Belakangan ini saya baru
menyadari sesuatu, beberapa tulisan saya akhir-akhir ini sudah sama seperti
laporan kantor atau lagi menyusun dokumen KLHS dan sejenisnya. Mungkin karena
terlalu sering berhadapan dengan data, peta, angka, dokumen, dan berbagai
istilah lingkungan hidup, begitu duduk di depan laptop, otomatis yang keluar
malah bahasa yang rapi, sistematis, dan kadang-kadang... kaku. Padahal awal
saya menulis di blog ini bukan begitu. Saya cuma ingin bercerita tentang apa
yang saya lihat, apa yang membuat saya penasaran, lalu mencoba mencari tahu
jawabannya dari data yang saya punya, dengan harapan jika saya butuh data itu
nanti tinggal dibaca lagi apa yang saya tulis. Jadi kali ini saya mau kembali
santai sedikit yak…
Rabu 5 Agustus 2026 saya
kembali turun ke lokasi PETI. Sebelumnya senin 20 Juli saya ikut bersama tim
Penegakan Hukum Kementerian ESDM yang melakukan operasi di salah satu lokasi
PETI yang berada di wilayah Kecamatan Dumoga. Waktu itu tidak banyak energi dan
tenaga yang terbuang karena posisi saya lebih banyak melihat dan belajar
bagaimana tim melakukan tata cara pulbaket dan penanganan barang bukti.
Setelah melihat-lihat foto-foto di galeri ponsel, ternyata kunjungan saya sebelumnya ke lokasi PETI adalah jumat 19 Juni 2026, masih di wilayah Dumoga. Berarti ada jeda sekitar satu bulan sebelum saya turun kembali ke lokasi PETI, dan ternyata saya termasuk PNS yang paling sering turun ke lokasi PETI. Alasannya banyak. Salah satunya adalah alasan yang ingin saya ceritakan di blog ini.
Salah satu alasannya mungkin sejak dulu saya memang suka naik gunung dan berjalan di alam. Saya pertama kali naik gunung waktu kelas 6 SD, sekitar tahun 1988 ke Gunung Ambang yang sekarang berada di wilayah administrasi Kabupaten Bolaang Mongondow dan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Kesukaan itu ternyata tidak berhenti di masa sekolah, berlanjut hingga kuliah sampai sekarang. Ada kepuasan tersendiri Ketika saya berhasil melewati tanjakan-tanjakan yang kadang bikin napas ngos-ngosan, kemudian sampai di atas dan bisa melihat alam dari sudut yang berbeda. Mungkin itu cara saya menyapa alam. Dengan kaki, dengan napas, dan dengan rasa penasaran saya sendiri 😊.
Saya sebenarnya sudah lama mengenal peta, sudah lama membaca ekoregion, dan sudah lama juga berhadapan dengan data D3TLH dalam pekerjaan. Beberapa di antaranya bahkan sudah pernah saya tulis di blog ini, meskipun saya sadar bahasanya cukup teknis dan mungkin tidak semuanya mudah dipahami pembaca. Saya paham apa yang sedang saya lihat di dalam peta-peta itu. Tetapi belakangan, setelah sering berdiskusi tentang peta-peta tersebut, saya seperti menemukan cara lain untuk membacanya. Awalnya mungkin hanya pertanyaan-pertanyaan sederhana : “Kalau peta ini dibandingkan dengan peta yang itu, apa yang bisa kita lihat?”, “Kalau wilayah ini berada pada ekoregion tertentu, apa hubungannya dengan kondisi yang saya lihat di lapangan?”, “Kalau di peta terlihat seperti ini, apa yang sebenarnya sedang terjadi di bentang alamnya?”
Yang saya suka, saya bisa bertanya dari hal paling dasar sekalipun, lalu mendapatkan penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah saya pahami. Bukan berarti saya sebelumnya tidak memahami petanya, tetapi setelah berdiskusi, hubungan antara satu informasi dengan informasi lainnya menjadi terasa lebih jelas. Dari situ saya mulai melihat data dan peta bukan lagi sekadar gambar atau dokumen yang harus dibaca karena pekerjaan, tetapi sesuatu yang ternyata bisa bercerita tentang tempat yang sedang saya pijak. Dan mungkin karena itu pula saya mulai ingin membagikannya.
Kalau saya yang setiap hari berhadapan dengan data lingkungan saja masih bisa dibuat penasaran oleh sebuah peta, mungkin ada orang lain yang juga akan tertarik kalau cerita itu disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana. Jadi saya menulis bukan karena saya sudah tahu semuanya. Saya menulis karena saya sedang belajar. Dan mungkin, sambil belajar, saya bisa berbagi sedikit yang saya pahami kepada siapa saja yang kebetulan mampir membaca.
Rabu, 5 Agustus
kemarin saya kembali turun ke lokasi PETI.
Suasananya sangat mirip dengan lokasi-lokasi sebelumnya. Entah kenapa, ketika sudah beberapa kali turun ke lapangan, ada semacam feeling yang muncul begitu memasuki wilayah Kawasan hutan. Tanjakan dan jalan aksesnya mulai terasa familiar. Di kiri-kanan mulai terlihat lereng-lereng curam, tutupan vegetasinya juga punya karakter yang hampir sama dengan lokasi-lokasi yang pernah saya datangi sebelumnya. Sampai akhirnya saya berpikir “Oh... sepertinya saya sudah masuk kawasan hutan.” 😄Bukan karena saya sedang melihat tulisan besar bertuliskan “Anda memasuki kawasan hutan”, tetapi karena alamnya mulai terasa familiar. Jalan, kemiringan lereng, vegetasi, dan bentuk bentang alamnya seperti sedang memberi tanda sendiri. Mungkin ini salah satu hal yang baru saya sadari setelah cukup sering turun ke lokasi PETI. Lama-lama mata kita belajar membaca bentang alam.
Perjalanan dimulai siang hari, tepatnya pukul 12.50, saat saya men-start mode berjalan di jam tangan Garmin saya. Matahari kala itu bersinar sangat bersahabat. Untunglah saya membawa payung. Kalau hanya mengandalkan topi, saya khawatir wajah saya akan tampak belang-belang (sudah terbukti di perjalanan yang sama sebelumnya). Skin care yang paling mahal pun sepertinya tidak akan sanggup melawan sinar yang paling kuat di muka bumi ini. Jadi hari itu perlengkapan saya bukan cuma sepatu dan bekal untuk perjalanan, tetapi juga payung sebagai perlindungan moral demi mempertahankan warna kulit.
Setelah beberapa langkah, mode jalan di Garmin sudah aktif, matahari mulai terasa, dan perjalanan pun benar-benar dimulai. Kalau dilihat dari angka di jam tangan, mungkin ini hanya sebuah aktivitas walking. Tetapi kalau dilihat dari kondisi di depan mata, saya tahu perjalanan kali ini tidak akan sekadar jalan santai.
Setelah beberapa langkah, perjalanan mulai terasa seperti perjalanan lapangan yang sesungguhnya. Kondisi fisik harus benar-benar siap, artinya makan dan tidur kamu semalam harus cukup, karena sangat berpengaruh terhadap detak jantungmu nanti, apalagi cuaca panas yang sangat menyengat membuat HR kamu selalu di atas Baku Mutu yang kamu inginkan. Awalnya masih santai. Saya masih sempat menikmati pemandangan dan sesekali melihat angka di Garmin. Tapi semakin masuk ke dalam, jalan mulai berubah. Tanjakan mulai terasa, dan beberapa kali saya harus mengatur napas sambil memilih pijakan. Lucunya, semakin capek, mata saya justru semakin sibuk melihat ke kiri dan kanan.
Mungkin karena sekarang saya sudah terbiasa turun ke lokasi PETI, jadi ada hal-hal tertentu yang otomatis menarik perhatian.
Kemiringan lereng.
Tutupan vegetasi.
Batuan yang muncul di
permukaan.
Aliran air kecil yang
memotong lereng.
Dan tentu saja, bukaan lahan. Kalau dulu mungkin saya hanya berpikir, “Oh, ini lokasi PETI.”
Sekarang pertanyaannya mulai bertambah : Bukaannya mengikuti bentuk lereng atau tidak? Batuannya seperti apa? Air dari bagian atas lereng mengalir ke mana? Vegetasi di sekitar bukaan ini masih seperti apa? Dan kalau saya lihat peta, sebenarnya saya sedang berada di bentang alam yang mana? Begitulah mungkin cara rasa penasaran bekerja. Semakin kita tahu sedikit, semakin banyak pertanyaan yang muncul.
Sebelum sampai di
lokasi pertama
Sebelum sampai di lokasi pertama, kami berada di satu titik di mana jalan terbagi menjadi dua arah, ke kiri dan ke kanan. Kami memilih mengambil arah ke kanan lebih dulu. Dari titik itu saya melihat jalan yang menurun cukup jauh ke bawah. Karena penasaran, saya pun ikut menuruni jalan tersebut. Di sisi kiri jalan, saya menemukan sebuah bukaan tambang yang ditutupi terpal. Saya cukup familiar dengan model bukaan seperti ini. Dari pengalaman saya turun ke beberapa lokasi PETI, bukaan seperti ini merupakan lubang tambang manual yang dibuat oleh masyarakat. Biasanya lubang dibuat mengikuti kondisi tanah atau lereng, kemudian bagian dalamnya diperkuat dengan kayu sebagai penyangga, agar lubang tidak mudah runtuh. Bentuknya memang jauh berbeda dengan bukaan lahan yang luas yang kemudian kami temui di lokasi berikutnya.
Saya berdiri sebentar di depan lubang itu. Setiap kali melihat lubang tambang manual seperti ini, saya selalu teringat bahwa aktivitas PETI di lapangan ternyata punya banyak bentuk. Tidak semuanya berupa bukaan besar yang langsung terlihat dari kejauhan. Ada juga lubang-lubang kecil yang dibuat secara manual, mengikuti lereng dan kondisi tanah setempat. Dan mungkin karena sudah beberapa kali melihatnya, mata saya mulai bisa mengenali “cerita” dari bentuk-bentuk bukaan itu.
Setelah melihat lubang manual tadi, saya kembali ke jalan dan melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian kami sampai di lokasi pertama. Kali ini bentuknya berbeda. Kalau lubang yang tadi lebih seperti bukaan kecil yang dibuat manual, lokasi ini sudah memperlihatkan bukaan lahan yang lebih luas. Jalan aksesnya mengikuti lereng dan berkelok-liku dari bagian atas menuju bawah. Dari tempat kami berdiri, bentuk jalannya benar-benar seperti obat nyamuk. Di bagian bawah bukaan itu mengalir sebuah aliran air kecil. Warnanya terlihat agak kehijauan. Saya kembali melihat sekeliling. Ada daseng di sebelah kanan, sementara pada lereng bukaan terlihat tanaman-tanaman yang masih muda. Entah kenapa, pemandangan itu membuat saya berhenti sejenak. Di satu sisi ada bukaan lahan yang memperlihatkan jejak aktivitas manusia. Di sisi lain, alam seperti sedang mencoba mengisi kembali ruang yang pernah terbuka itu. Dan di antara keduanya ada air yang tetap mengalir di bagian bawah.
Saya mulai berpikir,
ternyata satu lokasi PETI bisa memperlihatkan begitu banyak cerita kalau kita
mau sedikit lebih lama melihatnya. Dulu mungkin saya akan berhenti pada
kalimat, “Di sini ada aktivitas PETI.” Sekarang tidak lagi. Saya mulai
bertanya :
Bentang alam seperti apa
yang sedang saya lihat?
Dari mana air itu datang?
Apa yang sebenarnya
terjadi pada lereng ketika sebagian lahannya dibuka?
Dan yang paling membuat saya penasaran: Kalau semua ini bisa terlihat dari lapangan, apa yang akan saya temukan kalau lokasi ini saya buka kembali di dalam peta?
Gambar 1. Sampai di lokasi pertama. Payung tetap dibawa, Garmin tetap jalan, dan rasa penasaran juga tetap ikut
Setelah itu kami
melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya. Jam di Garmin menunjukkan sekitar 14.00.
Kembali kami harus menaiki tanjakan, dan berbelok ke kanan, jika tadi kami
memilih jalan ke kanan, maka saat kembali ke jalan tadi kami harus berbelok ke
kanan. Kali ini suasananya terasa lebih adem. Vegetasi di kiri dan kanan jalan
cukup rapat, sehingga panas matahari tidak langsung terasa seperti di lokasi
sebelumnya.
Saya mulai memperhatikan
pohon-pohon di sepanjang jalan. Ada beberapa yang menjulang tinggi, dan di
bagian bawahnya terlihat akar-akar yang panjang, melingkar dan menjalar ke
mana-mana. Kalau melihat bentuknya, saya langsung teringat ular yang sedang
melingkar. Mungkin karena sudah terbiasa berjalan di alam, saya
memang suka memperhatikan hal-hal seperti ini. Pohon yang tinggi, bentuk akar,
kondisi tanah, sampai bagaimana air bergerak di antara vegetasi.
Tapi ada satu hal yang kemudian menarik perhatian saya. Di salah satu bagian jalan, saya melihat aliran air yang seharusnya melewati jalurnya, tetapi sudah tidak lagi mengalir. Ternyata bagian tersebut telah tertutup tanah untuk membuat akses jalan. Air yang sebelumnya mempunyai jalur sendiri sekarang seperti kehilangan jalannya. Saya kembali berhenti sebentar. Buat orang yang sedang terburu-buru menuju lokasi mungkin ini hanya terlihat sebagai jalan yang sedang diperbaiki atau dibuat lebih mudah dilewati. Tapi buat saya, pemandangan itu kembali memunculkan pertanyaan : Kalau aliran air kita tutup dan jalurnya kita ubah, ke mana air itu akan pergi ketika hujan turun?
Gambar 2.
Akar pohon yang melingkar seperti ular. Di lapangan, hal-hal kecil seperti ini
sering membuat saya berhenti sejenak untuk memperhatikan
Jalan yang kami lalui sebenarnya dulunya adalah bagian dari hutan. Tetapi karena ada aktivitas penambangan, akses menuju lokasi kemudian dibuat dengan memotong lereng. Semakin saya berjalan, semakin terasa bahwa jalan yang kami lalui bukanlah jalan yang terbentuk begitu saja. Ia dibuat karena manusia membutuhkan akses untuk masuk lebih jauh ke dalam kawasan tersebut. Sampai akhirnya kami berhenti di sebuah sungai kecil. Airnya jernih sekali. Saat itu tumbler saya sudah kosong. Saya melihat air yang mengalir di depan mata dan tiba-tiba teringat masa kuliah dulu. Kalau sedang jalan ke gunung, saya tidak pernah terlalu berpikir panjang kalau bertemu sungai seperti ini. Tinggal ambil air, minum, isi botol, lalu lanjut jalan. Namanya juga anak gunung zaman dulu.
Tapi sekarang ceritanya sedikit berbeda. Saya berdiri di pinggir sungai sambil melihat airnya dan mulai muncul pikiran macam-macam.
Ini benar-benar aman diminum tidak ya?
Ada kuman tidak?
Ada bakteri tidak?
Bagaimana kalau ada
sesuatu dari aktivitas manusia di bagian atas sana?
Dulu rasanya tidak pernah kepikiran sejauh itu. Sekarang, setelah terlalu sering berhadapan dengan pekerjaan lingkungan, justru otak sendiri yang mulai bikin was-was. Tapi masalahnya sederhana. Saya haus. Tumbler kosong. Air ada di depan mata. Akhirnya saya memutuskan untuk menyingkirkan dulu segala macam pikiran tentang kuman dan bakteri itu. Saya mengambil airnya dan meminumnya. Dan saat itu saya kembali teringat masa kuliah. Ternyata ada hal-hal yang berubah seiring bertambahnya usia. Dulu saya minum air sungai karena percaya begitu saja pada alam. Sekarang saya masih percaya pada alam, tetapi saya juga tahu bahwa jernih belum tentu berarti aman. Dan kalimat terakhir itu membuat saya kembali melihat sungai kecil tersebut dengan cara yang berbeda. Airnya memang jernih. Tapi apa yang terjadi di bagian hulu?
Kami pun melanjutkan perjalanan. Akses jalan kali ini terasa semakin menanjak. Elevasinya sudah berada di kisaran 400-an meter di atas permukaan laut. Di depan mata, bukaan lahannya terlihat semakin luas. Di sebelah kanan terbentang jurang yang cukup dalam, jadi kalau berjalan di bagian ini saya harus lebih berhati-hati melihat pijakan. Tapi di tengah suasana seperti itu, ada satu hal yang membuat saya sempat lupa dengan tanjakan. Seekor burung rangkong terbang di atas kami. Ia kemudian hinggap di salah satu pohon yang menjulang tinggi. Saya tentu saja langsung memperhatikannya. Pohon-pohon di lokasi ini memang masih banyak dan tinggi-tinggi. Di tengah perjalanan menuju lokasi PETI, saya justru merasa seperti sedang berada di antara dua cerita yang berbeda.
Di satu sisi, ada bukaan lahan dan jejak aktivitas pertambangan. Di sisi lain, hutan masih berdiri dan satwa masih melintas di atasnya. Lalu saya menemukan hal lain yang membuat perjalanan ini terasa semakin lengkap—dalam arti yang agak menyedihkan. Di sisi jalan terlihat kayu-kayu yang sudah dipotong-potong dan diletakkan begitu saja. Kami tidak melihat seorang pun di sekitar lokasi. Tetapi jejak aktivitas alat berat masih terlihat. Bekas lintasan exavator masih meninggalkan tanda pada tanah. Saya tidak sedang melakukan pemeriksaan khusus terhadap aktivitas illegal logging hari itu, jadi saya hanya mencatat apa yang saya lihat di lapangan: ada kayu yang telah dipotong dan jejak alat berat di lokasi. Semakin jauh kami berjalan, akhirnya kami sampai pada bagian yang sudah tidak memperlihatkan bukaan lahan lagi. Di titik itu kami memutuskan untuk kembali. Dan perjalanan pulang ternyata memberikan satu kejutan kecil.
Saya sempat terjungkal. Bukan karena jurangnya. Bukan karena tanjakannya. Saya tersangkut akar pohon yang tidak terlihat karena tertutup bebatuan kecil, ditambah ada bongkahan tanah yang cukup keras. Kaki saya salah pijak dan... bruk! Untungnya tidak terjadi apa-apa yang serius. Mungkin alam sedang mengingatkan : “Jangan cuma sibuk melihat ke atas dan ke kiri-kanan. Sesekali lihat juga ke bawah.” Dan memang, kalau diperhatikan, kondisi tanah hari itu terlihat sangat berbeda dari bayangan saya tentang hutan yang selalu lembap.
Musim panas membuat tanah di beberapa bagian terlihat sangat kering. Ada tanah yang keras, bebatuan kecil yang berserakan, akar-akar yang muncul ke permukaan, dan bagian jalan yang terasa jauh lebih kering dibanding ketika kita membayangkan suasana hutan pada musim hujan. Saya kembali teringat pada air. Beberapa waktu sebelumnya saya baru saja minum dari sungai kecil yang airnya begitu jernih. Sekarang saya berjalan di atas tanah yang kering. Di tempat yang sama, air dan kekeringan ternyata bisa hadir dalam satu perjalanan.
Di tengah perjalanan, kami menemukan sebuah pohon yang cukup menarik perhatian. Batangnya berwarna putih dan pohonnya menjulang tinggi. Karena penasaran, Kadis pun mengeluarkan ponselnya dan mencoba memotret pohon tersebut menggunakan Google Lens untuk mengetahui jenisnya. Setelah mendapatkan nama pohonnya, perjalanan kami berubah sedikit menjadi permainan kecil. Setiap kali melihat pohon dengan ciri batang yang sama, saya dan Kadis langsung kompak menyebutkan namanya. “Itu pohon...!” (oh ya, saya lupa nama pohonnya). Begitulah, di tengah perjalanan menuju lokasi PETI, kami malah sempat berubah menjadi tim pengenal pohon dadakan. Ternyata turun ke lapangan memang selalu punya cerita. Kita bisa berangkat untuk melihat aktivitas pertambangan, tetapi di sepanjang jalan justru menemukan banyak hal lain yang membuat kita berhenti, bertanya, lalu penasaran.
Puncak perjalanan kami hari itu berada di sekitar 670 meter di atas permukaan laut. Setelah sampai di titik tersebut, kami mulai perjalanan pulang. Sekitar pukul 16.00, kami kembali menuruni jalan yang tadi kami lewati. Di salah satu tempat kami beristirahat sebentar. Saya duduk sambil melihat ke atas. Angin sedang bermain dengan pohon-pohon tinggi di sekitar kami. Daun-daunnya bergerak, terdengar suara gesekan yang pelan dan teratur. Saya mendongakkan kepala, lalu mengambil video.
Entah kenapa saya suka sekali suasana seperti itu. Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada suara mesin. Hanya angin yang melewati pohon-pohon dan suara daun yang bergerak. Saya bisa duduk cukup lama hanya untuk melihat dan mendengarkan suara alam seperti itu. Tapi ketenangan itu ternyata tidak berlangsung lama. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saya melihat seekor ular berwarna hitam pekat melintas di depan saya. Refleks saya langsung keluar. “ULAAAAAAR!!!” Teriakan saya konon cukup nyaring dan cempreng. Kadis yang berjalan di belakang saya pun otomatis ikut kaget. Setelah itu sepanjang perjalanan saya mulai misuh-misuh sendiri sambil sesekali mengulang : “Ular... ular... ihhh ngeri...”
Memang dari dulu ular adalah binatang yang paling saya takuti. Yang membuat saya heran, hari itu saya tidak hanya sekali bertemu ular. Menjelang sampai ke mobil, kira-kira masih sekitar 50 meter lagi, saya kembali melihat ular melintas di depan saya. Kali ini lebih dekat. Ukurannya lebih kecil dan warnanya cokelat. Saya langsung berpikir, “Ya ampun... hari ini kenapa ularnya dua kali?” ðŸ˜ðŸ˜‚
Saya tidak tahu apakah kedua ular itu kebetulan saja melintas di jalur kami atau memang sedang aktif pada sore hari. Saya juga tidak tahu jenisnya karena saya sudah terlalu sibuk menjaga jarak. Yang jelas, perjalanan pulang hari itu memberi saya dua pelajaran sederhana : Kalau berjalan di hutan, jangan hanya melihat peta, lereng dan pohon. Sesekali lihat juga ke depan kaki sendiri. Apalagi kalau seperti saya... takut ular.
Ketika Saya Kembali
Membuka Peta
Setelah sampai di rumah, rasa penasaran saya ternyata belum selesai. Koordinat lokasi yang kami datangi hari itu sudah saya kirimkan kepada teman di Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara. Dari informasi yang saya terima, lokasi tersebut berada dalam kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT). Saya tersenyum sendiri. Di lapangan sebenarnya saya sudah punya feeling bahwa kami memang sudah berada di kawasan hutan. Vegetasinya, pohon-pohon yang menjulang tinggi, lerengnya, suasananya... semuanya terasa familiar. Tapi kali ini saya punya sesuatu yang lebih pasti. Sebuah titik koordinat. Dan bagi saya, satu titik koordinat itu menarik. Karena begitu sebuah lokasi punya koordinat, kita bisa membawanya kembali ke laptop dan mulai bertanya lebih banyak.
Saya pun mulai berpikir :
Kalau lokasi PETI ini berada di HPT, sebenarnya bentang alam tempat kami
berjalan hari itu seperti apa? Bukan hanya status kawasannya. Saya ingin tahu
lebih jauh :
Ekoregionnya apa?
Bagaimana bentuk bentang
alamnya?
Batuan apa yang
mendasarinya?
Bagaimana kondisi tutupan
lahannya?
Ke mana air dari
lereng-lereng itu mengalir?
Dan kalau kita melihatnya
dari sudut pandang jasa ekosistem, apa sebenarnya yang sedang diberikan bentang
alam ini kepada kita?
Mungkin jawabannya ada di
Peta.
Bersambung
Manado, 08 Agustus 2026
"DM"
Catatan Penulis :
Tulisan ini saya mulai sejak siang menjelang sore dan baru selesai
sekitar pukul 23.30. Ba’da Isya, saya sempat berhenti menulis untuk lari malam
sejauh 6 km. Setelah kembali, saya melanjutkan tulisan ini ditemani Jalu,
Banyu, dan Naya yang sejak tadi sudah beberapa kali mengingatkan, bahkan mulai
misuh-misuh, karena ingin segera pulang. Dari Fore lanjut ke Burger King. Jadi, kalau ada bagian tulisan yang
terasa sedikit melebar ke mana-mana, mungkin karena penulisnya juga sempat lari
6 km dan ditemani tiga anak yang sudah tidak sabar ingin pulang.










