Sabtu, 09 Maret 2019

CATATAN KU TENTANG TAPA BINUNI

"Lariiiii Ibu...."Teriak salah seorang penambang sambil menarik tangan ku untuk ikut dengan mereka mencari tempat berlindung dibalik tebing yg curam..
Terseok-seok ku ikuti langkah mereka melewati lumpur yg salah sedikit saja bisa mendarat dengan sukses ke tanah yg menangis.....
Nyaris setiap mendengar gemuruh bunyi tanah,batu dan air menyatu selalu kalimat itu yg ku dengar.."Lariii Ibuu..."

Hari itu,hujan deras tak berhenti sejak pukul 1 siang sampai malam hari.Aku dan 2 org teman kantor berada di daseng tempat para penambang mencari nafkah sekaligus tempat membuat tanah dan air menangis....
Tak ku sangka,saat kembali mendaki menaiki daseng utk mencari tempat berlindung yg paling aman disitu juga kurasakan maut yg selalu mengintai kami berlima....

Saat terdengar suara longsor dari arah atas daseng,mulut ku komat-kamit memohon kepada Pemilik Alam Semesta utk melindungi kami semua...
Air mata ku jatuh,ya Allah aku belum ingin mati sia2 disini..aku belum ingin jatuh ke jurang bersama2 dgn kumpulan tanah dan batu dari arah atas daseng ini...

Setiap saat kala itu maut selalu mengintai di setiap helaan nafas kami berlima...
Allah menunjukkan kuasax kepada kami bahwa ketika semua peristiwa alam terjadi tidak akan ada yg dapat menghentikannya....

Aku bersyukur,karena seorang penambang yg satu selamat.Padahal posisi dasengx lebih ekstrim dr daseng tempat kami menginap.Lewat tengah malam baru dia (Asry) bisa menyebrang ke daseng kami.

Hujan terus mengguyur punggungan gunung yg terjal dgn elevasi 500an dpl.Empat hari kami terperangkap di atas tanpa bisa berbuat apa2.Bersyukur beras msh ada walaupun selalu menu nasi goreng yg selalu di buat Koki Adi teman kantor ku yg paling setia.

Hari ke lima kami semua bersiap2 utk turun dan pulang.Para penambang yg sdh terbiasa dgn kondisi seperti ini,bisa membaca alam.
Perjalanan pulang pun sgt ekstrim,karena kita akan menyebrang sungai sebanyak 42 kali.
Sungai yg akan ku lalui sudah berubah,ketika dtg tinggi airx hanya sampai di batas lutut.
Saat kembali pulang,sungai2 sudah semakin lebar dan airnya masih deras mengalir dengan ketinggian sampai di leher ku.
Ya Allah...dalam hati aku menangis..kuatkanlah Aku..Aku masih ingin bertemu dgn ketiga anak2 ku...

Mereka para penambang menawari ku saat menyebrang sungai utk memeluk dan memegang leher dr arah belakang.
"Maaf Bu,jgn malu2 ya apapun yg terjadi tangan Ibu jangan dilepaskan"
Dua kali diriku nyaris dibawa derasx air sungai...
Dan berkali-kali diriku menangis dalam hati...

Doa adalah kekuatan awal dan akhir kita..
Sebelum kita mendaki menaiki gunung utk melihat sejauh mana posisi mereka para penambang, melihat bgm proses pengolahan yg di lakukan mereka, tak pernah aku melupakan kewajiban ku...
Dalam dhuha ku kala itu "Ya Allah jaga lah kami bertiga, kami dtg ke tempat ini dgn niat yg mulia"

Dan Allah pun menjawab doa ku...
Diperlihatkan-Nya bgm ketika air,tanah dan udara menyatu...
Bagaimana kita manusia begitu kecil di hadapan-Nya
Bagaimana alam bicara...
Dan bagaimana kita bisa pulang dgn selamat....


* Memory Bagian Hulu Sungai Pindol Tapa Binuni Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Februari 2017*

1 komentar: