Sabtu, 03 Oktober 2026

DARI KERAN KE GUNUNG AMBANG : MEMBACA JEJAK AIR KOTAMOBAGU

Tulisan saya “Membaca Bentang Alam Dari Jalan Menuju Lokasi PETI” adalah tulisan terakhir di bulan Agustus kemarin, dibarengi dengan janji saya bahwa akan bersambung. Kenyataannya, tulisan gak bersambung tapi perjalanan tetap berlanjut, dari satu lokasi PETI ke lokasi PETI yang lain. Bukan karena saya sudah kehabisan cerita, tetapi karena pekerjaan dan kuliah yang sepertinya tidak mau memberi saya jeda. Hehehe (peace and love buat teman-teman sekelas Nci2 dan Mner yang baik hati plus semua Dosennya, I love you pull).

Lari juga ikutan menjadi korban. Target saya setiap bulan tuh 100 kilometer dan September ini hanya bisa 74,93 km, ga pa2lah daripada ga gerak sama sekali, ya kan ?

Oh ya, minggu malam kemarin saya diajak teman untuk menjadi pemantik pada sebuah diskusi yang bertema “Krisis Iklim dan Mereka yang Menanggung Dampaknya”. Salah satu pemaparan dari hasil liputan di lima kabupaten provinsi Sulawesi Utara oleh pimred zonautara.com menyoroti dampak krisis iklim terhadap penghidupan petani, nelayan, perempuan dan kelompok rentan. Intinya ketidakpastian musim, berkurangnya air serta gangguan mata pencaharian memperlihatkan bahwa krisis iklim juga merupakan persoalan sosial, ekonomi dan keadilan. Saya sendiri mambawakan materi “Membaca Krisis Iklim Dari Bentang Alam Kita Sendiri “.

Banyak hal yang berkembang dari diskusi kita malam itu, persoalan krisis iklim bukan hanya dilihat dari tidak adanya hujan yang turun tapi perlu melihat apa yang sedang terjadi pada bentang alam dimana kita hidup. Karena ketika musim berubah menjadi tidak menentu, ketika hujan datang dengan pola yang berbeda, ketika kemarau terasa lebih panjang, dampaknya bukan hanya soal apakah hari ini akan hujan atau tidak. Ada petani yang harus memikirkan tanamannya, ada nelayan yang membaca laut dengan ketidakpastian, ada perempuan yang harus memastikan air tersedia untuk kebutuhan rumah tangga, dan ada begitu banyak orang yang kehidupannya bergantung langsung pada kondisi alam.

Saya kemudian berpikir bagaimana dengan kita yang tinggal di Kota Kotamobagu ? Saya sudah berhenti menjadi pelanggan PDAM sejak kurang lebih 6 atau 7 tahun lalu. Penyebabnya sederhana, air yang keluar dari keran sudah sedikit dan itupun dijatah waktunya. Biasanya saat tengah malam baru air akan jalan.

Itu artinya saya harus berdebat atau bahkan ngomong sendiri dengan makhluk malam lainnya. Orang-orang sudah pada tidur istirahat saya masih berjibaku dengan pakaian kotor dan air yang mengalir mengikuti kehendaknya. Maka saya pun menggunakan sumur gali untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Masalahnya sekarang, debit air yang keluar sudah mulai sedikit dikarenakan musim kemarau yang sudah berlangsung nyaris 3 bulan ini. Tanaman-tanaman di halaman rumah, ada yang sudah berada pada “titik layu permanen”. Belum lagi urusan debu yang sudah sama persis seperti bubuk tepung. Tinggal menunggu digosok di muka aja, hehehe.

Kalau air di sumur rumah saya saja mulai berkurang ketika kemarau berlangsung panjang, lalu bagaimana dengan sumber air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan satu kota?

Saya teringat perjalanan di bulan April tahun ini, kami mendatangi lokasi beberapa sumber mata air yang dikelola oleh PDAM Tirta Bukaka Kabupaten Bolaang Mongondow. Salah satunya adalah Mata Air Bukaka yang melayani wilayah Kota Kotamobagu dengan kapasitas terpasang sebesar 204 liter/detik.

Angka 204 liter/detik itu cukup besar kalau kita hanya melihatnya sebagai angka. Tapi bagi saya, setelah melihat langsung lokasi sumber airnya, angka itu justru memunculkan pertanyaan lain. Air sebanyak itu datang dari mana? Dan yang lebih penting lagi, apa yang membuat air itu tetap ada dan bisa keluar dari sebuah mata air? Pertanyaan itu kemudian membawa saya untuk melihat Bukaka bukan hanya sebagai sebuah sumber air baku, tetapi sebagai bagian dari bentang alam yang lebih luas - Dua Ratus Empat Liter Setiap Detik-

Kalau dihitung-hitung, dalam satu menit ada sekitar 12.240 liter air yang bisa dialirkan. Dalam satu jam, jumlahnya tentu jauh lebih besar lagi. Tapi saya justru tidak terlalu tertarik pada hitung-hitungan itu. Yang kemudian muncul di kepala saya adalah pertanyaan yang lebih sederhana - dari mana air sebanyak itu berasal ?- 

Karena air yang keluar dari mata air tidak muncul begitu saja. Sebelum sampai ke titik itu, ada hujan yang jatuh, ada tanah yang menerima dan menyimpan air, ada vegetasi yang tumbuh, ada lereng dan batuan yang mengatur perjalanan air di bawah permukaan, dan ada bentang alam yang bekerja jauh sebelum air itu akhirnya muncul sebagai mata air. Jadi kalau kita ingin berbicara tentang ketahanan air Kota Kotamobagu, mungkin kita tidak bisa hanya melihat apa yang terjadi di dalam kota. Kita perlu berjalan sedikit lebih jauh ke belakang - Ke Tempat Air Itu Berasal-

Yang menarik, lokasi Mata Air Bukaka ini tidak berada jauh dari permukiman. Ketika kami melakukan verifikasi beberapa sumber mata air lainnya, sebagian besar lokasi mata air berada di kebun atau lahan yang relatif jauh dari permukiman. Bahkan kadang kita harus masuk ke dalam kebun untuk menemukan titik sumbernya. Bukaka berbeda. Mata air ini justru berada tidak jauh dari permukiman.

Sekilas mungkin ini terlihat sebagai hal biasa. Bukankah lebih mudah kalau sumber air berada dekat dengan tempat orang tinggal? Tapi bagi saya justru di situlah menariknya. Kalau titik keluarnya air berada dekat dengan permukiman, bukan berarti proses yang menghasilkan air tersebut juga hanya terjadi di sekitar permukiman. Air yang keluar di Bukaka tentu telah mengalami perjalanan sebelumnya. Hujan yang jatuh di suatu bentang alam, sebagian mengalir di permukaan, sebagian masuk ke dalam tanah, tersimpan atau bergerak melalui lapisan tanah dan batuan, kemudian pada kondisi tertentu muncul kembali sebagai mata air.

Jadi, kalau kita hanya berdiri di titik Mata Air Bukaka, kita sebenarnya baru melihat ujung dari perjalanan air. Lalu saya mulai penasaran: kalau mata airnya ada di sini, bentang alam yang memberi makan mata air ini ada di mana? – penasaran ni ye ☺-

Saya kemudian mencoba melihatnya dari peta dan dokumen laporan yang ada. Ternyata, untuk memahami sebuah mata air kita memang tidak cukup hanya melihat titik di mana air itu keluar. Kita perlu melihat apa yang ada di sekeliling dan terutama di bagian hulunya. Di mana kawasan yang menerima hujan? Bagaimana kondisi tutupan lahannya? Bagaimana tanahnya, topografinya, lerengnya ? Semua faktor biogeofisiknya serta kemana air bergerak setelah hujan turun?

Dari sini saya mulai masuk ke persoalan DAS.

Selama ini kita sering mendengar istilah DAS ketika berbicara tentang banjir, longsor, sedimentasi atau pencemaran sungai. Tapi sebenarnya DAS bukan hanya soal sungai yang terlihat mengalir di permukaan. DAS adalah sebuah bentang alam yang bekerja sebagai satu kesatuan, dari wilayah hulu sampai ke bagian hilirnya. Dan di sinilah saya mulai melihat persoalannya menjadi menarik.

Kota Kotamobagu secara administratif memang sebuah kota. Tetapi air yang digunakan oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya tidak mengenal batas administrasi. Air tidak tahu di mana batas Kota Kotamobagu, di mana batas Kabupaten Bolaang Mongondow, atau di mana batas kecamatan. Air mengikuti kontur, tanah, batuan, lereng dan sistem alirannya sendiri. Karena itu, ketika kita berbicara tentang ketahanan air Kota Kotamobagu, rasanya agak aneh kalau kita hanya melihat apa yang terjadi di dalam batas kota. Kita harus keluar sedikit dari kota.

Bahkan mungkin jauh keluar dari kota. Saya kemudian mencoba menelusuri posisi Mata Air Bukaka berdasarkan koordinat yang tercantum dalam peta lokasi sumber air. Dari titik itu, saya mulai melihat hubungan Bukaka dengan wilayah di sekitarnya dan bagaimana posisinya terhadap sistem DAS yang lebih luas.

Di sinilah saya menemukan satu hal yang menarik: Mata Air Bukaka berada pada bentang alam yang secara hidrologis terhubung dengan wilayah hulu yang jauh lebih luas daripada sekadar lokasi mata air itu sendiri. Dan ketika peta itu saya tarik semakin jauh ke arah hulu, pandangan saya mulai sampai pada satu kawasan yang sebenarnya sudah sangat familiar bagi kita - Gunung Ambang - Oh ya, saya naik Gunung Ambang dari kelas VI SD loh, waktu itu sekitar tahun 1988, keren kan ? 😀Gunung yang selama ini mungkin lebih sering kita kenal sebagai tempat dengan udara dingin, kawasan hutan, bahkan tempat tektok-naik, sampai atas, foto-foto, lalu turun lagi. Yang penting ada foto sebagai  bukti pernah sampai 😀.

Kalau kita melihatnya dari perspektif air, Gunung Ambang punya cerita yang berbeda. Ia adalah bagian dari bentang alam hulu.  Di sanalah hujan jatuh. Di sanalah vegetasi, tanah, lereng dan batuan bekerja bersama-sama mengatur ke mana air akan pergi. Sebagian air menjadi aliran permukaan, sebagian masuk ke dalam tanah dan bergerak melalui bawah permukaan, sebagian lagi tersimpan untuk kemudian dilepaskan secara perlahan.

Dan mungkin, pada akhirnya, sebagian perjalanan air itulah yang membuat sebuah titik seperti Mata Air Bukaka tetap mengeluarkan air. Jadi, ketika kita membuka keran di Kota Kotamobagu, sebenarnya kita sedang menikmati hasil dari sebuah proses yang berlangsung jauh sebelum air itu sampai ke rumah kita.

Saya jadi ingat pertemuan senin dan selasa minggu ini, ketika kami membahas tentang Pembentukan Forum Multipihak Pengelolaan Areal Preservasi Koridor Ekologis Gunung Ambang atau KEGA.

Saya kemudian membuka kembali Dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Cagar Alam Gunung Ambang Tahun 2023–2032. Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa Resort CA Gunung Ambang berada dalam wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah I Sulawesi Utara, Balai KSDA Sulawesi Utara. Kawasan ini  merupakan bagian dari pegunungan yang membentang di Sulawesi Utara termasuk Gunung Lokon, Gunung Soputan, Gunung Paniki dan pegunungan Tentolo-Matinan.

Dokumen tersebut juga menggambarkan karakter bentang alam bagian tengahnya dicirikan dengan adanya dua lembah dimana salah satu memanjang dari pantai selatan ke arah tengah dari semenanjung, bergabung dengan lembah yang melintas antara Kota Kotamobagu dan Tompaso Baru.  Kawasan ini dikelilingi oleh pegunungan dengan variasi lembah dan banyak sungai termasuk di dalamnya dua sistem drainase utama dari Sungai Onggak Mongondow menuju barat dan Sungai Poigar ke arah timur.

Membaca bagian ini, saya jadi semakin melihat bahwa cerita tentang air Kotamobagu ternyata jauh lebih besar daripada sekadar cerita tentang sebuah mata air. Dari perjalanan membaca bentang alam ini, saya semakin memahami bahwa tidak ada bagian dari alam yang benar-benar berdiri sendiri. Air yang kita gunakan di kota berkaitan dengan hujan yang jatuh di hulu, dengan tanah yang menyerapnya, dengan vegetasi yang menutupinya, dengan sungai yang mengalirkannya, dan dengan cara manusia memperlakukan seluruh ruang di antara hulu dan hilir.

Begitu juga dengan manusia. Kita memang hidup dalam ruang yang berbeda-beda, tetapi sesungguhnya berada dalam satu sistem yang sama.

Orang yang tinggal di bagian hulu mungkin tidak pernah bertemu dengan orang yang tinggal di hilir. Begitu juga sebaliknya. Tetapi tindakan yang dilakukan di satu tempat dapat membawa konsekuensi ke tempat lain. Ketika hulu tidak lagi mampu menjalankan fungsinya dengan baik, hilir dapat menerima dampaknya. Ketika hilir tidak menjaga sungai, air dan lingkungannya, dampaknya pun tidak berhenti di hilir. Batas-batas administratif yang kita buat tidak pernah menjadi batas bagi air, udara, tanah dan proses-proses ekologis.

Apa yang kita lakukan di satu tempat bisa menjadi persoalan bagi tempat lain.

Ketika wilayah hulu kehilangan tutupannya, hilir bisa menerima limpasan, erosi dan sedimentasi yang lebih besar. Ketika hilir mencemari sungai atau tidak mampu mengelola limbahnya, dampaknya pun tidak berhenti di tempat limbah itu dibuang. Kita saling terhubung.

Inilah yang menurut saya sering kita lupa : kita tidak sedang hidup di dalam potongan-potongan wilayah yang berdiri sendiri. Kita sedang hidup di dalam sebuah bentang alam yang saling terhubung. Karena itu, persoalan lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan mencari siapa yang salah.

Pemerintah tentu mempunyai kewenangan dan tanggung jawab. Ada kebijakan yang harus dibuat, kawasan yang harus dilindungi, pemanfaatan ruang yang harus dikendalikan dan pengawasan yang harus dilakukan.

Tetapi di luar semua itu, ada sesuatu yang tidak bisa seluruhnya diserahkan kepada pemerintah: kesadaran kita sendiri tentang bagaimana kita memperlakukan ruang tempat kita hidup.

Mungkin kita tidak bisa mengubah seluruh bentang alam. Kita juga tidak bisa mengendalikan kapan hujan turun atau kapan kemarau datang. Tetapi kita bisa memilih bagaimana memperlakukan tanah, air, pohon, sungai dan ruang di sekitar kita.

Maka mungkin, sebelum bertanya apa yang sudah dilakukan pemerintah, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah kita lakukan terhadap bentang alam yang selama ini menopang kehidupan kita? Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya tentang menjaga alam untuk alam itu sendiri.

Kita sedang menjaga sistem yang di dalamnya kita sendiri hidup.

Dan mungkin itulah yang saya pahami dari perjalanan membaca bentang alam ini: ketika kita menjaga hulu, kita sedang menjaga hilir. Ketika kita menjaga air, kita sedang menjaga kehidupan. Dan ketika kita menjaga bentang alam, sesungguhnya kita sedang menjaga diri kita sendiri.


Sinindian, Sabtu 3 Oktober 2026


  " DM"


Sumber Tulisan :

1. Laporan Monitoring dan Evaluasi Pengelolan DAS Dumoga Mongondow. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Tondano, 2024.

2. Karakteristik DAS Poigar. Laporan Identifikasi Karakteristik/Baseline DAS Poigar. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Tondano, 2026.

3. RPJP CA. Gunung Ambang 2023-2032. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara.  

4. Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) Pengambilan Air Baku di Mata Air Bukaka Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara. PDAM Tirta Bukaka Kabupaten Bolaang Mongondow, 2026. 



Ket : Gunung Ambang, 14 April 2024