Sabtu, 18 Juli 2026

 

Membaca Wajah Bencana Kabupaten Bolaang Mongondow

“Benarkah Bencana Hanya Disebabkan oleh Hujan?”


(Foto Sungai Lolak Bagian Hulu Bendungan Pindol Tahun 2017. Foto ini saya ambil saat melakukan kegiatan lapangan. Hari itu saya dan dua orang rekan sekantor terjebak banjir selama 4 hari di lokasi)


Setiap kali banjir melanda Kabupaten Bolaang Mongondow, pertanyaan yang paling sering terdengar adalah, mengapa banjir kembali terjadi? Sebagian orang mungkin menjawab karena curah hujan yang tinggi, sebagian lagi menyebut sungai yang meluap, dan ada pula yang menganggap banjir sebagai bencana alam yang memang tidak dapat dihindari.

Namun, benarkah sesederhana itu?

Selama lebih dari satu dekade bekerja di bidang lingkungan hidup, saya berkesempatan turun ke lapangan di berbagai wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow. Dari menyusuri sungai, mengunjungi lokasi tambang, menilai dokumen lingkungan, hingga mengikuti berbagai kegiatan pemetaan dan pengelolaan sumber daya alam. Setiap perjalanan memberikan satu pelajaran yang sama : alam selalu saling terhubung, sementara cara kita mengelolanya sering kali masih terpisah-pisah.

Beberapa hari terakhir saya mulai membaca kembali berbagai dokumen kebencanaan Kabupaten Bolaang Mongondow. Mulai dari Dokumen Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Kabupaten Bolaang Mongondow Tahun 2025–2029 hingga data rinci kejadian bencana yang dihimpun oleh BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow selama tahun 2024 dan 2025.

Semakin lama saya membaca, semakin muncul satu pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa kali banjir terjadi.

Apakah kita sudah benar-benar memahami mengapa bencana itu terus berulang?

Bencana yang Berubah Wajah

Data historis BNPB menunjukkan bahwa sejak tahun 2013 Kabupaten Bolaang Mongondow telah mengalami berbagai jenis bencana, seperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga kebakaran hutan dan lahan.

Namun ketika saya membandingkan data historis tersebut dengan data operasional BPBD tahun 2024–2025, saya melihat sesuatu yang menarik. Bencana hidrometeorologi ternyata menjadi jenis bencana yang paling sering terjadi.

Banjir, banjir akibat luapan sungai, banjir yang disertai tanah longsor, pohon tumbang akibat cuaca ekstrem, hingga jalan yang amblas menjadi kejadian yang berulang di berbagai wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow.

Bukan Sekadar Angka

Yang menarik perhatian saya bukan hanya jumlah kejadiannya, tetapi juga polanya.

Beberapa kecamatan muncul berulang kali dalam laporan kejadian bencana, seperti Lolayan, Lolak, Bolaang, Bolaang Timur, Passi Timur, Passi Barat dan dataran Dumoga. Wilayah-wilayah tersebut beberapa kali mengalami banjir maupun longsor dalam dua tahun terakhir.

Artinya, ada pola yang perlu dipahami. Dan menurut saya, pola inilah yang jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui berapa kali bencana terjadi.

Pertanyaan yang Selama Ini Mengganggu Saya

Sebagai seseorang yang bekerja di bidang lingkungan hidup, saya sering bertanya kepada diri sendiri. Setelah banjir selesai, setelah bantuan disalurkan, setelah rumah diperbaiki, apakah pekerjaan kita benar-benar selesai? Bagaimana dengan penyebabnya?

Jika bagian hulu daerah aliran sungai (DAS) berada di kawasan konservasi atau kawasan hutan yang menjadi kewenangan instansi lain, sementara bagian hilir berada di wilayah pemerintah daerah, siapa yang memastikan bahwa keduanya dikelola sebagai satu kesatuan?

Air tidak mengenal batas administrasi. Air tidak berhenti mengalir karena ada batas kewenangan pemerintahan. Air mengalir mengikuti bentang alam, bukan mengikuti batas organisasi.

Karena itu, saya mulai berpikir bahwa pengelolaan bencana seharusnya juga tidak berhenti pada penanganan saat bencana terjadi maupun setelah bantuan disalurkan. Upaya pencegahan semestinya dilakukan dengan melihat bentang alam secara utuh, mulai dari hulu hingga hilir, serta melibatkan seluruh pihak yang memiliki kewenangan di dalamnya.

Sebuah Perjalanan yang Baru Dimulai

Tulisan ini merupakan awal dari perjalanan kecil saya untuk mencoba membaca kembali hubungan antara bencana dan lingkungan hidup di Kabupaten Bolaang Mongondow. Pada tulisan berikutnya saya akan mencoba menjawab satu pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat penting.

Apakah hujan merupakan satu-satunya penyebab banjir di Kabupaten Bolaang Mongondow?

Selama ini kita mungkin menganggap hujan sebagai penyebab utama banjir. Namun setelah mulai membuka data kejadian bencana, dokumen RPB, dan berbagai data lingkungan hidup yang kami miliki, saya menyadari bahwa jawabannya jauh lebih kompleks daripada sekadar curah hujan.

Mari kita mencoba membacanya bersama, melalui data, peta, dan fakta yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow.


Catatan Penulis :

Tulisan ini merupakan bagian pertama dari seri "Membaca Lingkungan Bolmong", yaitu catatan perjalanan saya memahami hubungan antara bencana, bentang alam, dan pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Bolaang Mongondow melalui data, dokumen, dan pengalaman lapangan.


Sinindian, 18 Juli 2026

          DM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar