Pagi ini dalam perjalanan ke negeri tempat saya mengabdi tiba-tiba saya teringat akan judul albumnya penyanyi religi Opick yang berjudul Semesta Bertasbih yang dirilis tahun 2006 dan saya baru membelinya sekitar tahun 2007 - 2008 kala itu ketika saya masih menyelesaikan studi dengan berbagai macam kejadian yang saat memutar lagu-lagu Bang Opick bisa membuat saya termehek-mehek saking kenanya sampe ke sel-sel dalam tubuh ini ☺.
Di tahun 2016, kalimat semesta bertasbih juga mendarat telak dalam organ tubuh saya yang paling kecil dan saat itu saya ikut merasakan bagaimana angin bertasbih dan pohon-pohonpun ikut bertasbih dengan cara mereka. Sehingga ketika dalam tugas keseharian saya, mengikuti derasnya arus air dari hulu ke hilir, mendaki gunung melihat dan menikmati ciptaan Sang Pemilik Semesta, pepohonan yang seiya sekata dengan angin membuat saya mengerti bahwa semesta bersyukur dengan cara mereka. Ya, semesta bertasbih dengan cara mereka, mereka melantunkan puji-pujian dengan cara mereka untuk yang menciptakan semua itu.
Ketika planet bumi ini diciptakan, semua yang berada dalam planet bumi ini masing-masing selalu bertasbih, entah itu yang diciptakan dengan ukuran terkecil maupun sebaliknya (apalagi kita manusia). Konon katanya, dulu suhu di bumi itu semuanya masih dalam batas normal sehingga bumi menjadi satu-satunya tempat yang layak untuk ditinggal, yang kalau tidak ada gas-gas seperti CO2 dan kawan-kawan maka suhu di bumi bisa sampai minus 16 derajat celsius (saya lupa judul buku yang pernah saya baca), dan saya yakin CO2 pun selalu bertasbih dengan caranya.
Suatu ketika, saat saya mengunjungi tempat yang dulunya pernah ada sejarah bahwa disitu pernah ada gunung yang menjulang tinggi dengan tutupan lahan yang eksotis serta berbagai macam manfaat yang semua dirasakan oleh mahluk hidup ciptaan-Nya dan ketika semuanya kembali ke titik nol (versi manusia) maka siklus alam pun tetap berjalan tetap bertasbih tanpa pamrih yang kesemuanya dapat dimaknai berbeda-beda oleh setiap manusia. Ada yang pro dan ada yang kontra (ga usahlah dibahas nanti panjang, mungkin paham saja tidak cukup ☺☺karena sudah menjadi kodratnya bahwa manusia tidak akan pernah puas). Cukup dengan tidak menambah ketidak bertasbihnya mereka ke pencipta-Nya saja yang bisa kita lakukan.
Malam hari adalah kesempatan bintang,bulan dan berbagai ciptaan-Nya untuk bertasbih dan itu adalah masa mereka, sebaliknya dengan siang hari, matahari yang merupakan aktor utama tidak henti-hentinya bertasbih dengan masa yang diberikan pencipta-Nya. Masa untuk manusia adalah kesemuanya, baik siang atau malam dan Allah Azza wa Jalla memberikan semuanya kepada manusia, mahluk yang paling disayang. Bukan ketika kita mendapat jabatan atau harta dan sesudah itu selesai jabatan dan harta maka masa kita akan berakhir,sama seperti masa nya waktu malam dan siang mereka tetap setia dengan waktu yang diberikan itu tidak pernah meleset.
Mari kita pahami hal-hal yang dapat membuat mereka berhenti sejenak untuk bertasbih dan mereka pun tetap setia bertasbih dengan memohon ampunan kepada Sang Maha Pemberi Ampun.
Buang sampah sembarangan?Buangnya kemana?Dari dalam mobil keluar dan mendarat di jalanan diterbangkan angin ke pinggir jalan dan lama kelamaan bisa parkir diatas tanah ataupun terbang menuju sungai??sementara air yang bertasbih dari puncak gunung menuju lautan menerima sampah yang sudah tidak digunakan lagi oleh mahluk yang paling berakal dan sampah itu terputar-putar dalam genangan kumpulan air yang sedang bertasbih?? Cukup dengan tidak membuang sampah sembarangan maka kita pun akan didoakan alam (aamiiiin).
Tidak hemat energi??sementara CO2 yang sudah semakin banyak mendiami atmosfer pun akan tetap bertasbih dengan memohon untuk dikuranginya pemakaian energi dari mahluk yang paling berakal.Cukup dengan mencabut carjer ketika selesai menggunakannya atau mematikan lampu yang tidak diperlukan maka kita pun akan didoakan alam (aamiiin).
Ada banyak lagi hal-hal kecil yang bisa kita lakukan yang paling sering diabaikan oleh manusia, karena kita tidak bisa mengatur semilyar manusia yang mendiami bumi cukup diri kita saja yang kita atur untuk hal-hal kecil tersebut.
Bukan kah (sesuai judul buku) Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin??
Subhanallah....
Alhamdulillah...
Allahu Akbar.....
Rabu, 11 September
Pagi Saya Dengan Kalimat Tasbih....
_DM_
Di tahun 2016, kalimat semesta bertasbih juga mendarat telak dalam organ tubuh saya yang paling kecil dan saat itu saya ikut merasakan bagaimana angin bertasbih dan pohon-pohonpun ikut bertasbih dengan cara mereka. Sehingga ketika dalam tugas keseharian saya, mengikuti derasnya arus air dari hulu ke hilir, mendaki gunung melihat dan menikmati ciptaan Sang Pemilik Semesta, pepohonan yang seiya sekata dengan angin membuat saya mengerti bahwa semesta bersyukur dengan cara mereka. Ya, semesta bertasbih dengan cara mereka, mereka melantunkan puji-pujian dengan cara mereka untuk yang menciptakan semua itu.
Ketika planet bumi ini diciptakan, semua yang berada dalam planet bumi ini masing-masing selalu bertasbih, entah itu yang diciptakan dengan ukuran terkecil maupun sebaliknya (apalagi kita manusia). Konon katanya, dulu suhu di bumi itu semuanya masih dalam batas normal sehingga bumi menjadi satu-satunya tempat yang layak untuk ditinggal, yang kalau tidak ada gas-gas seperti CO2 dan kawan-kawan maka suhu di bumi bisa sampai minus 16 derajat celsius (saya lupa judul buku yang pernah saya baca), dan saya yakin CO2 pun selalu bertasbih dengan caranya.
Suatu ketika, saat saya mengunjungi tempat yang dulunya pernah ada sejarah bahwa disitu pernah ada gunung yang menjulang tinggi dengan tutupan lahan yang eksotis serta berbagai macam manfaat yang semua dirasakan oleh mahluk hidup ciptaan-Nya dan ketika semuanya kembali ke titik nol (versi manusia) maka siklus alam pun tetap berjalan tetap bertasbih tanpa pamrih yang kesemuanya dapat dimaknai berbeda-beda oleh setiap manusia. Ada yang pro dan ada yang kontra (ga usahlah dibahas nanti panjang, mungkin paham saja tidak cukup ☺☺karena sudah menjadi kodratnya bahwa manusia tidak akan pernah puas). Cukup dengan tidak menambah ketidak bertasbihnya mereka ke pencipta-Nya saja yang bisa kita lakukan.
Malam hari adalah kesempatan bintang,bulan dan berbagai ciptaan-Nya untuk bertasbih dan itu adalah masa mereka, sebaliknya dengan siang hari, matahari yang merupakan aktor utama tidak henti-hentinya bertasbih dengan masa yang diberikan pencipta-Nya. Masa untuk manusia adalah kesemuanya, baik siang atau malam dan Allah Azza wa Jalla memberikan semuanya kepada manusia, mahluk yang paling disayang. Bukan ketika kita mendapat jabatan atau harta dan sesudah itu selesai jabatan dan harta maka masa kita akan berakhir,sama seperti masa nya waktu malam dan siang mereka tetap setia dengan waktu yang diberikan itu tidak pernah meleset.
Mari kita pahami hal-hal yang dapat membuat mereka berhenti sejenak untuk bertasbih dan mereka pun tetap setia bertasbih dengan memohon ampunan kepada Sang Maha Pemberi Ampun.
Buang sampah sembarangan?Buangnya kemana?Dari dalam mobil keluar dan mendarat di jalanan diterbangkan angin ke pinggir jalan dan lama kelamaan bisa parkir diatas tanah ataupun terbang menuju sungai??sementara air yang bertasbih dari puncak gunung menuju lautan menerima sampah yang sudah tidak digunakan lagi oleh mahluk yang paling berakal dan sampah itu terputar-putar dalam genangan kumpulan air yang sedang bertasbih?? Cukup dengan tidak membuang sampah sembarangan maka kita pun akan didoakan alam (aamiiiin).
Tidak hemat energi??sementara CO2 yang sudah semakin banyak mendiami atmosfer pun akan tetap bertasbih dengan memohon untuk dikuranginya pemakaian energi dari mahluk yang paling berakal.Cukup dengan mencabut carjer ketika selesai menggunakannya atau mematikan lampu yang tidak diperlukan maka kita pun akan didoakan alam (aamiiin).
Ada banyak lagi hal-hal kecil yang bisa kita lakukan yang paling sering diabaikan oleh manusia, karena kita tidak bisa mengatur semilyar manusia yang mendiami bumi cukup diri kita saja yang kita atur untuk hal-hal kecil tersebut.
Bukan kah (sesuai judul buku) Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin??
Subhanallah....
Alhamdulillah...
Allahu Akbar.....
Rabu, 11 September
Pagi Saya Dengan Kalimat Tasbih....
_DM_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar