Sabtu, 20 November 2021


PERTANIAN


Tipe ekoregion di Indonesia memiliki karakter lahan yang berbeda-beda sesuai dengan letak geografi dan genesis proses pembentukannya. Di Indonesia ada 7 ekoregion diantaranya adalah ekoregion Sumatera, Jawa, Kalimantan, Kepulauan Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan ekoregion Papua. Ekoregion Sulawesi diklasifikasikan menjadi 11 kelas dan untuk Kabupaten Bolaang Mongondow terdiri dari 4 kelas yaitu :
1. Ekoregion Kompleks Dataran Fluvial Sungai Onggak Mongondow : 46.685 ha
2. Ekoregion Kompleks Pegunungan Struktural Lore Lindu - Bogani Wartabone : 251.748 ha
3. Ekoregion Kompleks Pegunungan Struktural Mangolo - Morowali - Pati Pati : 1,4 ha
4. Ekoregion Kompleks Perbukitan Struktural G. Gogugu - S. Ranoyapo : 28.397 ha

Dari ke empat tipe ekoregion yang ada di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow, saya akan membahas tipe ekoregion yang penggunaan lahannya berupa sawah. karena tanah yang terbentuk di dataran fluvial (nomor 1)  umumnya kaya akan unsur hara dan mempunyai kelas kemampuan lahan yang tinggi. Lahan-lahan di dataran fluvial biasanya memiliki kandungan mineral yang tinggi sebagai hasil dari pengendapan material tanah subur dari bentang lahan di atasnya yang dibawa aliran air sehingga sangat bagus untuk pertanian.

Ekoregion Dataran Fluvial S. Onggak Mongondow (Kecamatan)

Penutupan Lahan Sawah

(ha)

Dumoga

1.535,5

Dumoga Barat

1.595

Dumoga Tengah

1.125,4

Dumoga Tenggara

1.673,9

Dumoga Timur

2.564,3

Dumoga Utara

2.072,5

Lolayan

1.533,8

Total

12.100


Ekoregion Kompleks Perbukitan Struktural G. Gogugu – S. Ranoyapo

(Kecamatan)

Penutupan  Lahan Sawah

(ha)

Bolaang

59,3

Bolaang Timur

508,2

Poigar

1001

Lolak

2.920,5

Sang Tombolang

991,6

Total

5.480,5


Ekoregion Kompleks Pegunungan Struktural Lore Lindu-Bogani Wartabone

(Kecamatan)

Penutupan Lahan Sawah

(ha)

Bolaang

513,9

Bolaang Timur

0,3

Dumoga

0,1

Dumoga Barat

9,2

Dumoga Tengah

224,6

Dumoga Tenggara

9,1

Dumoga Timur

21,9

Lolak

126,1

Lolayan

116,6

Sang Tombolang

88,6

Total

1.688,4


Berdasarkan tipe ekoregion yang saya tulis diatas, wajar bila Kabupaten Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow merupakan kabupaten yang tertinggi dengan luas panen padi dan periode panen Oktober - Desember 2019 berdasarkan Data dari Berita Resmi Statistik "Luas Panen dan Produksi Padi di Sulawesi Utara 2020" No .71/11/Th. XIV, 2 November 2020 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (file:///C:/Users/Acer/Downloads/BRSbrsInd-20201106081415.pdf) seperti pada tabel di bawah ini :

Luas Panen Padi di Sulawesi Utara Menurut Kab/Kota pada Periode Panen 2019 (Hektar)

KABUPATEN

2019

Bolaang Mongondow

5.887

Minahasa

1.271

Bolaang Mongondow Utara

1.159

Minahasa Selatan

997

Kota Kotamobagu

917

Minahasa Utara

647

Bolaang Mongondow Selatan

596

Minahasa Tenggara

594

Bolaang Mongondow Timur

248

Tomohon

212

Bitung

30

Kepulauan Talaud

9

Kepulauan Sangihe

0

Manado

0

Siau Tagulandang Biaro

0


Kalo kita bicara tentang pertanian pasti sangat erat hubungannya dengan  sumber air. Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 162/KPTS/M/2017 Tentang Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (WS) Dumoga Sangkub, terdapat 55 DAS dalam WS Dumoga Sangkub. DAS Lombagin (Dumoga) merupakan DAS yang terluas yaitu seluas 2.335,5 km2, DAS  Sangkub seluas 1.502,8 km2 dan DAS Bolangitang seluas 359,1 km2. Rincian masing-masing DAS adalah sebagai berikut : 
  • Kab. Bolaang Mongondow Selatan : 20 DAS
    Kab. Bolaang Mongondow : 18 DAS
  • Kab. Bolaang Mongondow Utara : 10 DAS
  • Kab. Bolaang Mongondow Timur : 7 DAS
Berdasarkan wilayah administrasi dalam WS Dumoga Sangkub, Bolaang Mongondow merupakan kabupaten terluas dari 6 Kab/Kota

KABUPATEN

LUAS KESELURUHAN (km2)

LUAS DALAM WS DUMOGA SANGKUB (km2)

Bolaang Mongondow

3.506

3.506,2

Bolaang Mongondow Selatan

1.932

1.932,3

Bolaang Mongondow Utara

1.857

1.856,7

Bolaang Mongondow Timur

910

910,2

Kota kotamobagu

68

68,1

Gorontalo Utara

1.777

229,2


Kondisi prasarana bangunan irigasi yang ada di WS. Dumoga Sangkub sebagian besar telah mengalami penurunan fungsi. Penurunan kondisi prasarana tersebut terjadi mulai dari jaringan utama hingga tingkat tersier, akibat kondisi tersebut maka Daerah Irigasi yang ada mengalami kekurangan air irigasi terutama pada musim kemarau. Kekurangan air dialami oleh hampir semua areal/petak tersier yang berada di bagian hilir. 
Hal ini dapat dilihat dalam Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup (DELH) Daerah Irigasi Toraut Kabupaten Bolaang Mongondow untuk komponen sosial ekonomi budaya, dimana dari 75 petani yang berasal dari 4 kecamatan untuk Daerah Irigasi Toraut (Kecamatan Dumoga Barat, Dumoga Utara, Dumoga Timur dan Dumoga Tenggara) menyatakan :
1. Ketersediaan air pada musim tanam di sawah : 
  • Masa tanam I : 60 orang menyatakan CUKUP  dan 15 orang menyatakan KURANG
  • Masa tanam II: 57 orang menyatakan CUKUP dan 18 orang menyatakan KURANG
  • Masa tanam III : 51 orang menyatakan CUKUP dan 24 orang menyatakan KURANG
2. Kemudahan akses air pada musim tanam di sawah :
  • Masa tanam I : 36 orang menyatakan MUDAH, 33 orang menyatakan KADANG MUDAH dan 6 orang menyatakan SULIT
  • Masa tanam II : 24 orang menyatakan MUDAH, 42 orang KADANG MUDAH dan 9 orang menyatakan SULIT
  • Masa tanam III : 18 orang menyatakan MUDAH, 51 orang menyatakan KADANG MUDAH dan 6 orang menyatakan SULIT
3. Kemudahan akses input saprodi bagi responden :
  • Ketersediaan Bibit : 42 orang menyatakan MUDAH, 6 orang menyatakan SULIT dan 27 orang menyatakan KADANG SULIT
  • Ketersediaan Pupuk : 45 orang menyatakan SULIT, 30 orang menyatakan KADANG SULIT
  • Ketersediaan Obat Pertanian : 42 orang menyatakan MUDAH, 3 orang menyatakan SULIT dan 30 orang menyatakan KADANG SULIT
  • Peralatan/Mesin Pertanian : 45 orang menyatakan MUDAH, 12 orang menyatakan SULIT dan 18 orang menyatakan KADANG SULIT.
Untuk daerah irigasi Bendung Kosinggolan dengan luas 5.381 ha yang meliputi 4 kecamatan yaitu Kecamatan Dumoga Timur, Dumoga Barat, Dumoga Tengah dan Dumoga berdasarkan analisis satuan kemampuan lahan ketersediaan air yang rendah adalah :

KECAMATAN

DESA

RENDAH (Ha)

Dumoga Timur

Pinonobatuan

435,42

 

Imandi

300,08

 

Amertha Sari

182,57

 

Kembang Mertha

145,46

 

Mogoyunggung 1

124,81

 

Pinonobatuan Barat

21,92

 

Amertha Buana

10,59

 

Kembang Sari

0,02

 

Tonom

0,02

Dumoga Barat

Uuan

423,05

 

Wangga baru

239,39

 

Ikhwan

18,60

Dumoga Tengah

Werdhi Agung Timur

322,95

 

Kosio Timur

151,65

 

Werdhi Agung Selatan

141,20

 

Kosio

77,20

 

Kosio Barat

43,83

Dumoga

Siniyung

263,27

 

Siniyung Satu

8,97

 

Dumoga Satu

2,39

 
Dari 38 Desa yang berada di wilayah daerah irigasi Kosinggolan, ada 30 desa yang tidak mampu lagi menyediakan pangan :
  • 10 desa yang berada di kecamatan Dumoga Tengah, hanya 2 desa yang mampu menyediakan pangan yaitu desa Werdhi Agung Timur dan Werdhi Agung Selatan. 
  • 14 desa yang berada di Kecamatan Dumoga Timur, 3 desa yang mampu menyediakan pangan yaitu desa Amertha Buana, Kembang Mertha dan Pinonobatuan Barat. 
  • 12 desa yang ada di Kecamatan Dumoga Barat 10 desa yang masuk di daerah irigasi Kosinggolan dan hanya 2 desa yang mampu menyediakan pangan yaitu desa Wangga Baru dan desa Uuan. 
  • 12 desa yang ada di Kecamatan Dumoga, hanya 4 desa yang masuk di daerah irigasi Kosinggolan dan hanya Desa Dumoga Satu yang mampu menyediakan pangan.
Ambang batas daya dukung daya tampung ditentukan melalui pendekatan perbandingan ketersediaan terhadap kebutuhan. Kurangnya ketersediaan terhadap kebutuhan dinyatakan "Tidak Mampu Menyediakan Pangan" 

Oh ya, ada yang menarik dari data diatas, terutama hasil wawancara dengan petani sawah yang memanfaatkan air dari jaringan irigasi Toraut mengenai ketersediaan pupuk, dimana sekitar 45 petani atau 60% menjawab sulit. Saya teringat bulan lalu tepatnya hari kamis tanggal 6 Oktober 2021, DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow menggelar RDP (Rapat Dengar Pendapat) dengan Dinas Pertanian terkait kelangkaan pupuk bersubsidi (https://bolmongraya.co/2021/10/terkait-kelangkaan-pupuk-dprd-bolmong-gelar-rdp-dengan-dinas-pertanian/). Hal yang sama juga pernah terjadi di bulan Februari 2021, petani di Bolmong sempat keluhkan kelangkaan pupuk (https://manado.tribunnews.com/2021/02/18/dinas-pertanian-bantah-soal-kelangkaan-pupuk-subsidi-di-bolmong?page=all). Ada beberapa hasil wawancara yang terkait dengan kondisi kesehatan lingkungan, diantaranya adalah apakah kawasan tersebut merupakan daerah banjir atau bukan, ada sekitar 68% yang menyatakan SERING tempat tinggalnya terendam banjir, untuk pengelolaan sampah 60% responden menyatakan dibakar. Dan bicara suku, suku terbesar dari hasil wawancara adalah suku Jawa (52%), Bolaang Mongondow (20%) dan Bali (16%).

Bagi saya Bolaang Mongondow adalah anugerah terindah oleh Sang Maha Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi. Ada banyak ayat-ayat dalam Alquran yang menyebutkan bahwa sungai itu mengalir di bawah surga. Seperti pada QS-Taha : 76 (Juz 16) : 
"Jannatu 'adnin tajri min tahtihal-anharu khalidina fiha, wa zalika jaza u man tazakka ".
" (yaitu) surga-surga'Adn, yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri".

Ada juga dalam QS-Maryam : 24 :
"Fa nadaha min tahtiha alla tahzani qad ja'ala rabbuki tahtaki sariyya""
"Maka dia (jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah "Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu"

Di beberapa ayat dalam Alquran, manusia disuruh berpikir, mengerti, mengambil pelajaran, bersyukur dan agar mendapat petunjuk. Seperti  dalam QS:AN-Nahl : 10-16 :
"Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam  buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir. Dan dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti, dan (Dia juga mengendalikan) apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai jenis dan macam warnanya.. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kamu yang mengambil pelajaran. Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak guncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk".

Dengan tulisan ini semoga kita bisa berpikir, mengerti, mengambil pelajaran serta mendapat petunjuk.

Minggu, 21 November 2021 Pukul 0.50 Dini Hari

_DM_


Sumber Data :
  1. Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup (DELH) Daerah Irigasi Toraut Kabupaten Bolaang Mongondow, BWS. 2021
  2. Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup (DELH) Daerah Irigasi Kosinggolan Kabupaten Bolaang Mongondow, BWS. 2021
  3. Berita Resmi Statistik. Luas Panen dan Produksi Padi Di Sulawesi Utara. BPS. 2020
  4. Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup Kabupaten Bolaang Mongondow Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bolaang Mongondow, 2019.
  5. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Nomor 162/KPTS/M/2017 Tentang Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Dumoga-Sangkub. 2017 












Tidak ada komentar:

Posting Komentar