Jumat, 22 Januari 2021

CERITA SAYA TENTANG COVID 19


Hari kelima saya di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Manado yang berlokasi di Malalayang. Bapelkes ini merupakan Rumah Singgah untuk menampung pasien yang positif virus corona. Selasa 19 Januari 2021 kemarin, hasil SWAB suami dari RS.Prof Kandou positif. Suami sejak tanggal 8 Januari 2021 kembali memeriksakan diri di RS. Prof Kandou untuk operasi selanjutnya (pengangkatan kandung empedu), dimana tanggal 1 Desember 2020 sudah menjalankan ERCP (endoscopic retrograde cholangiopancreatography). ERCP adalah pemeriksaan untuk mendiagnosis masalah pada organ hati, kandung empedu,saluran empedu dan pankreas. Batu kandung empedu sudah masuk ke saluran empedu sehingga dilakukan pemasangan stent/ring/cincin di saluran empedu. Dan setelah selesai operasi Desember kemarin, suami disuruh balik lagi bulan Januari untuk operasi selanjutnya yaitu pengangkatan kandung empedu. Rabu, 13 Januari merupakan SWAB yang kedua karena november kemarin juga sudah pernah di SWAB (syarat untuk dilakukan operasi) dan hasilnya negatif ketika itu. 
Kami berdua, setelah menerima hasil selasa siang langsung mengambil keputusan untuk mengisolasikan diri di Rumah Singgah Pasien Covid Bapelkes. Mengingat rumah keluarga di Tateli ada anak2 dan ponakan2 serta kakak2 ipar yang umurnya sudah diatas 50-an. 
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 Tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID 19), definisi operasional untuk suami saya adalah Kasus Konfimasi yaitu seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi virus COVID 19 yang dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium RT-PCR. Kasus konfirmasi dibagi menjadi dua, yaitu kasus konfimasi dengan gejala (simptomatik) dan kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik). Suami saya masuk dalam Kasus Konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik) sementara saya masuk dalam istilah Kontak Erat yaitu orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi Covid 19. Saya sendiri di SWAB esoknya setelah masuk di Bapelkes (Rabu, 20/01/2021) dan hasilnya jumat kemarin dinyatakan negatif termasuk semua keluarga di Tateli.

Sejak pandemi ini berlangsung, suami termasuk orang yang sangat hati-hati bahkan boleh dibilang paling takut dengan Corona. Padahal menurut Keputusan Menteri Kesehatan yang diatas, berdasarkan studi epidemiologi dan virologi saat ini membuktikan bahwa Covid 19 utamanya ditularkan dari orang yang bergejala (simptomatik) ke orang lain yang berada jarak dekat melalui droplet. Droplet merupakan partikel berisi air dengan diameter >5-10 ΞΌm. Penularan droplet terjadi ketika seseorang berada pada jarak dekat (dalam 1 meter) dengan seseorang yang memiliki gejala pernapasan (misalnya, batuk atau bersin) sehingga droplet berisiko mengenai mukosa (mulut dan hidung) atau konjungtiva (mata). Ini artinya kenapa kita dianjurkan Pemerintah untuk menggunakan masker, agar supaya mulut,hidung dan mata kita tidak terkena droplet dari seseorang yang sudah terinfeksi.
Penularan juga dapat terjadi melalui benda dan permukaan yang terkontaminasi droplet di sekitar orang yang terinfeksi, yang artinya juga kita harus wajib untuk selalu mencuci tangan agar benda dan permukaan yang tanpa sengaja kita sentuh berpotensi untuk menularkan virus Covid 19 telah bersih dari tangan kita. Penularan virus Covid 19 dapat terjadi melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi dan kontak tidak langsung dengan permukaan atau benda yang digunakan pada orang yang terinfeksi (misalnya, stetoskop atau termometer). Nah, jelaskan cara penularan dari corona virus ini? Ini bukan saya yang bilang, tapi isi dari Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia yang disahkan pada tanggal 13 Juli 2020. Oh ya, corona ini juga sensitif terhadap sinar ultraviolet dan panas (sehingga penduduk Bapelkes selalu dianjurkan untuk olahraga pagi dan berjemur) dan efektif dapat dinonaktifkan dengan pelarut lemak (lipid solvents) seperti eter, etanol 75%,  ethanol, desinfektan yang mengandung klorin, asam peroksiasetat dan khloroform (kecuali khlorheksidin) atau yang paling sering kita dengar desinfektan-lah (orang awam yang dah biasa main ke rumah sakit pasti bisa merasa lewat indra penciuman) atau sejak corona mulai beraksi maka kita sudah terbiasa dengan cairan2 kimia ini.  
Oh ya,menurut Keputusan Menteri Kesehatan ini, corona virus itu dapat bertahan selama 72 jam atau 3 hari pada permukaan plastik  dan stainless steel, < 4 jam pada tembaga dan < 24 pada kardus. Justru itu kita harus waspada terhadap peralatan yg terbuat dari bahan2 diatas, yang tentu harus rajin disemprot dengan desinfektan biar alergi coronanya.

Kehidupan di Bapelkes, pagi sekitar jam 06.30 sampe jam 09.30 merupakan waktu2 untuk berolahraga, sebelumnya kami diukur suhu, diperiksa tekanan darah serta denyut nadi atau istilah medisnya Pemeriksaan TTV (Tanda-Tanda Vital). Pagi jam 06.30, siang sebelum jam 12-an dan sesudah magrib makan malam dah siap diambil di nurse station bagian depan (makanan kotak plus sebotol air mineral). Semalam merupakan makan malam terlama yg diterima karena banyak bencana banjir di Manado sehingga pendistribusian makanan menjadi terlambat, para nakes yang bertugas langsung sigap dengan membeli roti dan aqua botol di retail yg dekat dengan lokasi Bapelkes untuk didistribusikan ke penduduk Bapelkes. 

Ada beberapa pengalaman yang seru bagi saya selama disini, serunya saat saya bertanya kepada petugas pengangkut sampah tentang berapa lama sampah diangkut selama seminggu ? Jawabannya ?? "dorang yg taruh disitu" sambil berjalan acuh menuju dump truck. Saat rabu kemarin mau di SWAB di Dinas Kesehatan Provinsi, sy diangkut dengan mobil ambulance dengan dua petugas yg menggunakan APD lengkap dan tanpa antri lama-lama langsung di SWAB, saat saya dan suami mau mengambil barang2 di Tateli untuk dibawa ke Bapelkes, keluarga disana semua menjaga jarak yang cukup jauh dan tetap memberi suport, hanya anak2 yg berani datang mendekat (saya dan suami sendiri yg berusaha menjaga jarak) πŸ˜„ belum lagi teman2 kantor yang pada parno dengan Covid 😁😁😁. Santai aja bro/sis, baca baik2 tuh aturan diatas gimana proses penularan virusnya kalo sampe ada yg belum paham berarti mainnya hanya dari kamar ke kamar mandi aja πŸ˜™pleaseee deeeh jangan terlalu paranoid, sini saya kasih tau yah, si kopit tuh paling suka deketan sama manusia yang takutnya berlebihan, swear..!!! Saya sejak masuk disini yakin aja nda kena kopit, olahraga sama2 dengan mereka yg positif covid, foto bareng dengan mereka (tetap pake masker) aman-aman aja dan hasilnya negatif. Dan kejadian itu bukan hanya di saya, ada juga beberapa orang yg mengalami hal tersebut. Selama tidak menunjukkan gejala umum seperti demam, rasa lelah, batuk kering dan beberapa pasien mengalami rasa nyeri dan sakit, hidung tersumbat, pilek, nyeri kepala, sakit tenggorokan, diare serta hilang penciuman (ini isi dalam Permenkes ya) maka kita termasuk orang yang kuat. Iya,harus kuat dong, yang bisa membentuk antibodi itu adalah pikiran sehat kita sendiri.

Asiknya di Bapelkes ini adalah saya dan suami jadi rutin berolahraga di pagi hari, biasanya sih saya olahraganya ketika lagi bersih-bersih rumah aja atau saat turun lapangan naik gunung turun gunung (kangeeen niih), tapi disini wajib setiap pagi. Saya selalu pasang target menambah 500 langkah setiap hari (tadi dah sampe di 2000 langkah). Disini juga dibentuk group WA dengan berbagai macam kejadian yang menghiburkan, dimana pasien yg dah selesai isolasi pamitan dan dikeluarkan dari group oleh admn (petugas nakes).

Hal positif lain yang saya dapat disini, yaitu saya jadi tau jenis penyakit saya. Disini setiap pagi dan malam selalu diukur tekanan darahnya, dan saya salah satu yang memiliki tekanan darah tinggi. Saya berpikir setiap sakit kepala disebabkan karena saya kurang beristirahat dan hanya bisa sembuh ketika saya istirahat (dulu semasa kuliah saya selalu menderita anemia), ternyata saya salah sakit kepala yg saya rasakan hari ketiga disini adalah tekanan darah tinggi.Warbiyasah, 43 tahun hidup di dunia belum pernah tekanan darah saya sampai 167!!dan tekanan darah terendah saya selama disini 135. Padahal yang paling tinggi selama ini hanya sampe 120. Ada beberapa teman dan keluarga bilang penyebabnya karena setres di isolasi disini πŸ˜€πŸ˜€.
Mungkin kasusnya bisa berbeda pada setiap orang, kebetulan kalo di saya jauh dari kata setres, lah wong sy kemari bawa buku banyak, bagi yang suka membaca pasti hal ini adalah sesuatu yang sangat mengasikkan, menghabiskan waktu hanya dengan membaca atau kalo pulsa datax banyak ya bisa nonton drakor doooong πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ belum lagi kerjaan-kerjaan kantor yang belum selesai semuanya bisa dirampungkan disini, kata suami yang bikin saya naik darah disini karena tagihan2 bulanan seperti indihome yang belum dibayar karena gaji masuk nnti tanggal 21 kemarin 😚.
Wallahualam...yang pasti menjadi sehat itu adalah pilihan. Berani meninggalkan kebiasan kita yang berpotensi besar menyebabkan penyakit adalah sesuatu yang tidak gampang, butuh waktu untuk melakukannya, asalkan jangan sampai waktunya baru kita mau untuk berbuat. Hari ini saat saya menulis ini saya berusaha untuk meninggalkan kebiasaan buruk yang merupakan salah satu faktor penyebab penyakit tekanan darah tinggi, semoga bisa berhasil.

Oh ya, ada beberapa hal yg ingin saya sampaikan buat temans, kalo bertemu atau tau tetangga kita, sodara kita, orang dekat kita yang ketika hasil RT-PCR nya bilang positif dan sudah diisolasi serta sudah dilakukan tes RT-PCR lagi dan hasilnya negatif, jangan perlakukan orang itu seperti melihat monster atau kuntilanak, swear biasa-biasalah sepanjang kita menerapkan protokol kesehatan yakin saja kita akan tetap sehat. Kita tidak tau kalo orang itu sudah memiliki Herd Immunity bukan??Kali aja suatu saat anda yg akan didatangi si Kopit dan orang itu sudah jauh dari Kopit karena dah memiliki Herd Immunity-nya, bukankah bisa berbalik pada anda kejadiannya yang mungkin orang lain akan membalasnya..Tuhan itu Maha Adil Bukan ???? πŸ™πŸ™πŸ™


Manado, Sabtu 23 Januari 2021
     SALAM SEHAT

   _ DM_