Selasa, 10 September 2019

SEMESTA BERTASBIH

Pagi ini dalam perjalanan ke negeri tempat saya mengabdi tiba-tiba saya teringat akan judul albumnya penyanyi religi Opick yang berjudul Semesta Bertasbih yang dirilis tahun 2006 dan saya baru membelinya sekitar tahun 2007 - 2008 kala itu ketika saya masih menyelesaikan studi dengan berbagai macam kejadian yang saat memutar lagu-lagu Bang Opick bisa membuat saya termehek-mehek saking kenanya sampe ke sel-sel dalam tubuh ini ☺.
Di tahun 2016, kalimat semesta bertasbih juga mendarat telak dalam organ tubuh saya yang paling kecil dan saat itu saya ikut merasakan bagaimana angin bertasbih dan pohon-pohonpun ikut bertasbih dengan cara mereka. Sehingga ketika dalam tugas keseharian saya, mengikuti derasnya arus air dari hulu ke hilir, mendaki gunung melihat dan menikmati ciptaan Sang Pemilik Semesta, pepohonan yang seiya sekata dengan angin membuat saya mengerti bahwa semesta bersyukur dengan cara mereka. Ya, semesta bertasbih dengan cara mereka, mereka melantunkan puji-pujian dengan cara mereka untuk yang menciptakan semua itu.
Ketika planet bumi ini diciptakan, semua yang berada dalam planet bumi ini masing-masing selalu bertasbih, entah itu yang diciptakan dengan ukuran terkecil maupun sebaliknya (apalagi kita manusia). Konon katanya, dulu suhu di bumi itu semuanya masih dalam batas normal sehingga bumi menjadi satu-satunya tempat yang layak untuk ditinggal, yang kalau tidak ada gas-gas seperti CO2 dan kawan-kawan maka suhu di bumi bisa sampai minus 16 derajat celsius (saya lupa judul buku yang pernah saya baca), dan saya yakin CO2 pun selalu bertasbih dengan caranya.
Suatu ketika, saat saya mengunjungi tempat yang dulunya pernah ada sejarah bahwa disitu pernah ada gunung yang menjulang tinggi dengan tutupan lahan yang eksotis serta berbagai macam manfaat yang semua dirasakan oleh mahluk hidup ciptaan-Nya dan ketika semuanya kembali ke titik nol (versi manusia) maka siklus alam pun tetap berjalan tetap bertasbih tanpa pamrih yang kesemuanya dapat dimaknai berbeda-beda oleh setiap manusia. Ada yang pro dan ada yang kontra (ga usahlah dibahas nanti panjang, mungkin paham saja tidak cukup ☺☺karena sudah menjadi kodratnya bahwa manusia tidak akan pernah puas). Cukup dengan tidak menambah ketidak bertasbihnya mereka ke pencipta-Nya saja yang bisa kita lakukan.
Malam hari adalah kesempatan  bintang,bulan dan berbagai ciptaan-Nya untuk bertasbih dan itu adalah masa mereka, sebaliknya dengan siang hari, matahari yang merupakan aktor utama tidak henti-hentinya bertasbih dengan masa yang diberikan pencipta-Nya. Masa untuk manusia adalah kesemuanya, baik siang atau malam dan Allah Azza wa Jalla memberikan semuanya kepada manusia, mahluk yang paling disayang. Bukan ketika kita mendapat jabatan atau harta dan sesudah itu selesai jabatan dan harta maka masa kita akan berakhir,sama seperti masa nya waktu malam dan siang mereka tetap setia dengan waktu yang diberikan itu tidak pernah meleset.
Mari kita pahami hal-hal yang dapat membuat mereka berhenti sejenak untuk bertasbih dan mereka pun tetap setia bertasbih dengan memohon ampunan kepada Sang Maha Pemberi Ampun.
Buang sampah sembarangan?Buangnya kemana?Dari dalam mobil keluar dan mendarat di jalanan diterbangkan angin ke pinggir jalan dan lama kelamaan bisa  parkir diatas tanah ataupun terbang menuju sungai??sementara air yang bertasbih dari puncak gunung menuju lautan menerima sampah yang sudah tidak digunakan lagi oleh mahluk yang paling berakal dan sampah itu terputar-putar dalam genangan kumpulan air yang sedang bertasbih?? Cukup dengan tidak membuang sampah sembarangan maka kita pun akan didoakan alam (aamiiiin).
Tidak hemat energi??sementara CO2 yang sudah semakin banyak mendiami atmosfer pun akan tetap bertasbih dengan memohon untuk dikuranginya pemakaian energi dari mahluk yang paling berakal.Cukup dengan mencabut carjer ketika selesai menggunakannya atau mematikan lampu yang tidak diperlukan maka kita pun akan didoakan alam (aamiiin).
Ada banyak lagi hal-hal kecil yang bisa kita lakukan yang paling sering diabaikan oleh manusia, karena kita tidak bisa mengatur semilyar manusia yang mendiami bumi cukup diri kita saja yang kita atur untuk hal-hal kecil tersebut.
Bukan kah (sesuai judul buku) Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin??
Subhanallah....
Alhamdulillah...
Allahu Akbar.....


Rabu, 11 September
Pagi Saya Dengan Kalimat Tasbih....


_DM_

Kamis, 05 September 2019

PEMANDANGAN PAGI DI BULAN SEPTEMBER 2019

Pagi ini, masih sama seperti pagi2 kemarin,angin bertiup (kali ini musim angin selatan yang hembusannya kuenceng kadang bisa bikin mobil yang kita kendarai bagi sopir harus kuat menahan setir mobil) dan debu-debu yang beterbangan bisa membuat ISPA kita meningkat serta sinar matahari yang selalu setia menyinari bumi tanpa pamrih....
Beberapa bulan terakhir ini,saya sering membaca peristiwa kebakaran lahan yang terjadi di sekitar tempat negeri tempat saya mengabdi, bahkan sudah ditetapkan statusnya sebagai status siaga darurat.Dan ada beberapa kali juga ketika kami pulang agak malam, saya melihat kebakaran itu di sepanjang jalan pulang.
Pagi ini, pemandangan yang menguning agak keemas-emasan menghiasi lahan yang kita lewati setiap hari.Sejauh mata memandang pun yang nampak kehijauan hanyalah pegunungan yang berada di kejauhan dengan tutupan vegetasi yang rapat, mungkin kalau kita melihat lebih dekat nasibnya akan sama dengan pemandangan di pinggir jalanan atau kurang lebih sejauh mana mata kita melihatnya.
Ketika membaca Laporan IPCC (Intergovernmental Planel Climate Change atau Panel Pemerintah Antar Perubahan Iklim) seperti yang diberitakan oleh Betahita pada tanggal 12 Agustus 2019, menyatakan bahwa laporan tersebut menggarisbawahi perubahan iklim dan dampaknya terhadap degradasi lahan, keamanan pangan serta emisi gas rumah kaca dimana kekeringan, suhu panas serta kebakaran hutan adalah beberapa dampak dari memanasnya suhu bumi.Mungkin bagi yang membacanya hanya sambil lalu tidak terlalu pusing akan hal tersebut, tapi bagi yang paham akan sedih dan sangat prihatin dengan keadaan ini.
Menurut laporan juga, pada periode 2016-2017 sektor pertanian dan kehutanan diperkirakan menyumbang 23 persen dari total emisi gas rumah kaca.
Teman-teman yang belum begitu paham dengan yang namanya gas rumah kaca, simplenya nih buka google aja search gas rumah kaca pasti ada ☺
Sedikit saya sampaikan disini sumber-sumber utama emisi gas rumah kaca yang ada kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari terutama buat yang bermukim di negeri 9 matahari dan sekitarnya.
Sektor kehutanan yaitu berupa pembakaran hutan atau lahan;
Sektor pertanian berupa penggunaan pupuk dan pembakaran hasil pertanian, lahan sawah dan aktivitas peternakan.
Sektor energi, energi yang digunakan untuk kebutuhan transportasi, industri dan rumah tangga;
Untuk rumah tangga berupa bahan bakar yang digunakan untuk memasak diantaranya listrik, gas/LPG, minyak tanah, dan kayu bakar.
Untuk transportasi berupa konsumsi bahan bakar setiap jenis kendaraan.
Sektor limbah berupa TPA (sanitary landfill), tempat pembuangan sampah yang tidak dapat dikategorikan serta pengolahan dan pembuangan air limbah.
Menurut Buku Laporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Tahun 2018 pada tahun 2019 rekapitulasi inventarisasi limbah padat dan limbah cair untuk Provinsi Sulawesi Utara (Hasil Perhitungan Tim Penyusun Iventarisasi GRK Prov. Sulut 2014) pada kondisi Business As Usual (BAU) diperkirakan mencapai 492,210 ton e CO2 dimana Manado memiliki kontribusi terbesar 23% dan Bolaang Mongondow posisi ke 4 sebesar 8%. Untuk wilayah-wilayah BMR yang lain kontribusinya adalah Kota Kotamobagu 5,3%, Boltim 2,4%, Bolmut 2,4 % dan Bolsel 2,1% yang kalau dijumlahkan keseluruhan BMR bisa mencapai 20.3 % nyaris mendekati posisi pertama yang dipegang oleh Kota Manado.
Berdasarkan data dari Sign Smart  Direktorat Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring, Pelaporan dan Verifikasi untuk Grafik Total Emisi sampai dengan tahun 2014 sektor lahan merupakan total emisi yang terbanyak sedangkan untukSulawesi Utara secara keseluruhan selain  sektor lahan sektor energi juga merupakan penyumbang emisi terbesar.
Ini data dari tahun 2014 alias 5 tahun yang lalu.Dan wajar saja untuk sekarang panasnya semakin semakin panas sampai beberapa kali lipat.Dan bisa jadi juga emisi dari semua sektor semakin semakin naik...(So dapa rasa skali awu.......☀☀☀).
Dan kalau kita masih acuh tak acuh, tak peduli dengan keadaan ini maka kiamat kecil pun semakin lama semakin membesaaaaaar......
Berbagai usaha dan solusi sudah dilakukan terutama sosialisasi kepada masyarakat bahwa jangan membakar lahan secara sembarangan di musim panas yang ekstrim ini,akan tetapi tetap saja mereka kumabal dan akan kah kita setiap hari kesana kemari bak pemimpin demo untuk memberitahukan kepada mereka jangan membakar sembarangan di musim panas ini??????(kalo ada yang mo suka coba..silahkan....).
Keseimbangan itu sejak jaman dahulu kala selalu ada tapi karena keegoisan dan ke-antropogenik-an manusia sebagai mahluk ciptaan yang paling berakal maka disitulah letak kiamat dunia....
Mungkin ketika alam akan memberi pelajaran baru mahluk yang disebut sebagai manusia akan benar-benar sadar dan bertobat.
Oh ya, hal kecil yang bisa kita lakukan untuk mengurangi panasnya bumi kita yaitu salah satunya adalah hemat energi, kalo so abis pake itu carjer no cabu akang kasiang dari depe strom tetap ba jalan, matikanlah lampu yang tidak diperlukan (ini banyak sx au dimana-mana tenga hari tua lampu tetap ada pasang) dengan jangan buang sampah sambarang (nda usah jo mo cumu itu sampah2 yanga ada dimana-mana dari mou deng malaikat pencabut nyawa so ada itu).
Yang lain bisa cari sendiri dan jangan sok tidak peduli ne karena bumi ini bukan milik anda seorang bukan milik keegoisan anda seorang karena dampaknya yang bisa merasakan adalah kita semua gaaaaiiiiis.....eh ada yg lupa, biasanya juga doa-doa orang teraniaya langsung menembus atap langit..dan bisa jadi juga Allah memberikan pelajaran bagi mereka yg doa-doa orang teraniayanya di dengar.....sekarang aja Allah dah memberi kita pelajaran dengan musim panas yang dah berapa bulan ini dan kalau semakin lama air akan berkurang maka genaplah sudah semua...
Bukankah kita diberi akal agar dapat membaca semuanya..???

Jumat, 6 September 2019
Siang Yang Membara Di Ruangan Belakang Saya
Kantor Ku Sayang Kantor Ku Malang



_DM_