Tulisan saya “Membaca Bentang Alam Dari Jalan Menuju Lokasi PETI” adalah tulisan terakhir di bulan Agustus kemarin, dibarengi dengan janji saya bahwa akan bersambung. Kenyataannya, tulisan gak bersambung tapi perjalanan tetap berlanjut, dari satu lokasi PETI ke lokasi PETI yang lain. Bukan karena saya sudah kehabisan cerita, tetapi karena pekerjaan dan kuliah yang sepertinya tidak mau memberi saya jeda. Hehehe (peace and love buat teman-teman sekelas Nci2 dan Mner yang baik hati plus semua Dosennya, I love you pull).
Lari
juga ikutan menjadi korban. Target saya setiap bulan tuh 100 kilometer dan
September ini hanya bisa 74,93 km, ga pa2lah daripada ga gerak sama
sekali, ya kan ?
Oh
ya, minggu malam kemarin saya diajak teman untuk menjadi pemantik pada sebuah
diskusi yang bertema “Krisis Iklim dan Mereka yang Menanggung Dampaknya”.
Salah satu pemaparan dari hasil liputan di lima kabupaten provinsi Sulawesi Utara
oleh pimred zonautara.com menyoroti dampak krisis iklim terhadap penghidupan
petani, nelayan, perempuan dan kelompok rentan. Intinya ketidakpastian musim,
berkurangnya air serta gangguan mata pencaharian memperlihatkan bahwa krisis
iklim juga merupakan persoalan sosial, ekonomi dan keadilan. Saya sendiri mambawakan
materi “Membaca Krisis Iklim Dari Bentang Alam Kita Sendiri “.
Banyak
hal yang berkembang dari diskusi kita malam itu, persoalan krisis iklim bukan
hanya dilihat dari tidak adanya hujan yang turun tapi perlu melihat apa yang
sedang terjadi pada bentang alam dimana kita hidup. Karena ketika musim berubah
menjadi tidak menentu, ketika hujan datang dengan pola yang berbeda, ketika
kemarau terasa lebih panjang, dampaknya bukan hanya soal apakah hari ini akan
hujan atau tidak. Ada petani yang harus memikirkan tanamannya, ada nelayan yang
membaca laut dengan ketidakpastian, ada perempuan yang harus memastikan air
tersedia untuk kebutuhan rumah tangga, dan ada begitu banyak orang yang
kehidupannya bergantung langsung pada kondisi alam.
Saya
kemudian berpikir bagaimana dengan kita yang tinggal di Kota Kotamobagu ? Saya
sudah berhenti menjadi pelanggan PDAM sejak kurang lebih 6 atau 7 tahun lalu.
Penyebabnya sederhana, air yang keluar dari keran sudah sedikit dan itupun
dijatah waktunya. Biasanya saat tengah malam baru air akan jalan.
Itu
artinya saya harus berdebat atau bahkan ngomong sendiri dengan makhluk malam
lainnya. Orang-orang sudah pada tidur istirahat saya masih berjibaku dengan
pakaian kotor dan air yang mengalir mengikuti kehendaknya. Maka saya pun
menggunakan sumur gali untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Masalahnya
sekarang, debit air yang keluar sudah mulai sedikit dikarenakan musim kemarau
yang sudah berlangsung nyaris 3 bulan ini. Tanaman-tanaman di halaman rumah, ada
yang sudah berada pada “titik layu permanen”. Belum lagi urusan debu yang sudah
sama persis seperti bubuk tepung. Tinggal menunggu digosok di muka aja, hehehe.
Kalau
air di sumur rumah saya saja mulai berkurang ketika kemarau berlangsung
panjang, lalu bagaimana dengan sumber air yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan satu kota?
Saya
teringat perjalanan di bulan April tahun ini, kami mendatangi lokasi beberapa sumber
mata air yang dikelola oleh PDAM Tirta Bukaka Kabupaten Bolaang Mongondow. Salah
satunya adalah Mata Air Bukaka yang melayani wilayah Kota Kotamobagu dengan
kapasitas terpasang sebesar 204 liter/detik.
Angka
204 liter/detik itu cukup besar kalau kita hanya melihatnya sebagai angka. Tapi
bagi saya, setelah melihat langsung lokasi sumber airnya, angka itu justru
memunculkan pertanyaan lain. Air sebanyak itu datang dari mana? Dan yang lebih
penting lagi, apa yang membuat air itu tetap ada dan bisa keluar dari sebuah
mata air? Pertanyaan itu kemudian membawa saya untuk melihat Bukaka bukan hanya
sebagai sebuah sumber air baku, tetapi sebagai bagian dari bentang alam yang
lebih luas - Dua Ratus Empat Liter Setiap Detik-
Kalau
dihitung-hitung, dalam satu menit ada sekitar 12.240 liter air yang bisa
dialirkan. Dalam satu jam, jumlahnya tentu jauh lebih besar lagi. Tapi saya
justru tidak terlalu tertarik pada hitung-hitungan itu. Yang kemudian muncul di
kepala saya adalah pertanyaan yang lebih sederhana - dari mana air sebanyak itu
berasal ?-
Karena
air yang keluar dari mata air tidak muncul begitu saja. Sebelum sampai ke titik
itu, ada hujan yang jatuh, ada tanah yang menerima dan menyimpan air, ada
vegetasi yang tumbuh, ada lereng dan batuan yang mengatur perjalanan air di
bawah permukaan, dan ada bentang alam yang bekerja jauh sebelum air itu
akhirnya muncul sebagai mata air. Jadi kalau kita ingin berbicara tentang
ketahanan air Kota Kotamobagu, mungkin kita tidak bisa hanya melihat apa yang
terjadi di dalam kota. Kita perlu berjalan sedikit lebih jauh ke belakang - Ke
Tempat Air Itu Berasal-
Yang
menarik, lokasi Mata Air Bukaka ini tidak berada jauh dari permukiman. Ketika
kami melakukan verifikasi beberapa sumber mata air lainnya, sebagian besar
lokasi mata air berada di kebun atau lahan yang relatif jauh dari permukiman.
Bahkan kadang kita harus masuk ke dalam kebun untuk menemukan titik sumbernya. Bukaka
berbeda. Mata air ini justru berada tidak jauh dari permukiman.
Sekilas
mungkin ini terlihat sebagai hal biasa. Bukankah lebih mudah kalau sumber air
berada dekat dengan tempat orang tinggal? Tapi bagi saya justru di situlah
menariknya. Kalau titik keluarnya air berada dekat dengan permukiman, bukan
berarti proses yang menghasilkan air tersebut juga hanya terjadi di sekitar
permukiman. Air yang keluar di Bukaka tentu telah mengalami perjalanan
sebelumnya. Hujan yang jatuh di suatu bentang alam, sebagian mengalir di
permukaan, sebagian masuk ke dalam tanah, tersimpan atau bergerak melalui
lapisan tanah dan batuan, kemudian pada kondisi tertentu muncul kembali sebagai
mata air.
Jadi,
kalau kita hanya berdiri di titik Mata Air Bukaka, kita sebenarnya baru melihat
ujung dari perjalanan air. Lalu saya mulai penasaran: kalau mata airnya ada di
sini, bentang alam yang memberi makan mata air ini ada di mana? – penasaran ni
ye ☺-
Saya
kemudian mencoba melihatnya dari peta dan dokumen laporan yang ada. Ternyata,
untuk memahami sebuah mata air kita memang tidak cukup hanya melihat titik di
mana air itu keluar. Kita perlu melihat apa yang ada di sekeliling dan terutama
di bagian hulunya. Di mana kawasan yang menerima hujan? Bagaimana kondisi
tutupan lahannya? Bagaimana tanahnya, topografinya, lerengnya ? Semua faktor biogeofisiknya serta kemana air bergerak setelah hujan turun?
Dari
sini saya mulai masuk ke persoalan DAS.
Selama ini kita sering mendengar istilah DAS ketika berbicara tentang banjir, longsor, sedimentasi atau pencemaran sungai. Tapi sebenarnya DAS bukan hanya soal sungai yang terlihat mengalir di permukaan. DAS adalah sebuah bentang alam yang bekerja sebagai satu kesatuan, dari wilayah hulu sampai ke bagian hilirnya. Dan di sinilah saya mulai melihat persoalannya menjadi menarik.
Kota
Kotamobagu secara administratif memang sebuah kota. Tetapi air yang digunakan
oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya tidak mengenal batas administrasi. Air
tidak tahu di mana batas Kota Kotamobagu, di mana batas Kabupaten Bolaang
Mongondow, atau di mana batas kecamatan. Air mengikuti kontur, tanah, batuan,
lereng dan sistem alirannya sendiri. Karena itu, ketika kita berbicara tentang
ketahanan air Kota Kotamobagu, rasanya agak aneh kalau kita hanya melihat apa
yang terjadi di dalam batas kota. Kita harus keluar sedikit dari kota.
Bahkan
mungkin jauh keluar dari kota. Saya kemudian mencoba menelusuri posisi Mata Air
Bukaka berdasarkan koordinat yang tercantum dalam peta lokasi sumber air. Dari
titik itu, saya mulai melihat hubungan Bukaka dengan wilayah di sekitarnya dan
bagaimana posisinya terhadap sistem DAS yang lebih luas.
Di sinilah saya menemukan satu hal yang menarik: Mata Air Bukaka berada pada bentang alam yang secara hidrologis terhubung dengan wilayah hulu yang jauh lebih luas daripada sekadar lokasi mata air itu sendiri. Dan ketika peta itu saya tarik semakin jauh ke arah hulu, pandangan saya mulai sampai pada satu kawasan yang sebenarnya sudah sangat familiar bagi kita - Gunung Ambang - Oh ya, saya naik Gunung Ambang dari kelas VI SD loh, waktu itu sekitar tahun 1988, keren kan ? 😀Gunung yang selama ini mungkin lebih sering kita kenal sebagai tempat dengan udara dingin, kawasan hutan, bahkan tempat tektok-naik, sampai atas, foto-foto, lalu turun lagi. Yang penting ada foto sebagai bukti pernah sampai 😀.
Kalau
kita melihatnya dari perspektif air, Gunung Ambang punya cerita yang berbeda. Ia
adalah bagian dari bentang alam hulu. Di
sanalah hujan jatuh. Di sanalah vegetasi, tanah, lereng dan batuan bekerja
bersama-sama mengatur ke mana air akan pergi. Sebagian air menjadi aliran
permukaan, sebagian masuk ke dalam tanah dan bergerak melalui bawah permukaan,
sebagian lagi tersimpan untuk kemudian dilepaskan secara perlahan.
Dan
mungkin, pada akhirnya, sebagian perjalanan air itulah yang membuat sebuah
titik seperti Mata Air Bukaka tetap mengeluarkan air. Jadi, ketika kita membuka
keran di Kota Kotamobagu, sebenarnya kita sedang menikmati hasil dari sebuah
proses yang berlangsung jauh sebelum air itu sampai ke rumah kita.
Saya
jadi ingat pertemuan senin dan selasa minggu ini, ketika kami membahas tentang
Pembentukan Forum Multipihak Pengelolaan Areal Preservasi Koridor Ekologis
Gunung Ambang atau KEGA.
Saya
kemudian membuka kembali Dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP)
Cagar Alam Gunung Ambang Tahun 2023–2032. Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa
Resort CA Gunung Ambang berada dalam wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah I
Sulawesi Utara, Balai KSDA Sulawesi Utara. Kawasan ini merupakan bagian dari pegunungan yang membentang
di Sulawesi Utara termasuk Gunung Lokon, Gunung Soputan, Gunung Paniki dan
pegunungan Tentolo-Matinan.
Dokumen
tersebut juga menggambarkan karakter
bentang alam bagian tengahnya dicirikan dengan adanya dua lembah dimana salah
satu memanjang dari pantai selatan ke arah tengah dari semenanjung, bergabung
dengan lembah yang melintas antara Kota Kotamobagu dan Tompaso Baru. Kawasan ini dikelilingi oleh pegunungan dengan
variasi lembah dan banyak sungai termasuk di dalamnya dua sistem drainase utama
dari Sungai Onggak Mongondow menuju barat dan Sungai Poigar ke arah timur.
Membaca
bagian ini, saya jadi semakin melihat bahwa cerita tentang air Kotamobagu
ternyata jauh lebih besar daripada sekadar cerita tentang sebuah mata air. Dari perjalanan membaca bentang alam
ini, saya semakin memahami bahwa tidak ada bagian dari alam yang benar-benar
berdiri sendiri. Air yang kita gunakan di kota berkaitan dengan hujan yang
jatuh di hulu, dengan tanah yang menyerapnya, dengan vegetasi yang menutupinya,
dengan sungai yang mengalirkannya, dan dengan cara manusia memperlakukan
seluruh ruang di antara hulu dan hilir.
Begitu
juga dengan manusia. Kita memang hidup dalam ruang yang berbeda-beda, tetapi
sesungguhnya berada dalam satu sistem yang sama.
Orang
yang tinggal di bagian hulu mungkin tidak pernah bertemu dengan orang yang
tinggal di hilir. Begitu juga sebaliknya. Tetapi tindakan yang dilakukan di
satu tempat dapat membawa konsekuensi ke tempat lain. Ketika hulu tidak lagi
mampu menjalankan fungsinya dengan baik, hilir dapat menerima dampaknya. Ketika
hilir tidak menjaga sungai, air dan lingkungannya, dampaknya pun tidak berhenti
di hilir. Batas-batas administratif yang kita buat tidak pernah menjadi batas
bagi air, udara, tanah dan proses-proses ekologis.
Apa
yang kita lakukan di satu tempat bisa menjadi persoalan bagi tempat lain.
Ketika
wilayah hulu kehilangan tutupannya, hilir bisa menerima limpasan, erosi dan
sedimentasi yang lebih besar. Ketika hilir mencemari sungai atau tidak mampu
mengelola limbahnya, dampaknya pun tidak berhenti di tempat limbah itu dibuang.
Kita saling terhubung.
Inilah
yang menurut saya sering kita lupa : kita tidak sedang hidup di dalam
potongan-potongan wilayah yang berdiri sendiri. Kita sedang hidup di dalam
sebuah bentang alam yang saling terhubung. Karena itu, persoalan lingkungan
tidak selalu harus dimulai dengan mencari siapa yang salah.
Pemerintah
tentu mempunyai kewenangan dan tanggung jawab. Ada kebijakan yang harus dibuat,
kawasan yang harus dilindungi, pemanfaatan ruang yang harus dikendalikan dan
pengawasan yang harus dilakukan.
Tetapi
di luar semua itu, ada sesuatu yang tidak bisa seluruhnya diserahkan kepada
pemerintah: kesadaran kita sendiri tentang bagaimana kita memperlakukan ruang
tempat kita hidup.
Mungkin
kita tidak bisa mengubah seluruh bentang alam. Kita juga tidak bisa
mengendalikan kapan hujan turun atau kapan kemarau datang. Tetapi kita bisa
memilih bagaimana memperlakukan tanah, air, pohon, sungai dan ruang di sekitar
kita.
Maka
mungkin, sebelum bertanya apa yang sudah dilakukan pemerintah, ada baiknya kita
bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah kita lakukan terhadap bentang alam
yang selama ini menopang kehidupan kita? Karena pada akhirnya, menjaga
lingkungan bukan hanya tentang menjaga alam untuk alam itu sendiri.
Kita
sedang menjaga sistem yang di dalamnya kita sendiri hidup.
Dan mungkin itulah
yang saya pahami dari perjalanan membaca bentang alam ini: ketika kita menjaga
hulu, kita sedang menjaga hilir. Ketika kita menjaga air, kita sedang menjaga
kehidupan. Dan ketika kita menjaga bentang alam, sesungguhnya kita sedang
menjaga diri kita sendiri.
Sinindian, Sabtu 3 Oktober 2026
" DM"
Sumber Tulisan :
1. Laporan Monitoring dan Evaluasi Pengelolan DAS Dumoga Mongondow. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Tondano, 2024.
2. Karakteristik DAS Poigar. Laporan Identifikasi Karakteristik/Baseline DAS Poigar. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Tondano, 2026.
3. RPJP CA. Gunung Ambang 2023-2032. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara.
4. Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) Pengambilan Air Baku di Mata Air Bukaka Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara. PDAM Tirta Bukaka Kabupaten Bolaang Mongondow, 2026.
Ket : Gunung Ambang, 14 April 2024
