Kamis, 05 September 2019

PEMANDANGAN PAGI DI BULAN SEPTEMBER 2019

Pagi ini, masih sama seperti pagi2 kemarin,angin bertiup (kali ini musim angin selatan yang hembusannya kuenceng kadang bisa bikin mobil yang kita kendarai bagi sopir harus kuat menahan setir mobil) dan debu-debu yang beterbangan bisa membuat ISPA kita meningkat serta sinar matahari yang selalu setia menyinari bumi tanpa pamrih....
Beberapa bulan terakhir ini,saya sering membaca peristiwa kebakaran lahan yang terjadi di sekitar tempat negeri tempat saya mengabdi, bahkan sudah ditetapkan statusnya sebagai status siaga darurat.Dan ada beberapa kali juga ketika kami pulang agak malam, saya melihat kebakaran itu di sepanjang jalan pulang.
Pagi ini, pemandangan yang menguning agak keemas-emasan menghiasi lahan yang kita lewati setiap hari.Sejauh mata memandang pun yang nampak kehijauan hanyalah pegunungan yang berada di kejauhan dengan tutupan vegetasi yang rapat, mungkin kalau kita melihat lebih dekat nasibnya akan sama dengan pemandangan di pinggir jalanan atau kurang lebih sejauh mana mata kita melihatnya.
Ketika membaca Laporan IPCC (Intergovernmental Planel Climate Change atau Panel Pemerintah Antar Perubahan Iklim) seperti yang diberitakan oleh Betahita pada tanggal 12 Agustus 2019, menyatakan bahwa laporan tersebut menggarisbawahi perubahan iklim dan dampaknya terhadap degradasi lahan, keamanan pangan serta emisi gas rumah kaca dimana kekeringan, suhu panas serta kebakaran hutan adalah beberapa dampak dari memanasnya suhu bumi.Mungkin bagi yang membacanya hanya sambil lalu tidak terlalu pusing akan hal tersebut, tapi bagi yang paham akan sedih dan sangat prihatin dengan keadaan ini.
Menurut laporan juga, pada periode 2016-2017 sektor pertanian dan kehutanan diperkirakan menyumbang 23 persen dari total emisi gas rumah kaca.
Teman-teman yang belum begitu paham dengan yang namanya gas rumah kaca, simplenya nih buka google aja search gas rumah kaca pasti ada ☺
Sedikit saya sampaikan disini sumber-sumber utama emisi gas rumah kaca yang ada kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari terutama buat yang bermukim di negeri 9 matahari dan sekitarnya.
Sektor kehutanan yaitu berupa pembakaran hutan atau lahan;
Sektor pertanian berupa penggunaan pupuk dan pembakaran hasil pertanian, lahan sawah dan aktivitas peternakan.
Sektor energi, energi yang digunakan untuk kebutuhan transportasi, industri dan rumah tangga;
Untuk rumah tangga berupa bahan bakar yang digunakan untuk memasak diantaranya listrik, gas/LPG, minyak tanah, dan kayu bakar.
Untuk transportasi berupa konsumsi bahan bakar setiap jenis kendaraan.
Sektor limbah berupa TPA (sanitary landfill), tempat pembuangan sampah yang tidak dapat dikategorikan serta pengolahan dan pembuangan air limbah.
Menurut Buku Laporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Tahun 2018 pada tahun 2019 rekapitulasi inventarisasi limbah padat dan limbah cair untuk Provinsi Sulawesi Utara (Hasil Perhitungan Tim Penyusun Iventarisasi GRK Prov. Sulut 2014) pada kondisi Business As Usual (BAU) diperkirakan mencapai 492,210 ton e CO2 dimana Manado memiliki kontribusi terbesar 23% dan Bolaang Mongondow posisi ke 4 sebesar 8%. Untuk wilayah-wilayah BMR yang lain kontribusinya adalah Kota Kotamobagu 5,3%, Boltim 2,4%, Bolmut 2,4 % dan Bolsel 2,1% yang kalau dijumlahkan keseluruhan BMR bisa mencapai 20.3 % nyaris mendekati posisi pertama yang dipegang oleh Kota Manado.
Berdasarkan data dari Sign Smart  Direktorat Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring, Pelaporan dan Verifikasi untuk Grafik Total Emisi sampai dengan tahun 2014 sektor lahan merupakan total emisi yang terbanyak sedangkan untukSulawesi Utara secara keseluruhan selain  sektor lahan sektor energi juga merupakan penyumbang emisi terbesar.
Ini data dari tahun 2014 alias 5 tahun yang lalu.Dan wajar saja untuk sekarang panasnya semakin semakin panas sampai beberapa kali lipat.Dan bisa jadi juga emisi dari semua sektor semakin semakin naik...(So dapa rasa skali awu.......☀☀☀).
Dan kalau kita masih acuh tak acuh, tak peduli dengan keadaan ini maka kiamat kecil pun semakin lama semakin membesaaaaaar......
Berbagai usaha dan solusi sudah dilakukan terutama sosialisasi kepada masyarakat bahwa jangan membakar lahan secara sembarangan di musim panas yang ekstrim ini,akan tetapi tetap saja mereka kumabal dan akan kah kita setiap hari kesana kemari bak pemimpin demo untuk memberitahukan kepada mereka jangan membakar sembarangan di musim panas ini??????(kalo ada yang mo suka coba..silahkan....).
Keseimbangan itu sejak jaman dahulu kala selalu ada tapi karena keegoisan dan ke-antropogenik-an manusia sebagai mahluk ciptaan yang paling berakal maka disitulah letak kiamat dunia....
Mungkin ketika alam akan memberi pelajaran baru mahluk yang disebut sebagai manusia akan benar-benar sadar dan bertobat.
Oh ya, hal kecil yang bisa kita lakukan untuk mengurangi panasnya bumi kita yaitu salah satunya adalah hemat energi, kalo so abis pake itu carjer no cabu akang kasiang dari depe strom tetap ba jalan, matikanlah lampu yang tidak diperlukan (ini banyak sx au dimana-mana tenga hari tua lampu tetap ada pasang) dengan jangan buang sampah sambarang (nda usah jo mo cumu itu sampah2 yanga ada dimana-mana dari mou deng malaikat pencabut nyawa so ada itu).
Yang lain bisa cari sendiri dan jangan sok tidak peduli ne karena bumi ini bukan milik anda seorang bukan milik keegoisan anda seorang karena dampaknya yang bisa merasakan adalah kita semua gaaaaiiiiis.....eh ada yg lupa, biasanya juga doa-doa orang teraniaya langsung menembus atap langit..dan bisa jadi juga Allah memberikan pelajaran bagi mereka yg doa-doa orang teraniayanya di dengar.....sekarang aja Allah dah memberi kita pelajaran dengan musim panas yang dah berapa bulan ini dan kalau semakin lama air akan berkurang maka genaplah sudah semua...
Bukankah kita diberi akal agar dapat membaca semuanya..???

Jumat, 6 September 2019
Siang Yang Membara Di Ruangan Belakang Saya
Kantor Ku Sayang Kantor Ku Malang



_DM_

2 komentar:

  1. Tetap semangat menulis, dan jangan pernah lelah mengkampanyekan tentang lingkungan twins... semangat

    BalasHapus