Selasa, 04 Agustus 2026

KETIKA AIR MENJADI SESUATU YANG DICARI

Dalam tulisan sebelumnya, kita membaca bagaimana hujan yang turun di sebuah DAS berubah menjadi limpasan, meningkatkan debit sungai, hingga akhirnya menjadi bagian dari cerita banjir. Namun pada musim yang berbeda, persoalan air dapat hadir dalam bentuk yang berlawanan: ketika air justru mulai berkurang. Memasuki Agustus 2026, Kabupaten Bolaang Mongondow menghadapi peringatan dini kekeringan meteorologis. Kondisi ini kemudian menjadi salah satu hal yang dibicarakan pemerintah daerah dalam upaya mengantisipasi berbagai dampak yang mungkin muncul. Tetapi kondisi tersebut membuat saya tertarik pada satu pertanyaan yang sedikit berbeda. Ketika hujan mulai berkurang, apakah semua bentang alam di Bolaang Mongondow mempunyai kemampuan yang sama dalam menyediakan air ?. Untuk mencoba menjawabnya, saya kembali membuka beberapa data lingkungan hidup Kabupaten Bolaang Mongondow. Dan ternyata, jauh sebelum kondisi tahun 2026 ini, persoalan air pada musim kering pernah tercatat di sejumlah wilayah.

Kekeringan yang Kembali Tercatat

Ketika mencoba melihat kembali riwayat kejadian, saya memperoleh data historis dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (PUSDALOPS) BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow. Berdasarkan catatan tersebut, kejadian kekeringan tercatat pada tahun 2015, 2019, dan 2023. Dari histori kejadian itu, PUSDALOPS BPBD mengenali adanya pola kejadian ini sekitar empat tahunan yang berkaitan dengan kemarau panjang.

Pada tahun 2015 dan 2019, wilayah terdampak tersebar di empat kecamatan. Kecamatan Poigar mencakup Mondatong Baru, Nanasi, Poigar III, Nonapan, Nonapan I, Nonapan II, Nonapan Baru, Wineru, dan Mariri Baru. Kecamatan Bolaang Timur meliputi Bolaang, Bolaang I, Tadoy, Tadoy I, Ambang, dan Ambang II. Di Kecamatan Dumoga Utara, kejadian tercatat di Mopugad, Mopugad Utara I, Mopugad Utara II, Mopugad Selatan I, dan Mopugad Selatan II, sedangkan di Kecamatan Passi Barat tercatat di Wangga dan Wangga I. Empat tahun kemudian, pada 2023, catatan kekeringan kembali muncul, kali ini di Desa Bolangat Timur, Kecamatan Sang Tombolang.

Catatan tersebut menarik bukan semata-mata karena adanya pengulangan waktu kejadian. Lokasi yang terdampak juga tersebar di beberapa kecamatan dengan karakter wilayah yang berbeda. Karena itu, pertanyaan berikutnya bukan hanya kapan kekeringan akan kembali terjadi, tetapi juga mengapa wilayah-wilayah tertentu mengalami kekurangan air ketika kemarau berlangsung panjang. Untuk mencoba membacanya, saya membuka Peta Ketersediaan Air di Kabupaten Bolaang Mongondow. 

Ketersediaan Air Tidak Sama di Setiap Tempat

Ketika berbicara tentang kekeringan, kita mungkin membayangkan bahwa persoalannya sederhana : hujan berkurang, kemudian air ikut berkurang. Namun ketika saya membuka Peta Ketersediaan Air Kabupaten Bolaang Mongondow, gambaran yang terlihat ternyata tidak sesederhana itu. Pada peta tersebut, ketersediaan air digambarkan dalam beberapa kelas, mulai dari kurang dari 60.000 hingga lebih dari 120.000 m³/grid/tahun. Perbedaan warna menunjukkan bahwa jumlah air yang tersedia secara spasial tidak sama di seluruh wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow. Ada wilayah dengan nilai ketersediaan air relatif lebih tinggi, sementara wilayah lainnya berada pada kelas yang lebih rendah. Dengan kata lain, batas administrasi kecamatan tidak serta-merta menggambarkan satu kondisi ketersediaan air yang seragam. Dalam satu wilayah kecamatan pun dapat ditemukan lebih dari satu kelas ketersediaan air.


Gambar 1. Peta Ketersediaan Air Bolaang Mongondow

Peta ini kemudian membuat catatan kekeringan dari PUSDALOPS BPBD menjadi lebih menarik untuk dibaca. Kejadian kekeringan tahun 2015 dan 2019 tercatat pada sejumlah desa di Kecamatan Poigar, Bolaang Timur, Dumoga Utara dan Passi Barat. Pada tahun 2023, kejadian kembali tercatat di Desa Bolangat Timur, Kecamatan Sang Tombolang. Namun kita perlu berhati-hati. Peta ketersediaan air tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan penyebab kekeringan di desa-desa tersebut. Kejadian kekurangan air yang dialami masyarakat dapat berkaitan dengan berbagai faktor, sedangkan peta ini memberikan gambaran spasial ketersediaan air secara spasial berdasarkan satuan dan metode yang digunakan dalam penyusunannya.

Karena itu, peta ini lebih tepat digunakan untuk mengajukan pertanyaan berikutnya : Apakah wilayah yang pernah mengalami kekeringan berada pada bentang dengan ketersediaan air tertentu? Dan ada pertanyaan yang menurut saya lebih menarik : Jika suatu wilayah memiliki ketersediaan air relatif tinggi, apakah air tersebut selalu dapat tersedia dan dimanfaatkan masyarakat ketika musim kemarau berlangsung panjang? Pertanyaan kedua menjadi penting. Sebab air yang tersedia di dalam suatu bentang alam belum tentu sama dengan air yang dapat diakses masyarakat pada waktu dan tempat ketika air tersebut dibutuhkan. Di sinilah membaca ketersediaan air saja belum cukup. Untuk memahami sisi lainnya, saya membuka satu peta lagi : Peta Jasa Ekosistem Penyedia Air.

Tersedia Air, Tetapi Siapa yang Menyediakannya?

Peta ketersediaan air menunjukkan bahwa air tidak tersedia dalam jumlah yang sama di setiap tempat. Namun ketika mencoba memahami kejadian kekeringan, muncul pertanyaan lain, dari mana kemampuan suatu wilayah menyediakan air itu berasal? Untuk mencoba menjawabnya, saya membuka Peta Jasa Ekosistem Penyedia Air Kabupaten Bolaang Mongondow.


Gambar 2 . Peta Jasa Ekosistem Penyedia Air

Dalam Buku Pedoman Penyusunan Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Daerah, kinerja jasa lingkungan hidup sebagai penyedia air didefinisikan sebagai kemampuan lingkungan hidup dalam memberikan jasa penyediaan air untuk para pemanfaatnya. Indikator keadaannya adalah jumlah total air, sedangkan indikator kinerjanya adalah jumlah maksimum ekstraksi air secara berkelanjutan.

Pengertian tersebut membuat saya melihat air dengan cara yang sedikit berbeda. Air bukan hanya sesuatu yang keluar dari keran, sumur atau mata air. Sebelum sampai dan dimanfaatkan manusia, ada bentang alam yang bekerja menyediakan jasa tersebut. Data Jasa Ekosistem Penyedia Air menunjukkan bahwa kemampuan tersebut juga tidak tersebar secara seragam di Kabupaten Bolaang Mongondow. Dari lima kelas yang tersedia, luasan terbesar berada pada kelas sedang, yaitu 233.438,18 ha, disusul kelas rendah 91.386,74 ha. Sementara kelas sangat rendah seluas 3.063,22 ha, sangat tinggi 1.135,55 ha dan tinggi 125,83 ha. Dengan demikian sebagian besar wilayah Bolaang Mongondow berada pada kelas jasa penyedia air sedang, tetapi di dalamnya terdapat bentang dengan kemampuan yang lebih rendah maupun lebih tinggi.

Peta ini semakin menarik ketika dipertemukan kembali dengan catatan kekeringan PUSDALOPS BPBD. Poigar, Bolaang Timur, Dumoga Utara, Passi Barat dan Sang Tombolang—kecamatan-kecamatan tempat kejadian kekeringan pernah tercatat—tidak mempunyai komposisi kelas jasa penyedia air yang sama.

Namun sekali lagi, kita perlu berhati-hati. Kita belum dapat mengatakan bahwa kelas jasa ekosistem tertentu menyebabkan kekeringan. Peta jasa ekosistem menggambarkan kemampuan lingkungan dalam memberikan jasa penyediaan air, sementara kekeringan yang dialami masyarakat merupakan sebuah kejadian pada lokasi dan waktu tertentu. Untuk mengetahui hubungan keduanya secara lebih jauh, diperlukan pembacaan sampai pada lokasi kejadian, sumber air yang digunakan masyarakat, kondisi sumber tersebut saat kemarau, serta informasi lain yang relevan.

Meski demikian, peta ini memberi kita satu petunjuk penting. Kekeringan tidak cukup dibaca hanya dari berkurangnya hujan. Kita juga perlu memahami kemampuan bentang alam tempat masyarakat hidup dalam menyediakan air. Dari sini muncul pertanyaan berikut : Mengapa kemampuan bentang alam menyediakan air berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya?
Untuk mencoba memahaminya kita perlu mundur satu langkah lebih jauh, membaca bagaimana bentang alam Bolaang Mongondow terbentuk.

Mundur Satu Langkah : Membaca bentang alam


Gambar 3. Peta Ekoregion Wilayah Sulawesi

Peta tersebut memperlihatkan sesuatu yang sering tidak terlihat ketika kita hanya membaca peta administrasi. Bolaang Mongondow bukanlah satu bentang alam yang seragam. Di dalam satu wilayah kabupaten terdapat satuan-satuan ekoregion dengan proses pembentukan dan karakter yang berbeda. Perbedaan tersebut tercermin pada morfologi, geologi, iklim, tanah, vegetasi hingga karakter hidrologinya. Salah satunya adalah Pegunungan Struktural Sulawesi (S1).

Dalam Buku Deskripsi Peta Ekoregion Pulau/Kepulauan, satuan ini digambarkan mempunyai elevasi dominan lebih dari 500 meter di atas permukaan laut, relief bergunung dan curah hujan tahunan sekitar 2.500–3.500 mm. Pada karakter hidrologinya, buku tersebut menyebut sumber daya air yang melimpah, sungai berpola aliran radial sentrifugal yang bersifat perennial, mata air potensial (spring belt), serta potensi air tanah pada dataran kaki pegunungan. Bahkan pada bagian jasa ekosistemnya, pengaturan air disebut sebagai salah satu jasa yang diberikan oleh bentang alam ini.

Membaca deskripsi tersebut membuat saya memahami bahwa air yang kita gunakan sebenarnya mempunyai cerita yang dimulai jauh sebelum air itu sampai kepada manusia. Pegunungan, lereng, tanah, batuan, vegetasi dan sungai merupakan bagian dari sistem bentang alam yang memungkinkan air hadir, bergerak dan tersedia. Tetapi deskripsi itu sekaligus memunculkan sebuah pertanyaan yang menarik. Jika suatu bentang alam secara alami mempunyai sumber daya air yang melimpah, mata air potensial, dan sungai yang mengalir sepanjang tahun, mengapa pada musim kemarau masyarakat di wilayah tertentu masih dapat mengalami kekurangan air?

Pertanyaan tersebut tidak berarti ada pertentangan antara peta dengan kenyataan di lapangan. Justru dari sinilah kita perlu membedakan antara potensi dan kemampuan bentang alam menyediakan air dengan air yang benar-benar dapat diakses dan dimanfaatkan masyarakat ketika dibutuhkan.

Kalau Bentang Alam Menyediakan Air, Mengapa Kita Masih Bisa Kekurangan Air?

Sampai pada bagian ini, ada sesuatu yang sekilas tampak bertentangan. Di satu sisi, Peta Jasa Ekosistem Penyedia Air menunjukkan bahwa bentang alam Kabupaten Bolaang Mongondow memiliki kemampuan menyediakan air dengan tingkat yang berbeda-beda.  Di sisi lain, catatan PUSDALOPS BPBD menunjukkan bahwa kekeringan pernah benar-benar terjadi dan dirasakan masyarakat.

Lalu, bagaimana kedua informasi tersebut harus dibaca? Menurut saya, jawabannya terletak pada satu hal yang sering kali kita campuradukkan : Air yang tersedia di dalam bentang alam tidak selalu sama dengan air yang tersedia untuk digunakan masyarakat pada tempat dan waktu ketika air itu dibutuhkan. Ketersediaan air menggambarkan keberadaan air dalam suatu wilayah. Jasa ekosistem penyedia air menggambarkan kemampuan lingkungan memberikan jasa penyediaan air kepada para pemanfaatnya. Sementara kekeringan yang dialami masyarakat merupakan kondisi nyata yang terjadi pada waktu dan lokasi tertentu. Ketiganya saling berkaitan, tetapi bukan sesuatu yang sama.

Karena itu, ketika suatu desa mengalami kekurangan air pada musim kemarau, kita belum dapat langsung menyimpulkan bahwa bentang alamnya tidak mempunyai kemampuan menyediakan air. Untuk memahami penyebabnya, kita perlu melihat lebih dekat sumber air yang digunakan masyarakat dan apa yang terjadi pada sumber tersebut ketika kemarau berlangsung panjang. Apakah debit mata air berkurang? Apakah sumur mengering? Apakah air sebenarnya masih tersedia tetapi sulit dijangkau atau didistribusikan? Atau ada perubahan kondisi lingkungan pada wilayah yang menopang sumber air tersebut?

Data yang tersedia saat ini belum cukup untuk menjawab pertanyaan itu pada masing-masing desa. Tetapi justru di sinilah catatan kekeringan menjadi penting. Ia tidak hanya memberi tahu kita bahwa kekeringan pernah terjadi, tetapi menunjukkan ke mana penyelidikan berikutnya perlu diarahkan.

Dari Catatan Kejadian Menjadi Informasi untuk Mitigasi

Catatan PUSDALOPS BPBD sebenarnya memberikan sesuatu yang sangat berharga: lokasi desa yang pernah mengalami kekeringan. Selama ini kita mengetahui bahwa kejadian tercatat pada 2015, 2019, dan 2023. Namun bagaimana jika catatan tersebut tidak berhenti sebagai riwayat kejadian? Bagaimana jika setiap lokasi kekeringan kemudian ditempatkan kembali ke dalam peta?

Desa-desa yang pernah terdampak dapat dipetakan dan dibaca bersama Peta Ketersediaan Air dan Peta Jasa Ekosistem Penyedia Air. Bukan untuk membuktikan bahwa peta tersebut dapat “meramalkan” kekeringan, tetapi untuk melihat apakah terdapat pola tertentu pada lokasi yang pernah mengalami kejadian.

Dari sana, pertanyaan dapat dibuat lebih rinci. Dari mana masyarakat memperoleh air ketika kondisi normal? Apa yang terjadi pada sumber tersebut ketika kemarau berlangsung panjang? Apakah debit mata air menurun, sumur mengering, atau persoalannya justru terletak pada kemampuan distribusi air kepada masyarakat? Informasi sederhana seperti lokasi kejadian, waktu dan lama kejadian, sumber air utama, kondisi sumber air saat kemarau, jumlah masyarakat terdampak, serta kebutuhan bantuan air akan membuat catatan kekeringan mempunyai nilai yang jauh lebih besar.

Jika dilakukan secara konsisten, catatan tersebut perlahan dapat membentuk rekam jejak spasial kekeringan Kabupaten Bolaang Mongondow. Dan di sinilah pola kejadian sekitar empat tahunan yang dikenali PUSDALOPS BPBD menjadi menarik. Catatan 2015, 2019, dan 2023 belum cukup untuk membuktikan bahwa kekeringan di Bolaang Mongondow mempunyai siklus empat tahunan secara ilmiah. Namun sebagai riwayat kejadian, data tersebut tetap dapat menjadi peringatan untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Sejarah kejadian seharusnya tidak hanya memberi tahu kita apa yang pernah terjadi, tetapi membantu menentukan apa yang perlu dipersiapkan jika kondisi serupa kembali muncul.

Jangan Menunggu Air Habis

Ketika kekeringan sudah terjadi dan masyarakat mulai kesulitan memperoleh air, distribusi air bersih tentu menjadi bagian penting dari respons kedaruratan. Namun mitigasi seharusnya dapat dimulai sebelum tangki air harus bergerak. Catatan PUSDALOPS BPBD memberi informasi tentang di mana kekeringan pernah terjadi. Informasi meteorologi dapat memberikan peringatan mengenai kondisi kekeringan yang sedang berkembang. Sementara data lingkungan hidup membantu membaca karakter dan kemampuan bentang alam yang menopang ketersediaan air.

Jika informasi tersebut dipertemukan, pemerintah dapat mulai mengenali wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih awal ketika kondisi kering mulai berkembang. Tetapi pekerjaan di atas peta saja belum cukup. Kita perlu kembali kepada sumber air. Di mana mata air yang digunakan masyarakat berada? Dari bentang alam mana air tersebut berasal? Bagaimana kondisi daerah tangkapannya? Bagaimana penutup lahannya? Dan apa yang terjadi pada sumber tersebut ketika kemarau berlangsung panjang?

Peta yang kita miliki mungkin belum mampu menjawab seluruh pertanyaan tersebut. Namun justru di situlah kegunaannya. Peta tidak menggantikan kondisi lapangan. Peta membantu menunjukkan apa yang perlu kita cari ketika turun ke lapangan.

Bagaimana Jika Data Kita Dipertemukan?

Membaca seluruh data tersebut membuat saya berpikir bahwa mungkin persoalannya bukan karena kita tidak mempunyai informasi. Mungkin informasi itu hanya berada di tempat yang berbeda-beda.

PUSDALOPS BPBD mempunyai catatan tentang kapan dan di mana kekeringan pernah terjadi. BMKG mempunyai informasi meteorologi yang dapat memberikan peringatan ketika kondisi mengarah pada kekeringan. Dinas Lingkungan Hidup mempunyai informasi D3TLH, peta ketersediaan air, jasa ekosistem, penutup lahan, serta karakter bentang alam. Sementara perangkat daerah yang menangani sumber daya air dan pelayanan air mempunyai informasi mengenai sumber dan sistem penyediaan air. Pemerintah desa dan masyarakat bahkan mempunyai pengetahuan yang lebih dekat lagi:sumber air mana yang mereka gunakan dan apa yang terjadi pada sumber tersebut ketika musim kering berlangsung panjang.

Masing-masing informasi tersebut mempunyai fungsi yang berbeda. Tetapi bayangkan jika semuanya dipertemukan dalam satu pembacaan wilayah. Catatan desa terdampak kekeringan dapat ditempatkan pada peta. Lokasinya kemudian dibaca bersama Peta Ketersediaan Air dan Peta Jasa Ekosistem Penyedia Air. Sumber air yang digunakan masyarakat dapat ditandai, kondisi daerah tangkapannya dapat dilihat, sementara informasi meteorologi digunakan untuk membaca perkembangan kondisi kering.

Dari sana kita tidak hanya memiliki peta tempat kekeringan pernah terjadi, tetapi perlahan dapat membangun informasi mengenai wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih awal ketika kondisi serupa mulai berkembang. Tentu, mempertemukan data tidak berarti bahwa satu peta kemudian dapat menentukan di mana kekeringan berikutnya pasti akan terjadi. Alam tidak bekerja sesederhana itu. Namun semakin banyak informasi yang dibaca bersama, semakin baik pula pertanyaan yang dapat kita ajukan sebelum mengambil keputusan.

Barangkali suatu wilayah mempunyai riwayat kekeringan berulang, tetapi jasa penyedia airnya tidak rendah. Maka pertanyaannya bergeser: apa yang terjadi pada sumber air masyarakat?

Barangkali air secara bentang alam tersedia, tetapi sulit diakses pada musim tertentu. Maka yang perlu diperiksa bisa jadi berbeda.

Atau mungkin terdapat perubahan kondisi pada daerah yang selama ini menopang sumber air masyarakat. Maka kita perlu kembali melihat bentang lahannya. Dengan cara seperti itu, data tidak lagi berdiri sendiri-sendiri

Catatan bencana memberi tahu kita apa yang pernah terjadi. Informasi iklim membantu membaca apa yang sedang berkembang. D3TLH membantu memahami kemampuan lingkungan. Data sumber air menunjukkan dari mana kebutuhan masyarakat dipenuhi. Dan kondisi lapangan membantu memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika informasi tersebut dipertemukan, respons terhadap kekeringan dapat bergerak satu langkah lebih maju: dari menangani kejadian menuju membangun antisipasi berdasarkan riwayat kejadian dan karakter wilayah. Mungkin persoalannya bukan karena kita kekurangan data. Mungkin data itu hanya belum cukup sering dipertemukan.

Ketika Peta Tidak Berhenti Menjadi Peta

Dari seluruh proses membaca kekeringan ini, ada satu hal yang semakin saya pahami: betapa berharganya informasi Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup ketika tidak berhenti sebagai peta dalam sebuah dokumen. Peta D3TLH bukan sekadar kumpulan warna yang membagi wilayah ke dalam kelas sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, atau sangat tinggi. Di balik warna-warna tersebut terdapat informasi mengenai kemampuan dan karakter lingkungan hidup dalam memberikan jasa yang dibutuhkan manusia.

Dalam persoalan air, misalnya, Peta Jasa Ekosistem Penyedia Air membantu kita melihat bahwa kemampuan lingkungan dalam menyediakan air tidak sama di setiap tempat. Ketika informasi tersebut dibaca bersama Peta Ketersediaan Air, karakter ekoregion, serta catatan kejadian kekeringan, peta mulai mempunyai arti yang lebih luas daripada sekadar menjadi lampiran dalam dokumen perencanaan.

Ia menjadi alat bantu untuk membaca wilayah dan mendukung pengambilan keputusan. Namun D3TLH tidak memberi kita seluruh jawaban. Peta tidak dapat menjelaskan dengan sendirinya mengapa sebuah mata air mengalami penurunan debit, mengapa suatu desa mengalami kesulitan air pada musim tertentu, atau menentukan dengan pasti di mana kekeringan berikutnya akan terjadi. Untuk itu tetap dibutuhkan data kejadian, informasi iklim, kondisi sumber air, penutup lahan, serta verifikasi terhadap kondisi yang sebenarnya di lapangan.

Justru di situlah saya melihat salah satu kegunaan penting D3TLH. D3TLH tidak selalu memberi kita jawaban akhir. Tetapi ia membantu kita mengetahui pertanyaan apa yang perlu diajukan, wilayah mana yang perlu dilihat lebih dekat, dan apa yang perlu diperiksa ketika kita turun ke lapangan.

Ketika peta menunjukkan suatu bentang memiliki kemampuan tertentu dalam menyediakan air, sementara catatan kejadian menunjukkan masyarakat di wilayah tersebut pernah mengalami kekeringan, kita tidak harus memilih mana yang benar.

Kita justru perlu bertanya: apa yang terjadi di antara keduanya?

Pertanyaan itulah yang kemudian membawa kita kepada sumber air, kondisi daerah tangkapan, pemanfaatan air, perubahan penutup lahan, pelayanan air kepada masyarakat, hingga berbagai faktor lain yang mungkin baru dapat ditemukan setelah data dan kondisi lapangan dipertemukan.

Pada titik itu, peta tidak lagi hanya menjadi produk akhir sebuah kajian. Ia menjadi awal dari sebuah pembacaan. Dan mungkin di situlah nilai penting D3TLH bagi pengelolaan lingkungan hidup: membantu kita menentukan apa yang perlu dijaga, apa yang perlu dipulihkan, dan wilayah mana yang perlu mendapat perhatian lebih dahulu berdasarkan kemampuan serta keterbatasan lingkungan hidupnya.

Membaca Sebelum Air Benar-Benar Berkurang

Catatan kekeringan 2015, 2019, dan 2023 telah meninggalkan informasi tentang wilayah-wilayah yang pernah terdampak. Memasuki Agustus 2026, peringatan dini kekeringan meteorologis kembali mengingatkan bahwa kondisi kering merupakan sesuatu yang perlu diantisipasi. Kita memang tidak dapat menentukan masa depan hanya dari beberapa catatan kejadian. Kita juga tidak dapat menunjuk satu warna pada peta lalu mengatakan bahwa di sanalah kekeringan berikutnya akan terjadi.

Tetapi kita tidak harus memulai dari nol. Kita sudah mempunyai riwayat kejadian, informasi iklim, peta ketersediaan air, D3TLH, serta informasi mengenai karakter bentang alam. Yang diperlukan adalah membuat informasi tersebut saling berbicara dan kemudian membawanya kembali ke lapangan.

Dengan begitu, kita dapat bergerak sedikit lebih jauh: dari mengetahui bahwa kekeringan pernah terjadi, menuju memahami wilayah mana yang perlu dipersiapkan sebelum kondisi serupa kembali terjadi. Dan pada akhirnya, menjaga ketersediaan air tidak dimulai ketika tangki air sudah harus dikirim.

Ia dimulai ketika kita masih mempunyai cukup air—dan cukup waktu—untuk menjaga bentang alam yang menyediakannya.

Catatan Penulis :

Tulisan ini merupakan pembacaan sederhana terhadap kondisi kekeringan di Kabupaten Bolaang Mongondow dengan menggunakan data historis kejadian dari PUSDALOPS BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow, Peta Ketersediaan Air, Peta Jasa Ekosistem Penyedia Air dalam Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH), serta Buku Deskripsi Peta Ekoregion Pulau/Kepulauan.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan penyebab kekeringan pada masing-masing wilayah maupun memprediksi lokasi kejadian berikutnya. Analisis lebih lanjut tetap memerlukan data yang lebih rinci mengenai kondisi sumber air, curah hujan, pemanfaatan air, penutup lahan, infrastruktur penyediaan air, serta verifikasi kondisi di lapangan.

Peta dan data dalam tulisan ini digunakan sebagai alat untuk membaca wilayah, menemukan pola, dan mengajukan pertanyaan yang dapat menjadi dasar bagi kajian dan pengelolaan lingkungan hidup selanjutnya. 

Tulisan ini merupakan bagian dari seri “Membaca Bencana Bolmong”, sebuah upaya sederhana untuk belajar memahami kejadian lingkungan melalui data dan bentang alam.

Sumber Data :   

PUSDALOPS BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow; Dokumen/Peta D3TLH KLHS RPJMD Kabupaten Bolaang Mongondow 2025-2029; Buku Pedoman Penyusunan D3TLH Daerah; Buku Deskripsi Peta Ekoregion Pulau/Kepulauan; serta informasi meteorologis yang digunakan dalam tulisan.


Sinindian, Selasa 04 Agustus 2026


    " DM"

     


Tidak ada komentar:

Posting Komentar