Membaca
Wajah Bencana Kabupaten Bolaang Mongondow
“Benarkah
Bencana Hanya Disebabkan oleh Hujan?”
Setiap kali banjir
melanda Kabupaten Bolaang Mongondow, pertanyaan yang paling sering terdengar
adalah, mengapa banjir kembali terjadi? Sebagian orang mungkin menjawab karena
curah hujan yang tinggi, sebagian lagi menyebut sungai yang meluap, dan ada
pula yang menganggap banjir sebagai bencana alam yang memang tidak dapat
dihindari.
Namun, benarkah sesederhana itu?
Selama lebih dari satu
dekade bekerja di bidang lingkungan hidup, saya berkesempatan turun ke lapangan
di berbagai wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow. Dari menyusuri sungai,
mengunjungi lokasi tambang, menilai dokumen lingkungan, hingga mengikuti berbagai
kegiatan pemetaan dan pengelolaan sumber daya alam. Setiap perjalanan
memberikan satu pelajaran yang sama : alam selalu saling terhubung, sementara
cara kita mengelolanya sering kali masih terpisah-pisah.
Beberapa hari terakhir
saya mulai membaca kembali berbagai dokumen kebencanaan Kabupaten Bolaang
Mongondow. Mulai dari Dokumen Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Kabupaten
Bolaang Mongondow Tahun 2025–2029 hingga data rinci kejadian bencana yang
dihimpun oleh BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow selama tahun 2024 dan 2025.
Semakin lama saya
membaca, semakin muncul satu pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting
daripada sekadar menghitung berapa kali banjir terjadi.
Apakah kita sudah
benar-benar memahami mengapa bencana itu terus berulang?
Bencana yang Berubah
Wajah
Data historis BNPB
menunjukkan bahwa sejak tahun 2013 Kabupaten Bolaang Mongondow telah mengalami
berbagai jenis bencana, seperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga
kebakaran hutan dan lahan.
Namun ketika saya
membandingkan data historis tersebut dengan data operasional BPBD tahun
2024–2025, saya melihat sesuatu yang menarik. Bencana hidrometeorologi ternyata
menjadi jenis bencana yang paling sering terjadi.
Banjir, banjir akibat
luapan sungai, banjir yang disertai tanah longsor, pohon tumbang akibat cuaca
ekstrem, hingga jalan yang amblas menjadi kejadian yang berulang di berbagai
wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow.
Bukan Sekadar Angka
Yang menarik perhatian
saya bukan hanya jumlah kejadiannya, tetapi juga polanya.
Beberapa kecamatan muncul
berulang kali dalam laporan kejadian bencana, seperti Lolayan, Lolak, Bolaang, Bolaang Timur, Passi Timur, Passi Barat dan dataran Dumoga. Wilayah-wilayah tersebut beberapa kali
mengalami banjir maupun longsor dalam dua tahun terakhir.
Artinya, ada pola yang
perlu dipahami. Dan menurut saya, pola inilah yang jauh lebih penting daripada
sekadar mengetahui berapa kali bencana terjadi.
Pertanyaan yang Selama
Ini Mengganggu Saya
Sebagai seseorang yang
bekerja di bidang lingkungan hidup, saya sering bertanya kepada diri sendiri. Setelah
banjir selesai, setelah bantuan disalurkan, setelah rumah diperbaiki, apakah
pekerjaan kita benar-benar selesai? Bagaimana dengan penyebabnya?
Jika bagian hulu daerah
aliran sungai (DAS) berada di kawasan konservasi atau kawasan hutan yang
menjadi kewenangan instansi lain, sementara bagian hilir berada di wilayah
pemerintah daerah, siapa yang memastikan bahwa keduanya dikelola sebagai satu
kesatuan?
Air tidak mengenal batas
administrasi. Air tidak berhenti mengalir karena ada batas kewenangan
pemerintahan. Air mengalir mengikuti bentang alam, bukan mengikuti batas
organisasi.
Karena itu, saya mulai
berpikir bahwa pengelolaan bencana seharusnya juga tidak berhenti pada
penanganan saat bencana terjadi maupun setelah bantuan disalurkan. Upaya
pencegahan semestinya dilakukan dengan melihat bentang alam secara utuh, mulai
dari hulu hingga hilir, serta melibatkan seluruh pihak yang memiliki kewenangan
di dalamnya.
Sebuah Perjalanan yang
Baru Dimulai
Tulisan ini merupakan
awal dari perjalanan kecil saya untuk mencoba membaca kembali hubungan antara
bencana dan lingkungan hidup di Kabupaten Bolaang Mongondow. Pada tulisan
berikutnya saya akan mencoba menjawab satu pertanyaan yang mungkin terdengar
sederhana, tetapi sesungguhnya sangat penting.
Apakah hujan merupakan
satu-satunya penyebab banjir di Kabupaten Bolaang Mongondow?
Selama ini kita mungkin
menganggap hujan sebagai penyebab utama banjir. Namun setelah mulai membuka
data kejadian bencana, dokumen RPB, dan berbagai data lingkungan hidup yang
kami miliki, saya menyadari bahwa jawabannya jauh lebih kompleks daripada sekadar
curah hujan.
Mari kita mencoba
membacanya bersama, melalui data, peta, dan fakta yang ada di Kabupaten Bolaang
Mongondow.
Catatan
Penulis :
Tulisan
ini merupakan bagian pertama dari seri "Membaca Lingkungan Bolmong",
yaitu catatan perjalanan saya memahami hubungan antara bencana, bentang alam,
dan pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Bolaang Mongondow melalui data,
dokumen, dan pengalaman lapangan.
Sinindian, 18 Juli 2026
DM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar