih rendah menjadi pengingat bahwa
fungsi alami bentang alam dalam mengurangi banjir mungkin sudah tidak sekuat
sebelumnya atau memang secara alami memiliki kemampuan yang lebih terbatas.
Tentu saja, peta ini
bukan berarti wilayah berwarna hijau pasti bebas banjir atau wilayah berwarna
merah pasti akan mengalami banjir. Karena banjir dipengaruhi oleh banyak faktor
lain, mulai dari curah hujan, kondisi sungai, tata ruang, drainase, hingga
aktivitas manusia.
Namun peta ini memberikan
satu sudut pandang yang selama ini jarang kita lihat.
Semakin lama saya membaca
kedua peta tersebut, saya semakin menyadari bahwa memahami banjir ternyata
tidak cukup hanya melihat data kejadian. Alam ternyata memiliki cara kerjanya
sendiri. Kita juga perlu memahami :
Bagaimana bentang alam
bekerja;
Bagaimana hutan menyimpan
air;
Bagaimana lereng
mempercepat aliran;
Bagaimana sungai menerima
limpasan dari daerah di sekitarnya;
Dan bagaimana perubahan
yang terjadi di satu tempat dapat memengaruhi wilayah lain.
Mungkin inilah mengapa
banjir tidak pernah bisa dijelaskan hanya dengan satu penyebab. Ia merupakan
hasil dari hubungan yang sangat kompleks antara alam dan aktivitas manusia.
Mengapa Tidak Semua Kawasan Memiliki Fungsi yang Sama?
Peta jasa ekosistem
membuat saya kembali melihat peta fungsi kawasan Kabupaten Bolaang Mongondow.
Ternyata tidak semua kawasan memang dirancang untuk memiliki fungsi yang sama. Banyak
orang menganggap kawasan hutan hanyalah kumpulan pohon. Padahal, setiap kawasan
memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan karakteristik dan tujuan
pengelolaannya.
Dalam proses analisis
Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH), pembagian fungsi kawasan
menjadi salah satu informasi penting untuk memahami bagaimana bentang alam
bekerja.
Sebagai contoh, Hutan
Lindung berfungsi menjaga tata air, mengurangi erosi, dan membantu mencegah
banjir maupun longsor. Taman Nasional berperan melindungi ekosistem
alami, keanekaragaman hayati, serta proses-proses ekologis yang berlangsung di
dalamnya. Sementara itu, Hutan Produksi diperuntukkan bagi pemanfaatan
hasil hutan secara lestari sesuai dengan fungsi dan ketentuan yang berlaku.
Di luar kawasan hutan
terdapat Area Penggunaan Lain (APL), yaitu wilayah yang dapat
dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti permukiman, pertanian, perkebunan,
infrastruktur, maupun aktivitas pembangunan lainnya sesuai rencana tata ruang.
Melalui pembagian fungsi
tersebut, sebenarnya kita dapat memahami bahwa bentang alam Kabupaten Bolaang
Mongondow bukanlah ruang kosong yang dapat dimanfaatkan dengan cara yang sama
di setiap tempat. Setiap kawasan memiliki peran yang berbeda dalam menjaga
keseimbangan lingkungan.
Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat banyak membicarakan aktivitas pertambangan emas di kawasan Taman Nasional. Tulisan ini belum membahas persoalan tersebut dari aspek hukum maupun penegakan aturan. Namun, sebelum sampai pada pembahasan itu, menurut saya ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting.
Mengapa kawasan
tersebut sejak awal ditetapkan sebagai Taman Nasional?
Jawaban atas pertanyaan
inilah yang akan membantu kita memahami bahwa setiap perubahan pada kawasan
yang memiliki fungsi ekologis penting berpotensi memengaruhi jasa ekosistem
yang selama ini kita nikmati, termasuk dalam mengatur tata air dan mengurangi risiko
banjir.
Mungkin inilah pelajaran
pertama yang saya dapatkan dari dua peta tersebut. Sebelum kita memperdebatkan
bagaimana suatu kawasan dimanfaatkan, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu
mengapa kawasan itu ada dan fungsi apa yang sebenarnya sedang dijaganya.
Semakin lama saya membaca
kedua peta tersebut, saya semakin menyadari bahwa memahami banjir ternyata
tidak cukup hanya melihat data kejadian. Kita juga perlu membaca perubahan
bentang alam yang terjadi dari waktu ke waktu. Karena setiap perubahan, sekecil
apa pun, berpotensi memengaruhi cara alam menjalankan fungsinya.
Karena
bisa jadi, yang selama ini belum kita pahami bukanlah bencananya, melainkan
cara alam sebenarnya bekerja. Dan mungkin, di situlah perjalanan membaca
lingkungan sebenarnya baru dimulai.
Sinindian 19 Juli 2026
DM




Tidak ada komentar:
Posting Komentar