Rabu, 22 September 2021


PRAY FOR SANG TOMBOLANG

Hari ini di handphone saya banyak kiriman via WA maupun di FB tentang bencana banjir di salah satu Kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, tepatnya di Kecamatan dengan luas wilayah terbesar di Kabupaten Bolaang Mongondow yaitu Kecamatan Sang Tombolang. Luas Kecamatan Sang Tombolang yaitu 57.686,84544 ha atau 576,86 km2 atau sekitar 17,4% total luas wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow. Kec. Sang Tombolang terdiri dari 12 Desa yaitu :

  1. Desa Pangi
  2. Desa Domisil Moonow
  3. Desa Maelang
  4. Desa Lolanan
  5. Desa Bolangat
  6. Desa Babo
  7. Desa Ayong
  8. Desa Cempaka
  9. Desa Batu Merah
  10. Desa Pasir Putih
  11. Desa Pangi Timur
  12. Desa Bolangat Timur
Adapun sungai-sungai yang melintas desa-desa terdampak (Kecamatan Sang Tombolang Dalam Angka 2020 ) adalah :
  1. Desa Pangi ; Sungai Bait
  2. Desa Domisil Moonow : Sungai Sapanae, Sungai Domisil, Sungai Salurang
  3. Desa Maelang : Sungai Tondukon
  4. Desa Bolangat : Sungai Ibolangat dan Sungai Lemong
  5. Desa Batu Merah : Sungai Singkul
Dalam Buku Rencana Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Terpadu Satuan Wilayah Pengelolaan (SWP) DAS Sangkub Langi, secara administrasi termasuk dalam Kabupaten Bolaang Mongondow dan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Luas SWP DAS Sangkub Langi adalah 287.019 ha yang terbagi dalam 8 SWP Sub DAS, yaitu :
  1. SWP Sub DAS Ayong yang memiliki 8 sungai diantaranya adalah Sungai Ayong, Modapaan, Pangi, Sauk, Bayabuta, dan Baturapa. Sungai Ayong dipilih menjadi sungai utama karena memiliki panjang sungai yang terpanjang diantara yang lainnya.
  2. SWP Sub DAS Biontong yang memiliki 6 sungai diantaranya adalah Sungau Bohabak, Biontong, Mome dan Nono. Sungai Biontong dipilih menjadi sungai utama karena memiliki panjang sungai yang terpanjang diantara yang lainnya.
  3. SWP Sub DAS Biyou memiliki outlet pada Sungai Sangkub. Sungai Biyou merupakan cabang sungai dari Sungai Sangkub.
  4. SWP Sub DAS Bolangitang yang memiliki 16 sungai, diantaranya adalah Sungai Keakar, Nunuka, Saleo, dan Sungai Bolangitang. Sungai Bolangitang dipilih menjadi sungai utama karena memiliki panjang sungai yang terpanjang diantara yang lainnya.
  5. SWP Sub DAS Gambuta memiliki outlet pada Sungai Sangkub. Sungai Gambuta merupakan cabang sungai dari sungai Sangkub.
  6. SWP Sub DAS Lolak yang memiliki 3 Sungai diantaranya adalah Sungai Dulangon, Sungai Motabang dan Sungai Lolak. Sungai Lolak dipilih menjadi sungai utama karena memiliki panjang sungai yang terpanjang diantara yang lainnya.
  7. SWP Sub DAS Maelang yang memiliki 22 sungai diantaranya adalah Sungai Pangi, Domisil, Moilobai, Posyanga, Bolangat dan Sungai Maelang.  Sungai Maelang dipilih menjadi sungai utama karena memiliki panjang sungai yang terpanjang diantara yang lainnya.
  8. SWP Sub DAS Sangkub, hanya terdapat satu sungai pada SWP Sub DAS Sangkub yaitu Sungai Sangkub.
Masih terbayang kejadian banjir yang melanda Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Kabupaten Bolaang Mongondow pada hari Rabu Tanggal 4 Maret dini hari Tahun 2020 yang berdampak di 51 Desa tersebar di 4 Kecamatan (Bintauna, Bolangitang Barat, Bolangitang Timur dan Sangkub) untuk Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan Desa Domisil Kecamatan Sang Tombolang Kabupaten Bolaang Mongondow dan 18 DAS. 
Penyebab banjir berdasarkan Analisis Kejadian Banjir Bolmut-Bolmong oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Tondano (BP DAS HL Tondaano) Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung, KLHK Tahun 2020 adalah :
  1. Curah hujan mencapai 82,4 - 321,2 mm/hari (BMKG)
  2. Kapasitas pengaliran kecil
  3. Tanah jenuh air dan jumlah curah hujan tidak mampu ditampung oleh badan sungai
  4. Teknik pertanian tidak memperhatikan konservasi tanah dan air
  5. Perambahan kawasan hutan
  6. Kondisi topografi yang curam di wilayah hulu yang rentan longsor
Nama DAS yang masuk wilayah Lahan Sangat Kritis yaitu DAS Bait (23,88 ha), DAS Minanga Pangi (0,35 ha) dan DAS Sangkub (4,14 ha). Untuk Lahan Kritis diantaranya adalah DAS Domisil (152,57 ha), DAS Minanga Pangi (13,86 ha). 

Penggunaan lahan yang terbesar untuk DAS Minanga Pangi adalah : 
  1. Semak belukar (305,96 ha)
  2. Pertanian lahan kering campur (227,08 ha)
  3. Pertanian lahan kering (30,21 ha) 
  4. Permukiman (17,45 ha)
  5. Hutan lahan kering sekunder (11,62 ha)
  6. Total : 592,32 ha
Penggunaan lahan yang terbesar untuk DAS Domisil adalah : 
  1. Semak belukar (346,39 ha)
  2. Pertanian lahan kering campur (194,30 ha)
  3. Hutan lahan kering sekunder (126,26 ha)
  4. Pertanian lahan kering (114,25 ha) 
  5. Permukiman (9,65 ha)
  6. Sawah (3,84 ha)
  7. Total : 794,68 ha
Jumlah industri mikro dan kecil menurut bahan baku utama berupa bahan baku kayu  (Kecamatan Sang Tombolang Dalam Angka 2020 ) diantaranya ada di Desa :
  1. Desa Pangi : 2
  2. Desa Domisil Moonow : 1
  3. Desa Ayong : 1
  4. Desa Pangi Timur : 3
Jumlah kejadian Tanah Longsor di Tahun 2019 yaitu di Desa Bolangat Timur, Tahun 2020 di Desa Batu Merah, Desa Domisil Moonow dan Desa Pangi Timur. 
Jumlah kejadian Banjir di Tahun 2019 yaitu di Desa Batu Merah (2) dan di Tahun 2020 Desa Batu Merah (1).
Jumlah kejadian Banjir Bandang di Tahun 2019 yaitu di Desa Bolangat Timur dan di Tahun 2020 di Desa Pangi, Desa Domisil Moonow dengan korban jiwa 1 (satu) orang  dan Desa Bolangat Timur.

Untuk Bencana Alam dan Mitigasi Bencana Alam yaitu berupa :
  1. Sistem peringatan dini Bencana Alam hanya terdapat di Desa Lolanan
  2. Perlengkapan keselamatan desa hanya terdapat di Desa Lolanan
  3. Rambu-rambu dan jalur evakuasi hanya terdapat di Desa Lolanan
Faktor manusia yang mempengaruhi kejadian banjir DAS Minanga Pangi yaitu aktifitas penggunaan lahan berupa :
  1. RPDAST : Tidak ada
  2. Pertambangan : Tidak ada
  3. Perkebunan : Ada
  4. HPH/HTI : Tidak ada
  5. Penebangan liar/Perambahan : Ada
  6. Kegiatan RHL yang telah dilaksanakan : Ada
Faktor manusia yang mempengaruhi kejadian banjir DAS Domisil yaitu aktifitas penggunaan lahan berupa :
  1. RPDAST : Tidak ada
  2. Pertambangan : Tidak ada
  3. Perkebunan : Ada
  4. HPH/HTI : Tidak ada
  5. Penebangan liar/Perambahan : Ada
  6. Kegiatan RHL yang telah dilaksanakan : Ada
Daya Dukung Daya Tampung Kecamatan Sang Tombolang untuk Indeks Jasa Lingkungan Pengatur Mitigasi Banjir yang rendah dengan Penutupan Lahan berupa :
  1. Semak Belukar : 5.066,585 ha
  2. Sawah : 1080,2645 ha
  3. Tegalan : 908,062 ha
  4. Perkebunan : 349,1244 ha
  5. Permukiman  : 100,9361 ha
  6. Tanah kosong/gundul : 19,7339 ha
Rencana Program dan Kegiatan untuk Kegiatan Prioritas 10 tahun pertama (2012 - 2021)  dalam Buku Rencana Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Terpadu Satuan Wilayah Pengelolaan (SWP) DAS Sangkub Langi, 2010 :
 
A. Pengelolaan Daerah Tangkapan Air (DTA)
1. Rehabilitasi Kawasan Konservasi :
  • Reboisasi Kawasan Taman Nasional (BTNBNW) Sasaran : Lahan Kritis Hulu Sungai Lolak dan Sungai Sangkub
  • Pengendalian Ilegal Logging (BTNBW) Sasaran : Kawasan TNBNW
  • Pengendalian Perladangan (BTNBW) Sasaran : Pembinaan Peladang
2. Pengelolaan Hutan Lindung :
  1. Reboisasi Hutan Lindung (Dinas Kehutanan) Sasaran : DTA Bendung Lolak dan Sangkub
  2. Pengendalian Ilegal Loging (BTNBNW) Sasaran : Kawasan TNBNW
  3. Pengendalian Perladangan (BP4K/Dinas Kehutanan) Sasaran : Pembinaan penyuluhan
3. Pengelolaan Hutan Produksi :
  1. Pengembangan KPHP (Dinas Kehutanan dan BPKH)
4. Pengelolaan Kawasan Budidaya Pertanian :
  1. Pengembangan Usaha Tani Konservasi Tanaman Semusim (Dinas Pertanian) Sasaran : Demplot
  2. Peremajaan Tanaman Kelapa (Dinas Perkebunan dan Dinas Pertanian ) Sasaran : Peningkatan Produksi dan Perluasan Areal
B. Pengelolaan Sumber Daya Air
1. Perencanaan Konservasi Sumber Daya Air
  1. Penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air (BWS dan Dinas PUPR)
  2. Pembuatan Katalog Sungai, Mata Air dan Danau (BWS dan Dinas PUPR)
  3. SID Pembangunan Cekdam Sungai Yang Berpotensi Sedimentasi Tinggi (BWS dan Dinas PUPR)
  4. Pembangunan Stasiun Hidrologi (BWS dan Dinas PUPR)
  5. Penguatan Kelembagaan Petani Pengguna Air (BWS dan Dinas PUPR)
  6. Gerakan/Penyuluhan Masyarakat Hemat dan Cnta Air (BWS dan DLH)
  7. Pengembangan Sistem Peringatan Dini Bahaya Banjir (BWS dan Dinas PUPR)
  8. Sosialisasi Peraturan Perlindungan Sempadan Sungai 
  9. Sosialisasi Peraturan Pengendalian Pencemaran Sungai (DLH)
  10. Pengendalian Dampak PETI terhadap Sarana Irigasi (DLH)
  11. Peningkatan Pastisipasi Masyarakat Dalam Pemeliharaan Sarana Irigasi (BWS)
2. Pengendalian Daya Rusak Air
  1. Pembangunan Tanggul Pengaman Sungai (BWS dan Dinas PUPR)
  2. Pembangunan Bangunan Pengendali Tanah Longsor (BWS dan Dinas PUPR)
Kejadian banjir akan selalu mengingatkan kita bahwa alam mempunyai cara sendiri untuk mengingatkan kita manusia. Perlu adanya kolaborasi, bersinergi serta koordinasi di setiap OPD untuk memitigasi bencana banjir yang kerap terjadi di setiap 2 tahun terakhir ini.  

Kamis, 23 September 2021 Pukul 2.08 Dini Hari

_DM_   


Sumber Data :
  1. Buku Rencana Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Terpadu Satuan Wilayah Pengelolaan (SWP) DAS Sangkub Langi, 2010.
  2. Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup Kabupaten Bolaang Mongondow Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bolaang Mongondow, 2019.
  3. Analisis Kejadian Banjir Bolmut-Bolmong 4 Maret 2020, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Tondano (BP DAS HL Tondaano) Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Tahun 2020.
  4. Kecamatan Sang Tombolang Dalam Angka, BPS. 2020




      Sabtu, 04 September 2021

      KECAMATAN LOLAYAN
      Pada tahun 1927, Federasi Statuut Kerajaan Serikat Bolaang Mongondow di pusatkan di Kotamobagu kemudian kerajaan Serikat ini di bagi menjadi 2 Divisi, Mongondowsch Zuid (Selatan) dan Noorden Mongondowsch (Utara). Beberapa wilayah yang dibentuk ini dikepalai oleh seorang Bupati atau Panggulu dan atau langsung  seorang raja. Mongondow Utara terdiri atas 2 kabupaten dan 2 kerajaan yaitu :
      • Kabupaten Pasi di pimpin Panggulu
      • Kabupaten Bolaang di Pimpin Panggulu
      • Kerajaan Bintauna di pimpin Raja
      • Kerajaan Kaidipang Besar di pimpin Raja
      Mongondow Selatan terdiri atas 3 kabupaten dan 1 kerajaan yaitu :
      • Kabupaten Lolayan di pimpin Panggulu
      • Kabupaten Dumoga di pimpin Panggulu
      • Kabupaten Kotabunan Di pimpin Panggulu
      • Kerajaan Bolaang uki di pimpin Raja.
      (https://boganinews.com/2021/02/menelisik-lahirnya-kotamobagu/).
      Panggulu/Bupati Kabupaten Lolayan kala itu dipimpin oleh Aki Muhaebat Kadengkang. Menurut silsilah keluarga Aki Mohaebat Kadengkang mempunyai anak tiri yang bernama Abo Tompikat Gie Manoppo (T.G. Manoppo). Abo T.G. Manoppo ini adalah Kakek Buyut saya, ayah dari Kakek Abo Banjar Manoppo yang merupakan Bapak Kandung Almarhumah Ibu saya (Hj.N.Manoppo). Begitu juga dengan Nenek dari Almarhumah Ibu saya, nenek Bii Kadengkang adalah anak dari Aki Muhaebat Kadengkang, dan nenek dari Ayah saya Nenek Rubenet Kadengkang adalah anak dari Aki Muhaebat Kadengkang, jadi saya merupakan turunan langsung dari Aki Muhaebat Kadengkang baik dari sisi Ibu maupun Bapak (Alfateha buat semua kakek/nenek dan ibu saya) Atas dasar ini maka saya ingin membahas Kecamatan Lolayan dilihat dari Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup untuk jenis Jasa Ekosistem Pengatur Mitigasi Banjir.
      Luas Kecamatan Lolayan dalam Dokumen Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH) Kabupaten Bolaang Mongondow Tahun 2019 adalah seluas 28.343,1299 ha atau sekitar 8,6% total luas wilayah Bolaang Mongondow. Kecamatan Lolayan merupakan kecamatan ketiga terbesar (Sang Tombolang, Lolak dan Lolayan) di Kabupaten Bolaang Mongondow.
      Jenis Jasa Ekosistem yang merupakan jasa pengaturan mitigasi banjir yang berfungsi membentuk dan memelihara keseimbangannya sendiri melalui sistem pengaturan dan pengendalian atas proses-proses alamnya terdiri dari kelas dan indeks jasa lingkungan sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Untuk Kecamatan Lolayan, kelas dan indeks jasa lingkungan yang rendah untuk penutupan lahan adalah sebagai berikut :
      1. Permukiman dan Tempat Kegiatan : 6,1 Ha
      2. Sawah : 19 Ha
      3. Semak Belukar : 1.265 Ha
      4. Tanah Kosong/Gundul : 0,5 Ha
      5. Tegalan/Ladang : 1.204 Ha
      Saya ingin membahas penyebab banjir di wilayah Bolmong-Bolmut pada tanggal 3 Maret 2020 dan kaitannya dengan D3TLH Jasa Ekosistem Pengaturan Mitigasi Banjir. Penyebab banjir di wilayah Bolmong yang tersebar di 4 kecamatan wilayah Bolmut yaitu Kecamatan Bintauna, Bolangitang Barat, Bolangitang Timur dan Sangkub, serta Desa Domisil Kec. Sang Tombolang Kab. Bolaang Mongondow adalah :
      1. Curah hujan yang mencapai 82,4-321,2 mm/hari, kapasitas pengairan kecil, tanah jenuh air dan curah jumlah curah hujan tidak mampu ditampung oleh badan sungai;
      2. Teknik pertanian tidak memperhatikan konservasi tanah dan air;
      3. Perambahan kawasan hutan
      4. Kondisi topografi yang curam di wilayah hulu yang rentan longsor
      Untuk DAS Domisil yang berada di wilayah Kab. Bolaang Mongondow, penutupan lahan terbesar adalah semak belukar dengan luas 346,39 ha. Dalam Buku KLHS Revisi RTRW Kabupaten Bolaang Mongondow, jasa ekosistem pengatur mitigasi banjir rendah, penutupan lahan berupa semak belukar merupakan yang paling luas (5.066 ha) untuk Kec. Sang Tombolang.
      Jasa ekosistem pengatur mitigasi banjir yang sangat rendah di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara berdasarkan Buku Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH) 2019, untuk penutupan lahan adalah sebagai berikut :
      1. Belukar : 109 ha
      2. Permukiman : 270 ha
      3. Pertanian Lahan Kering : 2.141 ha
      4. Pertanian Lahan Kering Campur : 1.380 ha
      5. Sawah : 2.792 ha
      6. Tanah terbuka : 1,08 ha
      Lokasi area terdampak untuk kejadian banjir Bolmut ada sekitar 16 DAS (Bait, Binjeita, Biontong, Bohabak, Hame, Hame II, Kuhanga, Malabai, Mome, Sampiro, Sangkub, Sangkub Kecil, Sang Tombolang, Sangtombolang Barat, Sangtombolang Utara, dan Sapanae) dengan penutupan lahan terbesar rata-rata berupa Pertanian Lahan Kering, Pertanian Lahan Kering Campur dan Sawah (Analisis Kejadian Banjir Bolmong-Bolmut 4 Maret 2020 Oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Tondano, Dirjen Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung, KLHK. 2020)

      Jadi bisa disimpulkan bahwa Jasa Ekosistem  Pengatur Mitigasi Banjir terhadap penutupan lahan untuk Dokumen Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH) sesuai dengan Analisis Kajian Banjir dari BPDAS dan HL Tondano.

      Untuk kejadian banjir di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan 25 Juli 2020 yang meliputi Kecamatan Tomini, Kec. Bolaang Uki, Kec. Posigadan, Kec. Helumo dan Kec. Pinolosian,  dengan penyebab banjir adalah sebagai berikut :
      1. Curah hujan mencapai 198 mm/hari (sangat lebat), kapasitas pengairan kecil, tanah jenuh air, debit puncak cepat tercapai sehingga tidak mampu ditampung oleh badan sungai;
      2. Topografi dominan curam/sangat curam, jarak antara hulu dan hilir yang relatif pendek;
      3. Bentuk DAS memanjang memiliki karakteristik debit puncak datang cepat dan penurunannya cepat.
      Jasa ekosistem pengatur mitigasi banjir yang sangat rendah dan rendah di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan berdasarkan Buku Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH) 2020,  adalah sebagai berikut :
      1. Kec. Bolaang Uki (sangat rendah) : 87 ha
      2. Kec. Helumo (rendah) : 3.391 ha
      3. Kec. Pinolosian (rendah) : 3.750 ha
      4. Kec. Pinolosian Tengah (rendah) : 3.326 ha
      5. Kec. Pinolosian Timur (rendah) : 5.699 ha
      6. Kec. Posigadan (rendah) : 5.952 ha
      7. Kec. Tomini (rendah) : 2.109 Ha
      Lokasi area terdampak untuk kejadian banjir Bolsel ada sekitar 12 DAS ( Pilolahunga, Inosota, Milangodaa, Sinandaka, Koroisi, Minanga Tangagah, Salongo, Molibagu, Tolondadu, Tabilaa, Sinawan Motoben dan Pinolosian) dengan penutupan lahan sebagai berikut :
      1. DAS Inosota : Hutan Lahan Kering Primer = 1.045 ha 
      2. DAS Koroisi : Pertanian Lahan Kering = 242 ha
      3. DAS Milangodaa : Hutan Lahan Kering Primer = 10.899 ha
      4. DAS Minanga Tangagah : Hutan Lahan Kering Primer = 4.286 ha
      5. DAS Molibagu : Hutan Lahan Kering Sekunder =1.882 ha dan Pertanian Lahan Kering Campur = 1.436 ha
      6. DAS Pilolahunga : Hutan Lahan Kering Primer = 4.432 ha
      7. DAS Pinolosian : Hutan Lahan Kering Primer = 7.303 ha dan Hutan Lahan Kering Sekunder = 3.930 ha
      8. DAS Salongo : Hutan Lahan Kering Primer = 4.072 ha
      9. DAS Sinandaka : Hutan Lahan Kering Primer = 3.044 ha
      10. DAS Sinawan Motoben : Hutan Lahan Kering Sekunder = 932 ha
      11. DAS Tabilaa : Pertanian Lahan Kering = 254 ha
      12. DAS Tolondadu : Hutan Lahan Kering Primer : 1.798 
      Dalam Buku D3TLH Kab. Bolsel saya tidak mendapati jenis Penutupan Lahan untuk Jasa Ekosistem Pengatur Mitigasi Banjir, yang ada  hanya wilayah kecamatannya saja sehingga bisa disesuaikan wilayah DAS tersebut diatas masuk di wilayah kecamatan yang mana dari 7 kecamatan yang ada. (Warga Bolaang Mongondow Selatan pasti lebih paham dengan kondisi daerahnya). 
      Menurut Analisis Kejadian Banjir Bolsel, penutupan lahan terbesar rata-rata berupa Hutan Lahan Kering Primer, Hutan Lahan Kering Sekunder serta  Pertanian Lahan Kering (Analisis Kejadian Banjir Bolsel 25 Juli 2020 Oleh Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Tondano, Dirjen Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung, KLHK. 2020)

      Dalam KLHS Revisi RTRW Kabupaten Bolaang Moongondow Tahun 2020, untuk kawasan bencana Banjir tidak terdapat di Kecamatan Lolayan, yang ada hanya kawasan bencana longsor dengan rincian sebagai berikut :

      1. Pola Ruang : Kawasan Perkebunan
          Penggunaan Lahan : Perkebunan/Kebun
          Bencana : Longsor
          Luas : 53,8 ha
        2. Pola Ruang : Kawasan Perkebunan
        Penggunaan Lahan : Hutan Rimba = 6,7 han Perkebunan/Kebun = 25 ha
        Konsesi Tambang : Kontrak Karya

        3. Pola Ruang : Kawasan Perkebunan
            Penggunaan Lahan : Perkebunan/Kebun = 103 ha
            Konsesi Tambang : WIUP
                                          
        Kurang lebih ada sekitar 188,5 ha wilayah di Kecamatan Lolayan yang rawan longsor. Dalam Buku D3TLH Kabupaten Bolaang Mongondow, untuk Jasa Ekosistem Pengatur Mitigasi Longsor juga ada tapi saya lebih ingin membahas untuk banjir, karena pasti longsor dan banjir adalah merupakan saudara kandung semesta. Saya ingat, sekitar 4 tahun yang lalu di bulan september 2017 pernah terjadi peristiwa banjir bandang di wilayah Kecamatan Lolayan tepatnya di Desa Tanoyan Utara dan Desa Bakan. Untuk lebih me-refresh lagi ingatan kita saya lampirkan link beritanya (https://www.indopostmanado.com/2017/09/18/astaga-peti-diduga-sebabkan-banjir-bandang-lolayan/). 
        Dan juga pada tahun 2014 di bulan agustus peristiwa banjir bandang pernah melanda wilayah Kecamatan Lolayan tepatnya di Desa Mengkang dan Desa Tanoyan Utara. Desa Mengkang merupakan wilayah terparah dan Kincir Angin Para Dewa pun rusak ketika itu (https://www.tribunnews.com/regional/2014/08/14/dihantam-banjir-bandang-sekitar-6-kk-di-desa-mengkang-mengungsi). Kalau sekiranya Aki Muhaebat Kadengkang masih hidup, beliau pasti akan menangis melihat bagaimana kondisi wilayah yang pernah dipimpinnya sekitar 90 an tahun yang lalu. Hasil analisis kejadian banjir di wilayah Bolmut-Bolmong maupun Bolsel tahun 2020, serta D3TLH Penyedia Jasa Ekosistem Pengaturan Banjir yang rendah dapat memberikan gambaran sekaligus warning buat kita terutama wilayah dengan kondisi penutupan lahan yang ada di Kecamatan Lolayan Negeri Totabuan Yang Kaya Raya.  

        "Seharusnya aku tak jatuh cinta saat hujan, karena setiap hujan menyapa sesak ku terulang bersama genangan yang bernama kenangan (Anonymous, 2021)"

        Minggu, 5 September 2021 Pukul 1.23 Dini Hari WITA
        Selamat Hari Ulang Tahun Yang Ke 79 Papi Ku Sayang Hi. H.D Makalalag

        _ DM_

        Sumber Data :
        1. Analisis Kejadian Banjir Bolmong-Bolmut 4 Maret 2020, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Dan Hutan Lindung Tondano  Direktorat Jenderal Pengendalian DAS Dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan, 2020.
        2. Analisis Kejadian Banjir Bolsel 25 Juli 2020, Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Dan Hutan Lindung Tondano  Direktorat Jenderal Pengendalian DAS Dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan, 2020.
        3. Kajian Lingkungan Hidup Strategis Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (KLHS RTRW) 2020-2040 Kabupaten Bolaang Mongondow, 2020. 
        4. Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. 2020
        5. Dokumen Data Dan Informasi Daya Dukung Dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Berbasis Jasa Ekosistem Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. 2019.
        6. Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup Kabupaten Bolaang Mongondow, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bolaang Mongondow. 2019.